Apa Kabar Air Terjun Tengaran?

“Sekarang sepi ya Gus?” tanya saya di atas motor.
“Sepi.” jawab Agus lirih yang membonceng saya.

Saya lihat banner bertuliskan nama Curug Belondo yang sudah kumal. Kotor dan robek-robek. Tulisan Sapta Pesona yang berada di bawahnya tak terlalu jelas dibaca. Pos penjualan tiket yang berada di tepi jalan lintas Klero-Regunung seakan sudah lama tidak dihuni manusia.

Agus, kawan satu sekolah saya menaruh motor tidak jauh dari jalan yang sudah disemen. Saya ingat pertama kali ke air terjun Grojogan beberapa tahun silam, jalan permanen ini belum ada. Masih berupa tanah. Sepi belum terdengar bahkan masuk peta wisata Kabupaten Semarang. Hanya warga kampung setempat yang datang ke tempat ini.

Berangkat dari potensi yang ada, beberapa pemuda desa setempat mengembangkan air terjun Grojogan. Jalan dibuat permanen. Jembatan menuju air terjun dibuat. Disiapkan tempat parkir dan pos penjualan tiket. Kelompok Sadar Wisata dibentuk untuk mengelola obyek wisata ini secara profesional. Air terjun Grojogan lantas diperkenalkan menjadi Curug Blondo.

Curug Blondo satu-satunya air terjun di wilayah Semarang Selatan. Lokasinya di dusun Krajan desa Regunung kecamatan Tengaran.

Kami menuruni jalan setapak dari semen. Seingat saya jalan ini dulu berupa tanah berlumut yang cukup licin. Kurang nyaman dilewati apalagi saat habis hujan. Sepanjang jalan saya tak menjumpai siapapun. 

 

Lebaran kemarin saya main ke rumah teman saya Agus di Regunung, Tengaran. Agus sahabat saya sejak sekolah. Agus menjadi saksi bagaimana tempat ini awalnya sepi, ramai di media sosial, hingga saat ini kembali sunyi.

Dari kejauhan tampak tebing dihiasi air terjun berwarna putih. Hamparan sawah di sekujur lembah menjadi suguhan awal sebelum tiba di air terjun. Warga desa ini bertanam padi mengandalkan air dari sungai Serang yang juga menjadi sumber air terjun. Sebuah pondok sengaja dibangun sebagai tempat istirahat pengunjung. Tak ada siapapun di sawah, hanya saya dan Agus.

Kami harus menyeberangi sungai menuju air terjun. Dulu jika air sungai naik orang tak bisa menjangkau air terjun. Kini sudah ada jembatan bambu untuk memudahkan pengunjung ke air terjun. Sayang, minimnya pengunjung membuat jembatan bambu ini kian lama rusak. Salah satu sisi pegangan bambu hanyut ditelan sungai dan lantai jembatan miring. Agak takut sebenarnya melewati jembatan ini.

 

Tiba di air terjun, saya membuka atasan dan membasahi diri di kolam kecil di kaki air terjun. Agus tak ikut mandi. Saya merasakan kesegaran saat air membasuh kepala dan punggung. Saya masih heran, mengapa tempat seindah ini kini ditinggalkan?

Iklan

4 Comments Add yours

  1. Firsty Chrysant berkata:

    Alam kaya gini aku suka nih… Jadiingat waktu sekolaan suka hiking…

    Sampai waktunya pulang masih berdu aja di sana gitu?

    1. Avant Garde berkata:

      Iya kak, jadinya kayak orang pacaran aja jadinya wkwwkwkw 🙂

  2. Avant Garde berkata:

    betul sekali bang, orang kalo mau kesini jembatannya rusak juga bakal mikir bang 🙂 promosi medsos sdh dilakukan, tp tetap saja sepi…

  3. Bang Harlen berkata:

    Wahh wisata alam gini yang aku suka.. sawahnya itu bikin ga tahan.. hhhehehe

    Hmm mungkin menurutku perlu sedikit renovasi lagi mas.. jembatannya juga sepertinya sedikit berbahaya.. coba jembatannya sedikit diperbaiki.. trus coba promosi di sosial media lebih ditingkatkan lagi.. mungkin cerita bisa lain mas..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s