Sarapan Martabak vs Mie Pangsit

Jambi ibarat pelangi budaya. Beragam suku dan budaya hidup mewarnai provinsi di tengah Sumatera ini. Salah satu wujud keragaman budaya  itu terlihat pada menu makanan yang bervariasi. 

Tinggal selama tujuh tahun di Jambi di 3 kota yang berbeda memberikan pengalaman kuliner berkesan dalam hidup saya. Kali ini saya akan berbagi tentang  menu sarapan di 3 kota yang pernah saya tinggali di Jambi.

Sungai Penuh/Kerinci

Di kota ini banyak pendatang dari Sumatera Barat. Menu sarapan yang umum adalah katupek (ketupat) dengan sayur gulai cubadak (nangka) atau paku (pakis) dan sate Padang. Sate Padang ini ada dua jenis. Sate kuah merah (Pariaman) dan sate kuah kuning (Padang Panjang). 

Awalnya agak aneh mencecap katupek yang bercita rasa pedas. Karena lidah saya belum terbiasa menerima makanan pedas, pilihan jatuh pada sate Padang. Di Jawa sate biasanya dimakan siang atau sore. Di Sungai Penuh, sate bisa dimakan sebagai sarapan, makan siang bahkan makan malam.

Sate kuah kuning saya suka karena tidak pedas. Salah satunya sate Kamek di jalan Depati Parbo. Namun, saya paling suka sate kuah merah tepatnya sate Amir di jalan Muradi,  sebelah Hotel Yani. Bumbunya sangat terasa baik daging dan kuahnya. Dibakar pakai arang dari kayu manis jadi daging berbau harum, tidak sekedar bau gosong. Bawang merahnya banyak.

Pindah ke Bangko, saya belum nemu sate Padang seenak sate Amir. Kalau ada teman datang dari Sungai Penuh, sayapasti nitip nitip sate Amir

Bangko


Nasi gemuk, foto dipinjam dari sini.

Sarapan mainstream di Bangko tak jauh beda dengan kota-kota lain di Jambi, nasi gemuk. Nasi gemuk ini nasi gurih yang dimasak pakai santan. Masaknya pakai pandan jadi beraroma harum. Pelengkapnya berupa telur rebus, teri kacang, ketimun dan kerupuk. Mirip dengan nasi uduk Jakarta atau nasi lemak.

Tak ada alasan pasti kenapa dinamakan nasi gemuk. Bisa jadi karena mengandung lemak dari santan, bisa bikin gemuk jika dimakan tiap hari hahaha. Waktu saya tinggal di Palembang, nasi gemuk ini sangat mudah dijumpai. Mungkin karena Jambi dan Palembang itu bertetangga :p

Nasi gemuk di Bangko sarapan sejuta umat. Mudah ditemukan dimana-mana, tiap ruas jalan pasti ada yang jual nasi gemuk. Harganya murah hanya 5k jika tanpa telur. Favorit saya nasi gemuk RM Lestari jalan Hasanuddin, dekat rumah.

Selain nasi gemuk, menu yang sering ditemukan yaitu lontong sayur. Isinya lontong, telur rebus, kerupuk disiram gulai nangka. Sayangnya, demi alasan kepraktisan, banyak pedagang yang membuat lontong dibungkus plastik, bukan daun 😦 Makanya saya lebih sering beli nasi gemuk ketimbang lontong.

Muara Bungo

Awal tinggal di Muara Bungo, menu sarapan saya tak jauh-jauh dari nasi gemuk, lontong sayur, bubur ayam atau soto.

Atas info teman saya, berangkatlah saya ke kawasan Pasar Bawah, tepatnya di jalan Mesjid. Dua khasanah kuliner Muara Bungo menunggu untuk dicicipi. Meski namanya jalan Mesjid, kawasan ini bisa dibilang Chinatown-nya Muara Bungo.

Pertama martabak Malabar. Martabak yang biasa buka sore hingga malam hari dijual di gerobak, di Muara Bungo biasa disantap saat sarapan.

Martabak Malabar ‘bergenre’ martabak telur. Sekilas mirip martabak biasa, hanya saja isinya bukan daging atau daun bawang melainkan kentang rebus. Dimakan dengan cairan mirip cuko dan kari kambing. Daging kambing dipotong dadu berenang dalam kuah kari yang kental. 

RM Malabar hanya menyediakan martabak. Bisa pesan martabak biasa atau tambah telur. Maksudnya martabak biasa yang diselimuti telur dadar. Menu lain yaitu roti telur. Saya belum pernah pesan roti telur jadi tak tahu bentuknya seperti apa. Porsinya nanggung, jadi setiap pesan Malabar, pulangnya saya selalu makan nasi hehe.

Tempat ini buka dari pagi sampai malam. Buat kamu yang tak biasa sarapan martabak, bisa kesini waktu sore atau malam hari.  Menempati ruko kayu jadul. Kata teman saya, Malabar salah satu kuliner legendaris yang sudah bertahan puluhan tahun.

Di beberapa tempat di Muara Bungo, ada beberapa rumah makan yang memakai nama Malabar. Contohnya Malabar a, Malabar b, Malabar c dst.  Namun, pioner Malabar ya yang di jalan Masjid ini.

Tepat di seberang Malabar, berdiri legenda kuliner Muara Bungo yang lain: mie pangsit. Dari arah masjid raya Muara Bungo, martabak berada di sebelah kiri. Nah, mie pangsit Ahui berada di kanan jalan.

Menempati ruko tua yang jadul. Menu yang ditawarkan koh Ahui, pemilik mie pangsit Ahui beragam, nasi gemuk, nasi goreng, lontong sayur, bubur ayam, mie tiaw, dan sang andalan: mie pangsit. Khusus hari Minggu tersedia nasi minyak.

Mie pangsit di Jawa menurut versi istri saya yang penggemar mie berupa mie ayam, pangsit berisi ayam dan kuah sup yang disajikan terpisah.

Mie pangsit di Ahui mienya kecil, keriting dan agak kenyal. Ayamnya dipotong kecil-kecil, tidak terlalu banyak. Pangsitnya hanya dua potong. Satu pangsit goreng berukuran kecil dan pangsit rebus yang ditaruh terpisah bersama kuah. Pangsit rebusnya plain, tanpa isian. Kuahnya berupa sup bening berisi dua buah bakso ikan dan sawi. Sebagai pelengkap diberikan saus cabe.

Satu porsi mie pangsit dibandrol 15k, bisa dimakan 2 orang karena sangat banyak mienya. Saya selalu pesan setengah porsi seharga 13k. Untuk menambah aroma, biasanya saya meminta toping tambahan berupa bawang putih goreng.

Mie pangsit lain di Muara Bungo yaitu Aroma. Letaknya hanya 200meter dari Ahui. Di simpang jalan Dahlia dan jalan Kamboja / Merdeka. Tempatnya lebih kecil dari Ahui tapi sama ramainya.

Buat saya agak susah menentukan enakan Ahui atau Aroma karena enak semua 😀. Hanya saja ayam di Aroma sedikit lebih banyak dan kuahnya pakai tambahan tahu putih. Tapi saos cabe punya Aroma baunya lebih tajam, lebih sedap punya Ahui.

Baik Ahui atau Aroma ini HALAL jadi bisa dinikmati bagi yang Muslim. Jangan datang terlalu siang. Kalau lagi rame datang jam 10 aja mie pangsit udah habis. Kawan kantor saya sering sarapan disini. Saya sendiri bisa seminggu 2x sarapan mie pangsit.

Selain Ahui dan Aroma, mie pangsit lain di Muara Bungo berada di jalan Sri Sudewi Simpang PU Lama. Di samping RM Taragak Salero. Hanya saja, beberapa kali lewat sini selalu tutup.

Bagi yang menginginkan mie pangsit nonhalal alias pakai nguik nguik bisa ke mie pangsit Alam di di jalan Durian/ Lebai Hasan. Dari arah lampu merah/tugu Adipura sebelah kanan jalan sebelum pempek Olivia. Buka dari pagi sampai malam. 

Biar tidak kepanjangan, versi lengkap sarapan di Muara Bungo akan saya tulis terpisah. 🙂

4 Comments Add yours

  1. Deddy Huang berkata:

    menu sarapannyo menarik. langsung berat hehe..

    kalau aku suka mie pangsit kayaknya pas buat sarapan pagi.. minum kopi susu.

    bangunan tempat juala itu kalau bukan rumah buat jualan, itu bagus jadi rumah cagar budaya. lanskapnya bagus.

    1. Avant Garde berkata:

      di palembang mie pangsit dimana koh? pengenlah cobain… tp pempeknya gak bakal diskip sih haha 🙂

      dari angle tertentu chinatown ini cakep buat foto-foto, banyak bangunan lawas

      1. Deddy Huang berkata:

        Aku suka mie pangsit manalagi hehe

        1. Avant Garde berkata:

          noted, thanks koh 🙂

Pembaca yang budiman akan meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s