Diguyur Hujan di Tegal

Nanti turun dari kereta cari tempat makan di stasiun atau alun-alun. Lanjut jalan kaki ke masjid agung. Habis ibadah Dhuhur di masjid agung baru nanti dipikirkan mau makan dimana  dan jalan kemana.

Demikian rencana awal saya di Kota Tegal. Saat harus transit sekitar 2 jam karena berganti kereta api dari Kamandaka tujuan Semarang Tegal. Dilanjutkan ke Jakarta dengan kereta Tegal Bahari.

Turun dari kereta saya bergegas ke luar stasiun. Langit berwarna kelabu memayungi Tegal. Dialek ngapak memenuhi telinga menimbulkan atmosfir jenaka yang tak pernah saya dengar sebelumnya. Saya putuskan naik becak menuju masjid agung yang berjarak 750meter menurut aplikasi peta.

Iklan teh poci menghiasi jalanan menuuju masjid agung. Selain warteg dan bahasa ngapak, Tegal juga dikenal menjunjung tinggi budaya minum teh, terutama teh poci.

Hujan deras tiba-tiba mengguyur bumi. Saya menutup bagian depan becak dengan plastik  yang tadinya digulung di atas atap becak. Dari balik plastik, saya bisa mengintip salah satu ikon Tegal yaitu tugu pancasila yang berhias kolase, dan di atasnya bertengger burung Garuda berwarna keemasan. 

Pintu gerbang Balaikota Tegal terlihat di sebelah kanan. Seperti apa ya wujud kantor Walikota Tegal? Ini kali kesekian saya menginjakkan kaki di kota ini. Sayang, saat benar-benar berniat menjelajahi kota ini, Tuhan berbaik hati mengirimkan hujan untuk saya. 

Seperti kota-kota lain di Jawa Tengah, pusat kota Tegal terdiri dari alun-alun yang di dekatnya berdiri masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan bersanding dengan balaikota sebagai pusat pemerintahan.

Alun-alun Tegal dihiasi sebuah bangunan mirip panggung atau gazibu beratap biru. Tak jelas apa fungsi bangunan ini. Sekilas mengingatkan saya dengan fungsi gardu pandang atau panggung terbuka mini. Beberapa orang berteduh di ceruk kecil di bawah panggung tersebut. 

Masjid berwana hijau bernuansa modern menjadi tujuan akhir saya. Masih dalam hujan deras, saya menyerahkan uang dua puluh ribu kepada pengemudi becak tersebut. Demi mengantar saya ke masjid agung, bapak pengemudi yang renta rela berbasah kuyup. Hujannya awet, langit kota Tegal tak berhenti diguyur air. 

Hujan membuat banyak orang berlindung di masjid agung. Saat jam sholat tiba, sekelompok orang berseragam warna khaki menyemarakkan suasana masjid agung.

Sedikit kejutan menemukan ‘mainan’ berupa manhole di depan masjid agung. Dibuat tahun 2017 bergambar lambang kota Tegal. Saya cuek saja beberapa orang melihat saya dengan heran berpose di atas manhole.

Dengan ojek online, saya kembali ke stasiun Tegal. Masih hujan, gerimis mengiringi saya kembali ke stasiun. Tegal, tak banyak yang bisa saya ceritakan tentangmu. Tiba-tiba saya teringat belum makan siang. Duh, sepertinya saya tidak ada pilihan lain selain makan siang kesorean di stasiun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s