semua akan [p]indah pada waktunya…

datang tampak muka, pulang tampak punggung, datang membawa kesan baik, pergi membawa kesan baik, cerita tentang perpisahan dan pertemuan

Hello world!

Sudah enam tahun saya tinggal di Bangko untuk merantau. Sebuah kota kecil di pelosok Jambi. Dari sebuah kota yang rasanya tidak masuk dalam peta dan atlas menjadi sebuah tempat dimana saya menghabiskan suka dan duka.

Jumat pertama di bulan September kami mengadakan seremoni pelepasan pegawai yang pindah ke kantor lain. Saya dan beberapa teman kantor sebagai seksi repot umum seperti biasa bertugas menyiapkan acara perpisahan mulai dari menyusun acara, menata panggung, hingga memesan konsumsi dan hiburan.

Seperti biasanya, acara perpisahan di kantor kami diisi dengan sambutan pegawai yang pindah, sambutan pegawai yang ditinggalkan, hiburan organ tunggal dan tukar kado sebagai pengganti acara doorprize.

Salah satu pegawai yang pindah adalah Hadi. Teman sekantor yang telah saya kenal sejak bangku kuliah di Palembang. Awal merantau di Bangko, saya numpang tinggal di kosan Hadi. Enam tahun di Bangko, Hadi dipindahkan ke kampung halamannya di Bekasi.

Acara perpisahan belum selesai tatkala muncul broadcast info mutasi di grup wa kantor. Semua orang di aula sibuk membuka gawai dan seorang kawan, mas Anto sembari berteriak memanggil nama saya.

Pindah ke Muara Bungo

Sesuai SK dari kantor pusat, saya dipindahkan ke Muara Bungo mulai tanggal 17 September 2018. Masih di provinsi Jambi, hanya bergeser 76 km dari Bangko. Spontan saya bersyukur sambil melakukan sujud di aula. Berturut-turut kawan-kawan mengucapkan selamat baik langsung maupun lewat pesan wa. Entah sedih atau bahagia, rasanya saya perlu bersyukur dipindahkan ke kota lain.

Secara hitungan matematis, saya harusnya bahagia. Pindah ke kota yang lebih ramai, ada pesawat ke Jakarta, ada mall (hypermart), kantor yang langganan juara. Namun, hati tidak bisa dibohongi. Ada berjuta cerita selama 6 tahun tinggal di Bangko.

Selain saya, ada dua orang teman sekantor yang dipindahkan ke tempat lain. Satu orang dipindahkan ke Padang, satu lagi ke Jambi.

Saya hanya memiliki waktu seminggu untuk menyelesaikan seluruh tunggakan pekerjaan di bidang kepatuhan internal. Menurut aturan, ketika saya pindah, otomatis kawan saya yang telah jauh-jauh hari dipersiapkan menjadi pengganti saya akan menggantikan posisi saya. Namun, karena pengganti saya turut pindah, otomatis atasan saya harus mencari pengganti lain. Masalahnya adalah calon pengganti saya akan menjalani dinas selama seminggu, sehingga saya harus menunggu dia masuk kantor untuk memberikan transfer ilmu. Karena pekerjaan saya juga cukup banyak yang belum diselesaikan, saya minta tambahan waktu seminggu untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan sebelum pindah ke Muara Bungo.

Kamis terakhir di Bangko, kepala seksi saya mengajak kami pegawai satu seksi makan siang di luar. Sup iga di simpang Margoyoso menjadi pilihan bos saya. Saya tak mengira boss saya menodong saya untuk menyampaikan kesan dan pesan untuk teman-teman satu seksi. Saya pikir hanya makan siang saja. Meski terbata-bata, saya berhasil menyampaikan ucapan terimakasih, permohonan maaf sekaligus kesan pesan. Sebuah bingkisan diberikan menjelang kami pulang ke kantor.

Packing!

Salah satu hal yang cukup merepotkan ketika pindah ke kota lain selain menyelesaikan pekerjaan adalah beres-beres kontrakan. Apalagi jika memiliki banyak perabot rumah seperti saya. Beberapa perabot yang rusak seperti lemari yang copot salah satu pintunya saya tinggal, kemudian meja TV yang lebih mirip meja goyang. Gorden rencana akan saya hibahkan untuk penghuni kontrakan pengganti saya.

Atas info dari teman yang pernah pindahan, saya membeli dus tebal bekas bungkus rokok di pasar. Harganya cukup murah, lima ribu rupiah untuk satu dus ukuran besar. Pertama saya beli 10 dus. Sejumlah barang seperti baju, buku, mainan, alat masak dan alat makan masuk ke seluruh dus. Rupanya, kami perlu 6 dus lagi hingga seluruh barang terangkut.

Pindah Sekolah 

Saya berencana membawa seluruh keluarga saya ke Muara Bungo. Pencarian kontrakan untuk tinggal di Muara Bungo dan sekolah untuk anak saya dimulai. Pencarian pertama kami lakukan di sekitar Perumnas Cadika. Ada sekolah cukup bagus di bilangan Perumnas yaitu TK Al Azhar Muara Bungo. Pak Dedey teman saya di Bangko rela jauh-jauh menyekolahkan anaknya di Muara Bungo.

Lingkungan tetangga di Perumnas kata teman saya cukup guyub dan rukun. Dari Perumnas ke kantor juga cukup dekat. Sayangnya, ke kota cukup jauh karena letaknya di pinggiran kota arah ke bandara.

Ada beberapa rumah yang kami survei di perumnas. Rumah pertama pas di depan rumah pak Dedey. Sayangnya kesannya spooky dan agak kumuh. Rumah kedua agak jauh dari rumah pak Dedey, halamannya luas dan rumahnya cukup besar. Istri saya langsung tak suka karena ada pohon mangga sangat rindang. Rumah ketiga berada di sebuah townhouse. Sayang, kalau malam agak sepi.

Kami melakukan survei lagi di lain hari. Sebuah rumah kontrakan di kawasan Rangkayo Hitam, dekat rumah dinas bupati. Rumahnya berada di kawasan pemukiman padat. Nilai plusnya ujung jalan di depan rumah kami buntu, sehingga hanya ada satu akses keluar masuk ke lingkungan rumah.

Dari Muara Bungo ke Rimbo Bujang

Beberapa hari jelang momen masuk kantor ke Muara Bungo, saya mendapatkan info bahwa saya akan ditempatkan di Rimbo Bujang. Sebuah kota kecil berjarak sekitar 30 km dari Muara Bungo yang masuk wilayah kab. Tebo.

Sebenarnya kantor saya tidak persis di Rimbo Bujang, melainkan di dekat Simpang Sawmill (dibaca Somel oleh warga setempat). Masih di wilayah kab. Bungo dan berjarak 17,5 km dari Muara Bungo.

Kantor 90 Km

24 September 2018 saya resmi ngantor di Rimbo Bujang. Dari Bangko, saya nebeng bang Alfin, kawan sekantor yang dulu bekerja di Bangko tapi sudah pindah ke Muara Bungo. Bang Alfin pulang ke Bangko setiap hari Selasa, Kamis dan Jumat. Hari Senin dan Rabu dia menginap di Muara Bungo.

Istri dan anak sementara saya tinggal di Bangko sembari saya mencari rumah baru dan sekolah baru untuk Nia.

Pagi benar jam lima pagi saya sudah bangun, ibadah Subuh, cuci muka mandi dan bersiap karena bang Alfin menjemput saya jam 5.30. Kalau biasanya, saya bisa jam 7.15 berangkat ke kantor. Jam 7 saya tiba di Muara Bungo. Setelah bertemu kepala bagian umum, saya dijemput Aryo dan Ahfiz, pegawai KP2KP Rimbo Bujang. Dari Muara Bungo ke Rimbo Bujang berjarak 17,9 km dan ditempuh selama 30 menit naik motor.

Perpisahan

Meski akhir September saya mulai bekerja di Rimbo Bujang, acara perpisahan oleh kantor baru dilaksanakan tanggal 5 Oktober di Bangko. Agak aneh menyaksikan diri saya duduk di panggung depan dilihat banyak orang, sementara biasanya saya yang duduk di belakang menyaksikan teman saya yang pindah ke kantor lain. 

Tema perpisahan kali ini adalah Mutasi Shower, saya dan kawan-kawan dipakaikan topi anti air dan selempang. Ada yang mendapat selempang bertulis Tereksotis, Tertampan, Terdiam. Saya sendiri sendiri mendapat selempang Terampil :p.

Hal yang paling membuat saya tidak bisa menahan kesedihan saat teman-teman satu seksi membacakan puisi dan lagu untuk kami. Meski ya, lirik lagunya dibawah batu nisan kini tlah kau sandarkan, kasih sayang kamu….. Randa, teman saya bahkan tak henti berurai kesedihan saat lagu Terlalu Manis diperdengarkan secara akustik. Refleks saya peluk. Acara hari itu ditutup dengan bersalaman dan berpelukan. Pelukan yang menghangatkan dan menguatkan, tetapi tetap saja kesedihan ini tidak terbendung.

Sehari setelah perpisahan saya beserta seluruh keluarga mengangkut seluruh barang ke Muara Bungo. Seluruh barang termasuk kasur, lemari, kulkas dan mesin cuci masuk ke truk. Barang elektronik masuk ke mobil kecil. Dengan diantar sebagian tetangga kami dilepas menuju Muara Bungo. Kali ini mamania yang berurai air mata.

Selamat jalan Bangko, Merangin, selamat datang Muara Bungo, Rimbo Bujang

Iklan

16 comments

  1. Wah kalau ngomongin soal pindah, dulu waktu saya masih kerja di lembaga survey, hampir kayak orang gila. tiap bulan selalu pindah tempat, sampai tak ada waktu untuk mencari jodoh, haha. btw salam kenal mas.

  2. Tempat baru, suasana baru, penyesuaian baru, teman baru, tetangga baru. Semoga juga semangat baru,

    Saya juga pindah. Satu tahun tiga bulan di tengah hutan di perbatasan negara. Sekarang kembali gawe di ibukota. Tiap hari berjibaku menghadapi kemacetan membuat saya rindu kembali damainya tengah hutan. Belum genap dua bulan sudah ada keinginan untuk cari kerja di luar Jakarta. Manusia memang tak ada puasnya. Okelah, dinikmati aja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s