Persawahan Padang Laweh Malalo

Melawat Sumatera Barat ibarat menikmati lukisan alam ciptaan Tuhan nan indah. Sumatera Barat tak hanya tentang destinasi atau tujuan, melainkan perjalanan menuju destinasi itu sendiri. Belum sampai di tujuan, di sepanjang perjalanan mata dimanja dengan hamparan sawah, perbukitan, rumah gadang beratap runcing. 

Beberapa waktu lewat saya bersama rombongan kantor menghadiri acara pernikahan salah seorang rekan, Gina, di Malalo. Kampung kecil di tepi danau Singkarak, tak jauh dari kota Padang Panjang.

Malalo atau lengkapnya Padang Laweh Malalo sebuah nagari di Batipuh Selatan, pemekaran dari kecamatan Batipuh, kabupaten Tanah Datar. Nagari merupakan wilayah otonom setingkat desa di Sumatera Barat. Pemimpinnya disebut Wali Nagari.

Batipuh atau Batipuah disebut dalam novel karya Buya Hamka yang diangkat ke layar film: Tenggelamnya Kapal Van der Wijk. Dikisahkan Hayati, seorang gadis asli Minangkabau yang tinggal di tepi danau di Batipuh yang jatuh cinta pada Zainuddin, pemuda campuran Bugis dan Minangkabau.

Meski dalam film menyebut daerah Batipuah, informasi di dunia maya menyatakan sebenarnya lokasi syuting mengambil lokasi di Kamang, dekat Bukittinggi. Danau yang tampak pada film adalah danau Tarusan Kamang, bukan Singkarak.

Dari arah Padang Panjang, bus melaju ke arah Solok. Sebelum mencapai danau Singkarak, masih wilayah Tanah Datar, bus belok kanan ke arah PLTA Danau Singkarak. Sepanjang jalan masih bisa dijumpai kantor pemerintah, rumah warga, sekolah yang beratap bagonjong khas Minang. Danau Singkarak merupakan ikon Tanah Datar. Berbeda dengan Singkarak di sisi jalan arah ke Solok yang ramai dengan berbagai rumah makan, spot wisata, Singkarak di sisi Malalo ini lebih tenang, penduduknya tak terlalu banyak, rumah-rumah tak serapat di seberangnya, gairah pariwisata juga tak terlalu menonjol.

Satu-satunya denyut pariwisata terdapat pada sebuah hotel lama di tepi danau, Singkarak Sumpur.  Sekilas tidak terlalu ramai pengunjung. Menurut penuturan Gina, hotel ini berbintang. Tanda bahwa Singkarak (pernah) menjadi obyek wisata favorit di Sumatera Barat. 

Perjalanan menuju Malalo ibarat menikmati negeri dongeng, Danau Singkarak dihiasi bukit dan gunung serta sawah yang menguning indah. Saat jalan yang dilalui tepat berada di tepi danau, danau Singkarak seperti lautan luas. Singkarak merupakan danau terluas di Sumatera Barat. Membentang di antara dua kabupaten: kabupaten Tanah Datar dan Solok. Singkarak memiliki ikan endemik yang bernama ikan bilih, rasanya mirip wader kalau di Jawa, bedanya bilih lebih juicy dan berminyak.

 

Kami tiba di lokasi pesta yang mengambil tempat di aula sebuah gedung sekolah di Malalo. Seperti acara resepsi pernikahan di kebanyakan daerah di Sumatera Barat, acara digelar secara prasmanan. Konsepnya tamu datang, mengisi buku tamu dan tak lupa mengisi angpau, makan prasmanan, baru bersalaman dengan marapulai dan anak daro (pengantin), foto dengan pengantin, baru pulang.  Berbeda dengan resepsi di Jawa yang kita salaman dengan pengantin terlebih dulu baru makan prasmanan.

Jika dekorasi pelaminan di Muara Bungo didominasi tema minimalis modern, pelaminan adat Minang masih menampilkan kain-kain tradisional khas Minangkabau.

Lihat juga: Tradisi Piring Terbang pada Pernikahan Adat di Solo

Saya terkesan dengan para penyambut tamu atau pager ayu yang mengenakan tutup kepala khas Tanah Datar. Dari penelusuran di intenet, tutup kepala tersebut bernama tingkuluak balenggek, tutup kepala dari daerah Lintau, salah satu nagari di Tanah Datar.

Tutup kepala perempuan Minang (tingkuluak) mengadopsi atap rumah gadang. Jika tingkuluak Minang umumnya hanya sepasang, tingkuluak model Lintau berjumlah dua pasang. Melambangkan sifat kehati-hatian perempuan Lintau dalam membina rumah tangga dan berkehidupan.


10 respons untuk ‘Persawahan Padang Laweh Malalo

  1. Waaaa, kereen…

    lebaran 2017 kalau ga salah, naik motor keliling danau singkarak… foto sawah di pinggir danau lebih indah di sisi malalo batipuh ketimbang di sisi solok krn jalan raya ombilin solok di pinggir danau…

      1. Kalau lebih sepi iya, tapi kalau lebih eksotis,kayanya lebih eksotis paninggahan… nagari setelah malalo ke arah solok (wilayah solok), lebih buanyaak rumah gadangnya… dan sebagian kampungnya jauh lebih tinggi dr permukaan danau. Jadi foto sawah di tepi danau juga sangat indah..

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s