Rimbo Bujang, Sekeping Jawa di Ranah Sumatera

cantik nian gadis rimbo Bujang
belesung pipit jalan melenggang
elok nian gadis Rimbo Bujang
tutur saponyo sungguh menawan

kalu abang nak ke Rimbo Bujang
naiklah oplet duduk di depan

Sebuah potongan lagu daerah berirama dangdut terdengar tatkala saya memutar lagu-lagu daerah Jambi di sebuah situs video. Liriknya sederhana, berbahasa Jambi. Isinya tentang pertemuan seorang lelaki dengan gadis cantik yang berasal dari Rimbo Bujang.

Bertahun-tahun kemudian akhirnya saya dipindahtugaskan ke Rimbo Bujang. Namun, saya memilih untuk tetap tinggal di Muara Bungo. Dari Muara Bungo ke Rimbo Bujang ditempuh selama 45 menit. Sayangnya tidak ada transportasi umum menuju dan dari Rimbo Bujang. Sesuai isi lagu tersebut, dulu pernah ada semacam angkot dari Rimbo Bujang ke Muara Bungo. 

Sejarah Rimbo Bujang

Rimbo Bujang adalah nama sebuah kota sekaligus kecamatan di Kab. Tebo. Awalnya bagian dari kec. Tebo Ulu. Lantas dimekarkan menjadi kec. Rimbo Ulu, Rimbo Bujang dan Rimbo Ilir. Ketiga kecamatan ini merupakan daerah eks transmigrasi sejak tahun 1975 dengan mayoritas penduduk berasal dari Jawa Tengah. Rimbo Bujang berkembang dari hutan rimba menjadi kawasan padat penduduk dengan jumlah penduduk melebihi Muara Tebo, ibukota Kab. Tebo. 

Tak ada literatur resmi yang menulis toponimi sejarah Rimbo Bujang. Hanya saja, menurut sebuah blog, disebutkan dulunya Rimbo Bujang adalah wilayah rimba yang dipenuhi dengan berbagai hewan liar seperti ular, harimau dan gajah. Penghuni awal di kawasan rimba Rimbo Bujang adalah suku Anak Dalam. 

Saat ini keberadaan hewan buas di Rimbo Bujang sekedar cerita. Namun, sebuah papan di tepi jembatan Alai I menuju ke simpang Somel cukup menggetarkan setiap pejalan yang lewat: Waspada dan berhati-hati beraktivitas di sungai yang merupakan habitat buaya. Tia, salah seorang pegawai di kantor saya menuturkan memang masih banyak buaya di sungai Alai, salah satu anak sungai Batanghari. Wew!

jalanan di Rimbo Bujang dari udara, dipinjam oleh Google Maps, bagian berwarna putih di tengah merupakan Pasar Sarinah, pusat kota Rimbo Bujang

Unit dan Angka

Sebagai daerah transmigrasi, jalan-jalan di Rimbo Bujang dibuat lurus dan rapi. Jalan Pahlawan (di gambar berbentuk diagonal, membentang dari kiri bawah ke kanan atas) merupakan jalan penghubung kota Muara Bungo dan Muara Tebo yang memiliki panjang 30 km. Dihitung mulai dari Simpang Somel di desa Embacang Gedang, kab. Bungo, lurus hingga Simpang Lopon di wilayah perbatasan Kec. VII Koto Ilir dan Tebo Ulu.

Nama-nama jalan diberi menurut angka. Artinya ada jalan 1, jalan 2  dst. Saat ini beberapa jalan sudah diubah menjadi nama pahlawan. Misalnya jalan 7 menjadi jalan RA Kartini, jalan 13 menjadi jalan Cut Nyak Dhien.

Jika kita menanyakan alamat rumah di Rimbo Bujang, pasti akan ditanya rumahnya di unit berapa dan jalan berapa. Unit merupakan sebutan lama era transmigrasi sebelum diubah menjadi nama desa. Sebutan unit ini masih dipakai hingga sekarang. Misal Unit 1 (Desa Perintis) dimulai dari jalan 1 hingga jalan 31. Sedangkan unit 2 (kelurahan Wirotho Agung) dan unit 3 (Rimbo Mulyo) dimulai dari jalan 1 hingga jalan 24. Sayangnya tidak semua jalan dipasangi nomor sehingga buat pendatang seperti saya tentu agak merepotkan.

jalanan di Rimbo Bujang

Sarinah dan Sate Kambing

Tak lengkap membicarakan Rimbo Bujang tanpa pasar dan kulinernya. Tiap unit/desa di Rimbo Bujang memiliki pasar desa yang buka setiap hari tetapi hanya ramai di hari tertentu. Pasar utama di Rimbo Bujang bernama pasar Sarinah, kadang disebut pasar Unit 2 atau pasar Rimbo Bujang. Menurut sebuah sumber, nama Sarinah diambil dari judul lagu keroncong: Sarinah.

Sayang tidak ada tempat wisata baik alam maupun buatan di Rimbo Bujang. Wisata kuliner justru dominan di Rimbo Bujang terutama olahan daging kambing. Saat masih tinggal di Bangko, kantor kami sering sengaja memesan katering jauh-jauh ke Rimbo Bujang yaitu kambing guling, gulai, sate dan tongseng kambing. Postingan tentang kuliner Rimbo Bujang akan saya tulis terpisah ya 🙂

Sekeping Jawa di Ranah Sumatera

Berjalan-jalan atau menyapa warga Rimbo Bujang akan terdengar bahasa Jawa ngoko. Beberapa pegawai di kantor saya merupakan penduduk Rimbo Bujang berdarah Jawa. Mereka lahir di Rimbo Bujang tetapi fasih berbahasa Jawa. Dalam keseharian mereka berbicara bahasa Jawa ngoko campur bahasa Melayu Jambi. Bahasa Jawa krama inggil (bahasa Jawa halus) hanya diperdengarkan saat acara adat seperti selamatan dan pernikahan. Itupun jumlah penutur bahasa krama bisa dihitung dengan jari dan biasanya hanya kaum tua yang masih mampu berbahasa krama.

Kesenian Jawa seperti wayang kulit, karawitan dan kuda lumping sesekali dimainkan, terutama saat peringatan hari transmigrasi, yaitu hari mengenang kedatangan orang Jawa pertama kali ke Rimbo Bujang. Bupati Kab. Tebo saat ini pun berasal dari etnis Jawa.

Saat ini Rimbo Bujang tak lagi hanya didiami etnis Jawa, suku lain seperti Melayu Jambi, Minang dan Batak hidup rukun. Bahkan dalam perkawinan, etnis Jawa menggabungkan adat Melayu yaitu memakai inai dalam malam midodareni.

Referensi: https://rimbobujang.wordpress.com/2014/10/07/sejarah-pasar-sarinah-rimbo-bujang/#comment-1132

Iklan

19 Comments Add yours

  1. Bara Anggara berkata:

    nama2 daerah transmigrasi emang unik2.. di sumbar juga di daerah2 perbatasan banyak daerah transmigrasi dengan nama yg unik2..

    -Traveler Paruh Waktu

    1. Avant Garde berkata:

      betul mas, meskipun nama kecamatannya pakai bahasa daerah setempat, nama desanya pakai bahasa jawa semua 🙂 agung, mulyo, harjo 🙂

  2. Johanes Anggoro berkata:

    Lah, ga jadi pindah rumah mas? 45 menit sih lumayan deket

    1. Avant Garde berkata:

      Jadi…saya sekarang di muara bungo, kantornya di rimbo bujang 🙂

  3. alrisblog berkata:

    Mantab, Rimbo Bujang makin maju.

    1. Avant Garde berkata:

      Terimakasih pak Alris 🙂

  4. Unik juga pakai Inai di acara Midadoreni 😂 tapi di daerah sana masyarakatnya memang harmonis sih. Dominasi suku Jambi, Minang dan Jawa perpaduan yg cocok kayagnya ☺️👍

    1. Avant Garde berkata:

      alhamdulillah Jambi masih aman mba, dan semoga selalu begitu 🙂 awalnya kaget liat penganten Jawa pakai inai/pacar, tp disamping budaya Melayu, rupanya saat ini memang sedang tren memakai unsur daerah lain untuk pernikahan, seperti manten adat Palembang pakai melati dan mawar buat hiasan kepala 🙂

  5. Uchi berkata:

    buyut2ku juga transmigran, tapi di daerah sumut ngga ada hari spesial utk peringatan hari transmigrasi seperti disana. Seru jg ya… yang sama disini juga masi pake bahasa Jawa, tapi bukan krama melainkan bahasa Jawa kasar. gitu sih sebutannya….

    1. Avant Garde berkata:

      Iya, itu namanya bahasa Jawa ngoko, bahasa buat ngomong ke teman atau orang yg seumuran hehe 🙂 btw, kamu sumutnya dimana Uchi 🙂 salam kenal yah

      1. Uchi berkata:

        Org tua di Siantar Simalungun. Aku merantau di Medan. Oya salam kenal bang… 🙂

        1. Avant Garde berkata:

          Ohya, Siantar 🙂 saya pernah lewat waktu mau ke samosir

          1. Uchi berkata:

            Yaa.. Pasti dilewatin klo ke parapat via siantar. Tepatnya kampungku di sidamanik. wisata perkebunan teh dan pemandian alam aek manik yg lagi hits itu hehe

            1. Avant Garde berkata:

              ohya, Sidamanik belum singgah, cuma sekali lewat Siantar dan udah lupa kotanya kayak gmn hehe…

              1. Uchi berkata:

                Brti harus diulang haha

                1. Avant Garde berkata:

                  Siap, insyaalloh! 🙂

  6. Deddy Huang berkata:

    kalau dilihat dari gambar kayak gersang yo.. tapi menarik buat dikunjungi.

    1. Avant Garde berkata:

      gersang nian koh, dak katek apo2 wkwkw… kalo buat kulineran mayan lah

Tinggalkan Balasan ke Bara Anggara Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s