Tri Daya Eka Dharma, Museum Perjuangan yang Bersahaja

Dalam benak sebagian masyarakat, museum menempati kasta terendah sebagai obyek wisata. Museum dianggap sebagai  tempat penyimpanan benda usang yang menyeramkan. Ditambah koleksi museum yang kurang menarik dan bangunan yang kurang instagrammable membuat museum semakin dijauhi masyarakat.

Museum Tri Daya Eka Dharma berlokasi strategis tepat di depan Taman Panorama, kota Bukittinggi. Merupakan salah satu dari sekian banyak museum di Bukittinggi selain museum rumah adat Baanjuang, museum zoologi dan museum rumah kelahiran Bung Hatta.

Setiap hari, ratusan orang memadati Taman Panorama dengan Ngarai Sianok sebagai view utama. Saat musim liburan, ribuan orang masuk ke Taman Panorama. Kondisi ini berbanding terbalik dengan jumlah pengunjung di Museum Tri Daya Eka Dharma.

Pesawat  tempur Harvard B-149 bermoncong merah buatan Amerika terpajang manis di halaman museum. Pesawat ini pernah dipakai oleh TNI pada pemberontakan PRRI di Sumatera  dalam rentang waktu 1958-1965. 

Gedung museum diresmikan 16 Agustus 1973 oleh Bung Hatta. Sekilas tampak seperti sebuah rumah biasa, rumah ini dulunya berfungsi sebagai rumah peristirahatan Gubernur Sumatera yang kala itu berkedudukan di Bukittinggi. Tiang depan museum seolah-olah membentuk sepasang tangan dalam posisi terbuka. Cat gedung berwarna krem pudar. Seolah orang tua yang telah pudar masa kecemerlangannya.

Seorang bapak duduk di belakang meja renta di teras depan museum. Setelah membayar tiket masuk saya mengisi buku tamu. Dilihat dari tanggal dan jumlah pengunjung, tempat ini tidak terlalu diminati pengunjung. Jumlah orang yang datang setiap harinya bisa dihitung.

Saya beranjak masuk ke dalam yang langsung menuju ruang pamer museum. Sekilas pandang saya edarkan sekeliling. Museum ini menempati sebuah ruangan yang tidak terlalu luas. Penerangan seadanya.

Display pertama menampilkan foto presiden dan wakil presiden Indonesia dari masa ke masa. Tampak sekali foto presiden di barisan atas telah dipajang dalam jangka waktu lama. Warnanya telah memudar.

Foto hitam putih, kebanyakan dari era revolusi fisik antara tahun 1945 hingga 1949 mendominasi koleksi museum. Ada juga foto pahlawan nasional dari Sumatera Barat.

Selain foto dipamerkan pakaian tentara, senjata perang meliputi granat, meriam, senapan laras panjang dan pistol. Panel yang dibuat dari kayu berwarna coklat tua tampak membuat koleksi menjadi bersahaja, jika tidak ingin mengatakan kuno. Saya agak terkejut melihat patung pahlawan revolusi Ahmad Yani. Tatapannya mata dingin, agak ngeri-ngeri sedap. Ditambah lagi saya hanya sendirian di ruangan itu.

Bukittinggi pernah berkedudukan sebagai ibukota darurat RI pada tahun 1948 hingga 1949. Pemancar radio YBJ -6 atau Yengki Bravo Juliet 6 digunakan oleh para pejuang yang dipimpin oleh Mr. Syafruddin Prawiranegara pada masa PDRI sebagai alat komunikasi.

Diorama pada museum berfungsi menggambarkan situasi sebuah peristiwa dalam bentuk tiga dimensi. Hanya ada sebuah diorama, yaitu diorama yang menggambarkan diorama tragedi Situjuah Batua yang terjadi di dekat Payakumbuh. Dimana sebanyak 69 pejuang gugur karena dibantai Belanda. Khatib Sulaiman, nama pejuang yang dijadikan nama jalan protokol di Kota Padang, menjadi salah satu orang pejuang yang gugur diberondong tembakan Belanda.

Koleksi lain yang menarik justru barang-barang yang disita TNI AD dari organisasi Fretilin misalnya senjata, mata uang, bendera Fretilin pada Operasi Seroja tahun 1978 hingga 1979 di Timor Timur.  Bendera Fretilin ini mirip dengan bendera Timor Leste saat ini.

Pada sisi lain, dipamerkan bendera Indonesia yang dikibarkan pertama kali di Sumatera Barat, tepatnya pada sebuah upacara bendera di Balai Penerangan Pemuda Indonesia di kawasan Pasa Gadang di kota Padang pada tahun 1945.

 

Tak lebih dari satu jam saya berkeliling di museum yang tak terlalu luas ini. Dari awal hingga akhir kunjungan, hanya saya sendiri pengunjung di dalam museum. Sejarah bangsa akan hilang jika kita tidak melestarikannya. Bagi pengelola museum, sepertinya perlu usaha sangat keras agar pengunjung melirik lantas tertarik datang ke museum ini.


4 respons untuk ‘Tri Daya Eka Dharma, Museum Perjuangan yang Bersahaja

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s