Kuliner Jawa di Rimbo Bujang (1)

Tulisan ini mungkin membuat kamu kurang nyaman jika dibaca saat lapar 🙂

Tinggal di Rimbo Bujang yang dihuni oleh mayoritas etnis Jawa membuat saya dikelilingi masakan Jawa di penjuru kota. Berikut beberapa masakan yang pernah saya coba dan reviunya. 

  1. Gudeg Jogja (RM Sari Raos Bu Endang)

Lokasinya di jalan 8 atau jalan RA Kartini. Sebuah baliho dengan potret ibu berkebaya dan bersanggul mirip penyanyi karawitan Anik Sunyahni membuat rumah makan ini mudah dikenali. Nuansa khas Jawa dan Sunda terasa dari halaman depan yang dihiasi patung Semar, hingga interior yang dipenuhi hiasan wayang kulit, gerabah tanah liat. Musik Jawa dan Sunda yang diputar bergantian membuat pengunjung sedang berasa di tanah Jawa atau tatar Sunda.

Menu yang disediakan tak hanya masakan Jawa dan Sunda seperti nasi timbel, nasi gudeg, nasi bakar, melainkan juga Chinese Food dan seafood. Pilihan minuman juga banyak dengan varian terbanyak adalah jus buah.

Dua kali datang kesini saya jatuh cinta dengan nasi gudeg komplitnya. Nasi pulen ditemani ayam kampung renyah, telur pindang, gudeg dan sambal krecek. Gudegnya manis, telur pindangnya berwarna coklat hingga ke dalam, hanya saja sambek kreceknya cukup pedas. Berbeda dengan rumah makan kebanyakan yang menyajikan teh vanili -varian teh yang disukai di Sumatera-, disini disajikan teh melati khas Tegal yang biasanya disukai orang Jawa. Seporsi nasi gudeg komplit dan teh manis dipatok seharga Rp 30.000,-

2. Pecel Pincuk

Saya tak sengaja melihat gerobak hijau bertuliskan Sarapan Sego Pecel di sebelah SPBU saat mencari tempat sarapan. “Badhe dhahar mriki nopo bungkus?” Ucap ramah seorang bapak tua yang menghampiri saya. Beliau menanyakan apakah saya mau makan di tempat atau bungkus. Saya agak terkejut mendapati sapaan dalam bahasa krama. “Menawi dhahar mriki, nasine habis. Kersa dhahar gorengan?” Oh, rupanya nasinya habis, tinggal gorengan. Saya memilih untuk dibungkus.

Seporsi pecel dan 2 potong gorengan berupa bakwan dan tempe goreng saya tebus dengan harga 6 ribu saja. Isinya daun singkong rebus dan slobor (sawi putih) dengan porsi cukup banyak. Sambel pecelnya tidak terlalu pedas, hanya saja minus kerupuk.

Lokasi : Jalan Pahlawan, depan GO lama, Unit 2 Rimbo Bujang

3. Mie Ayam Mas Tridut Cah Ngawi

Beberapa bulan tinggal di Muara Bungo, saya agak kesulitan menemukan mie ayam sesuai selera saya: berkuah bening, ayamnya tidak berminyak, mienya lembut. Ada yang kuahnya bening, tetapi mienya agak keras. Ada yang mienya lembut, sayang banyak minyak dari kuah ayamnya.   

Sebuah baliho dengan kata-kata cukup menggelitik membuat saya mampir. Saya agak terkejut membaca menu mie ayam, bakso kerikil, es kelapa muda dan es teler yang semuanya dijual seharga hanya Rp 5.000,- saja. Sangat murah dibandingkan mie ayam di Muara Bungo yang dijual mulai Rp 10.000,- Menu paling mahal di tempat ini adalah mie ayam bakso yang dijual seharga Rp 10.000,-

Semangkuk mie ayam datang. Porsinya tidak terlalu banyak, mungkin hanya 60% dari porsi normal. Namun, meski porsinya tidak terlalu banyak, tanggung, kuahnya bening, mienya lembut dan ayamnya tidak berminyak. Akhirnya, saya menemukan mie ayam sesuai selera saya! Saya menambah mie ayam 1 porsi lagi sebelum pulang hehehe.

Di lain waktu saya mencoba bakso kerikil. Rasanya tidak jauh beda dengan bakso pada umumnya. Cukup enak, tetapi tidak terlalu istimewa.

4. Nasi Jagung Pasar Unit 5

Nasi jagung adalah menu favorit jika pulang kampung ke Salatiga atau Boyolali. Saya belum pernah makan nasi jagung di Rimbo Bujang. Kata kawan saya, di Pasar Unit 5 setiap Sabtu pagi ada seorang ibu-ibu yang menjual menu kampung ini. Saya masukkan nasi jagung ke list ini karena saya berharap dapat mencicipi makanan ini suatu saat nanti.

5. Sate Kambing Jumbo

Bisa dibilang sate kambing merupakan signature dish Rimbo Bujang. Kedudukannya mungkin ibarat rendang dengan Padang atau pempek dengan Palembang. Orang-orang merasa tidak afdol berkunjung ke Rimbo Bujang tanpa singgah di warung sate kambing. Saat saya tinggal di Bangko, kantor saya sering pesan sate kambing ke Rimbo Bujang!

Sate kambing di Rimbo Bujang memiliki kekhasan sendiri dibandingkan dengan menu sejenis di kota lain. Potongan dagingnya sangat besar. Saking besarnya, seporsi sate bisa dimakan oleh 2 hingga 3 orang. Satu porsi sate kambing sebanyak 10 tusuk dijual seharga Rp 60.000,-. Soal rasa dan penyajian tak beda dengan rumah makan sate kambing di tempat lain.

Tak hanya sate kambing, menu lain yang tersedia yaitu sate ayam, tongseng kambing, nasi goreng kambing dan sup kambing. Saya sendiri selalu pesan sate kambing dan hanya sanggup menghabiskan 3-4 tusuk. Sisanya saya bungkus untuk dimakan di rumah.

Ada beberapa warung sate kambing di Rimbo Bujang: sate bu Lis, sate Wulan, sate David dan sate Slamet. Konon, setiap warung sate memiliki penggemar setia masing-masing karena memiliki cita rasa yang berlainan. Saya sendiri baru mencoba sate bu Lis. Sate bu Lis sendiri dianggap pionir sate kambing jumbo di Rimbo Bujang.

Jadi, kapan kamu mau wisata kuliner ke Rimbo Bujang?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s