Prasasti Pariangan di Desa Tercantik di Dunia

Pariangan menjadi persinggahan kami selepas dari kota Batusangkar ke arah Padang. Kebetulan hari Jumat sehingga kami berencana akan beribadah Jumat disana.

Pariangan dalam legenda Minang merupakan desa yang pertama kali dihuni oleh orang Minang. Sebelum akhirnya menyebar ke seluruh penjuru Sumatera Barat. Pada tahun 2012, majalah BudgetTravel dari Amerika memasukkan Pariangan sebagai satu dari 35 desa terindah di dunia, bersanding dengan Shirakawa-go di Jepang, Cesky Krumlov di Ceko dan Cappadocia di Turki.

Pariangan menyambut kami dengan meriah. Hamparan padi menguning menjadi penyambut tamu siapapun yang singgah ke Pariangan. Jalan masuk ke desa Pariangan hanya cukup dilewati oleh satu buah mobil. Kami agak kesulitan menemukan tempat parkir. PR bagi tempat yang diakui dunia sebagai desa wisata ini. Sebuah baliho besar di sudut kampung menampilkan beberapa spot wisata di Pariangan. Jumlah spot di desa ini tak seperti yang saya duga. Untuk menjelajahi semua spot sepertinya akan membutuhkan waktu seharian. Sebagai sebuah tempat yang menjadi asal usul suku Minangkabau, Pariangan telah bermetamorfosis menjadi tempat wisata sakral bagi orang Minangkabau ataupun bagi siapa saja yang tertarik dengan sejarah suku Minangkabau.

Tak jauh dari tempat kami memarkir mobil terhampar rerumputan dengan tatanan batu-batu dan tanaman. Saya pikir taman. Rupanya ini adalah makam Datuk Tantejo Gurhano, arsitek situs Balairung Sari Tabek. Kuburannya sepanjang 25,5 meter sehingga disebut Kubur Panjang. Beliau dipercaya merupakan orang pertama yang membuat rumah gadang dengan atap runcing sebagaimana yang kita kenal sebagai gonjong seperti saat ini.

Tepat di depan makam Datuk Tantejo Gurhano adalah rumah gadang Datuk Bandaro Kayo. Tutup dan sepi tak ada orang. Jujur saya agak merinding melihat rumah ini dari luar. Skip dulu.

Kami melewati jalan setapak dari semen menuju Masjid Ishlah. Masjid tertua di Pariangan yang memiliki tiga tingkat khas Minang.


masjid Ishlah dari prasasti Pariangan

Sejauh mata memandang rumah-rumah beratap runcing berdiri hingga kejauhan. Sambil menunggu waktu sholat, kami beranjak ke situs Prasasti Pariangan yang berada di atas bukit tak jauh di sebelah masjid. Gerimis turun. 

Peninggalan raja Adityawarman ini diperkirakan berasal dari abad ke-14. Sekilas mirip tumpeng, hanya saja lebih bantat. Sayang tulisan di prasasti ini telah aus saat ditemukan sehingga susah dibaca. Hanya menyisakan sedikit tulisan yang akhirnya membuat para ahli kebingungan.

Tak hanya prasasti Pariangan, dari petunjuk yang saya baca, di sekitar masjid terdapat situs-situs bersejarah seperti batu-batu yang dianggap sebagai ‘monumen’ 3 luhak atau daerah asal orang Minangkabu: Luhak Tanah Datar, Luhak Agam, Luhak Lima Puluh. Ketiga batu ini lokasinya terpencar. Skip dulu.

Momen berwudhu menjadi ritual unik dimana untuk pertama kalinya saya berwudhu dengan air panas yang mengandung belerang. Agak aneh rasanya saat berkumur. Air wudhu berasal dari kolam air panas di sebelah masjid. Di dekat tempat berwudhu ini juga terdapat pemandian air panas dengan fasilitas ala kadar. Perlu renovasi jika ingin ditawarkan ke wisatawan. Misalnya penambahan bilik mandi, tempat ganti baju dan tempat bilas.

Prosesi sholat Jumat tak berbeda dengan sholat di masjid yang lain. Sesekali terselip petuah dalam bahasa Minang saat khotbah Jumat. Selain atap masjid, tak ada sesuatu yang terlalu istimewa di dalam interior masjid karena masjid ini sudah dipugar beberapa kali sehingga sudah merubah bentuk aslinya.

Kami sebenarnya masih penasaran dimana lokasi sawah berjenjang-jenjang yang seringkali menjadi ikon pariwisata Pariangan. Namun, kami akan menyimpan rasa penasaran ini untuk trip selanjutnya.

Pemandangan persawahan antara Pariangan menuju Padang Panjang tak luput dari perhatian. Gradasi hijau dan kuning membuat mata enggan berpaling melihat sisi jendela. Pantas saja Pariangan dinobatkan menjadi desa terindah di dunia. 

 

Dari atas mobil, kamera sempat menangkap masjid cantik dengan plang bertuliskan BPCB Batusangkar bernama Surau Batipuah Baruah dengan atap-atap runcing khas Minang dan dinding masjid yang berwana kehitaman. Sungguh, saya punya ‘utang’ banyak jika nanti datang ke Pariangan lagi.

Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Pariangan

https://www.budgettravel.com/slideshow/photos-beautiful-villages-around-the-world_8350


4 respons untuk ‘Prasasti Pariangan di Desa Tercantik di Dunia

  1. Iya Ni, ini cerita lama tp baru diposting sebenarnya haha.. maksud saya, jalan masuk dr jalan raya masuk ke pariangan agak sempit 🙂 Saya suka mandi air panas, tp kalo di sumbar baru ke pariangan ini aja 🙂

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s