Mengenal Boyolali di Museum Hamong Wardoyo

Boyolali, nama sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang mendadak ramai karena ucapan kontroversial salah satu capres. Kota yang terletak di tengah-tengah perlintasan Semarang, Solo dan Jogja ini sejatinya memiliki banyak potensi alam dan sejarah yang potensial untuk dikembangkan. Gunung Merapi, gunung Merbabu, sejumlah candi peninggalan zaman Mataram Hindu. Baru saya tahu ada kerkhof tidak jauh dari pasar Ampel, rumah orang tua saya.

Di sela kesibukan silaturahmi Lebaran, saya minta ditemani adik saya ke museum Hamong Wardoyo. Bapak, ibu dan yang lain-lain ingin ikut. Yasudah kami berangkat satu rombongan.

Sebelum ke museum, kami singgah dulu ke Candi Lawang karena saya belum pernah kesana. Candi ini berlokasi di dukuh Dangean desa Gedangan kecamatan Cepogo. Dinamakan Lawang karena bangunan candi menyisakan satu buah candi induk yang sudah tidak utuh, hanya tersisa pintu di atas bangunan atau lawang dalam bahasa Jawa. Di sebelah candi utama terdapat empat candi perwara yang tinggal fondasi dan alasnya saja.

Candi Lawang – Boyolali

Berlokasi di tengah-tengah perkampungan, candi ini sangat sepi. Tidak ada tiket masuk atau pemandu. Dari penjelasan di dekat candi, candi ini berlanggam Hindu karena ditemukan yoni  di belakang pintu candi. Kemungkinan dibangun tahun 750 – 800 Masehi.

Selain candi Lawang, Mataram Hindu juga menyisakan candi Sari, petirtaan Cabean Kunthi dan lingga yoni yang tersebar di berbagai tempat. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa datang kesana.

Kami beranjak ke pusat kota Boyolali, tepatnya ke Museum Hamong Wardoyo. Dibangun tahun 2015 tetapi baru dibuka setahun kemudian, museum ini mengambil nama dari bupati pertama Boyolali.

Berlokasi di jalan raya Solo, wujudnya seolah-olah menyerupai piramid kaca ala Museum Louvre di Perancis, hanya saja ini versi mini. Menurut saya, bentuk piramida justru diambil dari wujud gunung Merapi dan Merbabu. Lahan berdirinya museum ini dulunya bekas kantor dinas pariwisata Kab. Boyolali.

Di dinding luar museum dibuat relief untuk mengenang perang Pruputan Tlatar  yang terjadi tanggal 14 Juli 1949 antara rakyat sipil dibantu tentara pelajar melawan Belanda dimana 6 warga gugur.

Ketika saya datang, museum dalam keadaan terkunci. Baru ketika seorang penjaga museum datang membuka kunci kami diperbolehkan masuk setelah mengisi buku tamu. Seorang pengunjung museum menulis bahwa tata letak museum kacau, benarkah?

Masuk ke dalam, terdapat ruang semi terbuka yang memajang arca zaman klasik seperti arca dari Candi Sari Gatak, petirtaan Slumprit, arca Ganesha dan lain-lain.

Bergerak ke sisi lain terdapat meriam Ki Jogoboyo, alat pertanian berupa lumpang, alu, pedati, kapak perimbas, keris, gerabah, awetan harimau Sumatera, kereta kencana, miniatur ikon-ikon Boyolali, kerajinan khas seperti tembaga, benda-benda cenderamata bupati Boyolali dan manekin pakaian adat Boyolali. Terlihat agak “berantakan” untuk sebuah museum memang. Belum ada pemisahan menurut kategori benda dan kronologis, dan pula selama melihat isi museum tidak ada pemandu.

Di sisi lain ditampilkan foto bupati Boyolali dari urutan pertama dan dokumentasi kegiatan para presiden di Boyolali, termasuk kliping koran tentang Boyolali.

Bagian yang cukup menarik adalah diorama sejarah Boyolali. Dimulai dari kisah perjalanan Ki Ageng Pandanaran yang memberi nama Boyolali. Beliau bertapa di sebuah batu besar di kali Pepe yang sekarang diubah namanya menjadi kali Gede. Nama Pandanaran sekarang diabadikan menjadi nama jalan protokol dan rumah sakit di Boyolali. Batu besar tempat bertapa Ki Ageng juga masih bisa ditemui.

Panel berikutnya menjelaskan tentang perjuangan Prof. Soeharso, pahlawan nasional kelahiran Boyolali yang gugur tahun 1971. Namanya diabadikan menjadi rumah sakit ortopedi di Solo. Diorama berikutnya tentang musibah erupsi Merapi tahun 2010 yang banyak merenggut korban jiwa. Diorama terakhir yaitu upacara adat sedekah gunung di desa Lencoh kecamatan Selo pada malam 1 Suro.  

Koridor menuju ke lantai 2 dipasang foto upacara adat di Boyolali seperti buka luwur di Ampel, sebaran apem keong mas di Pengging, sedekah gunung di Selo dan nyadran di Cepogo.

Saya seolah kembali ke masa lalu saat melihat foto Boyolali tempo doeloe. Boyolali yang memiliki jalur trem kuda dari Solo. Iyah, trem tetapi ditarik kuda. Lantas pesanggrahan Pracimoharjo milik keraton Solo di Paras yang notabene Pesanggrahan kedua selain Langenharjo, hingga foto kantor perkebunan bernama Maddesito di Ampel. Selain pesanggrahan, jalur trem dan kantor perkebunan tidak bisa ditemui lagi. Kata ibu saya, bekas kantor Maddesito sekarang sudah menjadi Puskesmas Ampel. 

 

Tiba di lantai 2 rupanya ruang pameran temporer. Dengan jendela kaca, ruangan ini bisa dipakai sebagai tempat pameran seni atau workshop.

Sebelum pulang, kami singgah di Taman Pandan Alas. Taman bermain anak yang menurut saya berkelas internasional. Tak hanya taman bermain anak, terdapat ruang pameran temporer, joging track, kolam bola, perosotan beralas pasir seperti di luar negeri, aneka burung. Fasilitas penunjang seperti mushola berbentuk jamur, tempat parkir, toilet juga cukup bersih.

Pada dinding taman terdapat tempat coret-coret bagi anak-anak untuk melukis dinding.

Yuk, ke Boyolali….

Iklan

2 Comments Add yours

  1. Sepertinya belum banyak museum di Indonesia, terutama yang di daerah-daerah bisa tertata, terkelola, dan terkonsep rapi. Kadang museum dan koleksinya bagus, tapi kalau tidak ada yang bisa memandu dan menjelaskan, kita bingung juga.

    Tapi semoga museum ini bisa lekas berbenah dan jadi tujuan utama wisata sejarah di Boyolali 🙂

    1. Avant Garde berkata:

      betul Rifqy, tp saya tetap salut pada daerah2 yg punya kemauan buat mengumpulkan koleksi sejarah daerah dan budaya mereka 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s