iMuseum: Belajar tentang Kesehatan dan Berburu Foto Instagenik

“Mas, udah pernah ke museum IMERI?” tanya saya membuka obrolan di WA.
“Museum apa tuh? Belum kayaknya.” jawabnya.

Berawal dari kegagalan saya dan mas Fakhruddin menyambangi museum anatomi UI beberapa tahun lalu, kali ini kami berniat menyambangi museum IMERI. Masih berlokasi di kampus UI Salemba, Jakarta Pusat.

iMuseum atau Museum IMERI merupakan museum kesekian di Indonesia yang mengusung tema kesehatan dan ilmu kedokteran. Museum lainnya adalah Museum Kebangkitan Nasional, Museum Kesehatan dr. Adhyatama Surabaya, Museum Kesehatan Jiwa RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Kab. Malang, dan The Bagong Adventure Museum Tubuh di Batu, Jawa Timur.

Singkatnya, kami naik taksi online,melewati gedung baru FK UI yang sekilas mirip dengan menara kembar dengan jembatan penghubung ala negeri sebelah, dengan ornamen bolong-bolong menyerupai sel manusia. Kami turun di gerbang utama FK UI.

Bangunan kokoh yang pernah menjadi sekolah kedokteran pertama di Hindia Belanda, STOVIA, berdiri tahun 1851, masih anggun berdiri di depan gedung kembar IMERI. Saya merasa takjub melihat gedung tua yang telah menjadi rahim banyak dokter hebat di negeri ini.

Di halaman depan dibangun monumen untuk mengenang Marsekal Muda TNI Anumerta Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, yang rupanya pernah mengenyam studi STOVIA. Namun, ia tak pernah selesai karena STOVIA kadung dibubarkan. Selain sebagai pejuang, beliau merupakan pakar Fisiologi sehingga dinobatkan menjadi Bapak Fisiologi Indonesia. Sayang, ia gugur saat pesawatnya ditembak Belanda di Yogyakarta saat usianya masih 38 tahun.

Masuk ke dalam gedung lama FK UI, terdapat tiga prasasati, pertama adalah peringatan Tritura. Selanjutnya prasasti pemugaran gedung FK UI selama tahun 1984 s.d. 1990 yang dibiayai berbagai pihak mulai dari ikatan alumni, termasuk di dalamnnya ibu negara Hasri Ainun Habibie, sejumlah BUMN dan pribadi. Prasasti ketiga berbahasa Belanda, dibuat untuk mengenang Dr. Joh Noordhoek Hegt, slaah satu direktur STOVIA. 

Menuju ke gedung IMERI terdapat panel menyerupai buku-buku perpusatakaan berisi nama-nama sivitas akademika FK UI.

Saat kami tiba, museum belum dibuka dan baru akan buka jam 9. Cukup siang untuk sebuah museum yang biasanya buka jam 7.30 atau jam 8 pagi. Saya dan mas Fakhruddin berkeliling sambil menghabiskan waktu.

Museum ini resminya bernama iMuseum atau lengkapnya Indonesia Museum of Health And Medicine. Berlokasi di lantai dasar gedung IMERI. Dulunya bernama gedung MERC-UI lantas diubah menjadi IMERI-UI, Indonesia Medical Education dan Research Institute. Berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penelitian kedokteran berkelas internasional.

iMuseum mungkin satu-satunya museum yang memiliki maskot. Yakni figur sepasang mahasiswa/i kedokteran yang memakai jas praktik dan memegang model DNA.

Gedung IMERI memiliki parkir bawah tanah, memiliki dua menara yang dinamai menara A dan B. Berjumlah total 15 lantai dengan lantai pertama tempat museum berada merupakan lobi, 12 lantai berfungsi sebagai tempat pendidikan dan riset, 1 lantai setelah lantai 5 dengan nama SKY berfungsi sebagai ruang terbuka yang difungsikan sebagai jembatan penghubung antara menara A dan menara B. Di lantai SKY ini terdapat foodcourt dan kafe tempat duduk yang cukup nyaman, mushola dan menyajikan pemandangan kota.

Karena kami datang terlalu pagi, belum ada satupun tempat makan yang buka. Saya membayangkan jika menjadi mahasiswa kedokteran dengan segudang kesibukan, tempat ini menjadi ruang yang nyaman untuk sekedar melepas penat dengan bersantai  bersama kawan menikmati pemandangan kota dari ketinggian.

Ohya, entah karena alasan fengshui atau alasan apa, lantai 4 tidak ada seperti biasa ditemukan di hotel-hotel.

Pembangunan gedung IMERI melalui proses yang cukup lama. Gedung IMERI dirancang sejak 2006. Kegiatan pengumpulan koleksi museum dimulai sejak tahun 2011. Pembangunan gedung IMERI dimulai tahun 2014 dan selesai tahun 2016. Sedangkan peresmian iMuseum 14 September 2017.

jembatan penghubung

Gedung IMERI secara keseluruhan mencerminkan DNA sebagai pembawa kode genetis pada manusia. Kode genetik melambangkan pewarisan budaya dari generasi lama kepada generasi selanjutnya. Interior iMuseum mengaplikasikan DNA, RNA, dan kromosom pada dinding ruangan, pintu kaca dan meja penyambut tamu. Bernuansa modern.

Sambil menunggu museum buka, kami berkeliling ruangan museum yang di sekelilingnya dipenuhi panel sejarah FK UI, IMERI dan iMuseum. Beberapa foto lama menggambarkan suasana praktik mahasiswa kedokteran di STOVIA. Saya bergidik ngeri tatkala menyaksikan foto praktik anatomi dengan judul foto di Bangsal Potong, lengkap dengan potongan tubuh manusia yang diambil pada tahun 1926. Foto di bawah ini  menggambarkan pembuatan alat praktik dari bahan tanah liat.

Beberapa alat kedokteran tempo doeloe dipamerkan seperti alat bedah, tempat cairan, mikroskop, proyektor, termasuk buku kedokteran berbahasa Belanda yang dilengkapi dengan patung tengkorak kecil yang terkesan menyeramkan. Saya tetiba jadi ingat film SAW!

Benda lain yang dipamerkan di area luar museum di antaranya replika trakea, perkembangan embrio, model saraf, dan sebuah kerangka manusia. Tidak ada keterangan apakah kerangka tersebut asli atau tiruan.

Jelang jam buka, saya kembali menuju pintu masuk museum yang terbuat dari kaca. Saya berusaha mendekatkan kamera ke dinding kaca saat seorang petugas keamanan menegur saya. Saya dilarang menggunakan kamera baik kamera biasa atau kamera ponsel katanya.

Setelah berfikir, kali ini saya memutuskan untuk mengakhiri kunjungan di museum ini. Masa iya sudah jauh-jauh kesini, tetapi tidak membawa kenangan berupa foto hehe. Saya akan datang lagi suatu saat nanti. Semoga saat kunjungan nanti, saya diperbolehkan mengambil foto di dalam sana.

iMuseum buka  setiap :
Selasa – Jumat 09.00 – 16.00
Sabtu 09.00 – 14.00
Minggu, Senin, hari libur tutup

Tiket bagi civitas akademika FK UI gratis, bagi masyarakat umum Rp 25.000,- anak-anak Rp 15.000,- dengan paket hemat Rp 90.000,- untuk 5 orang. Artinya 1 orang cukup membayar Rp 18.000,-. Tiket tersebut belum termasuk jasa guide lho. Dengan melihat area museum yang tidak terlalu luas, menurut saya cukup mahal. Ketentuan lengkap silakan lihat foto di bawah ini.

Dengan ilmu kita menuju kemuliaan : Ki Hadjar Dewantoro

Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Abdulrahman_Saleh_(pahlawan)#Kegiatan_kedokteran_dan_militer
http://www.ui.ac.id/berita/ui-resmikan-museum-pendidikan-kedokteran-pertama-di-indonesia.html


6 respons untuk ‘iMuseum: Belajar tentang Kesehatan dan Berburu Foto Instagenik

    1. betul mba, liat penamaan lantai di museum ini jadi ingat di hotel2 gitu… ada 2 museum di UI Salemba, museum anatomi khusus buat calon dokter dan iMuseum yg dibuka untuk umum 🙂 mayan kalo mau ngajari anak2 gimana menjaga kesehatan dgn baik 🙂

        1. sepertinya sengaja menghindari angka yg konon sial itu mba, kuhitung manual 15 lantai, tp karena gak pake angka 4 sama 13, jadinya pake kata “Lobby” angka 4 diubah jadi “Sky” .. atau jangan2 karena FK UI (yg nyambung sama RSCM) dikenal angker banget yak hehe…

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s