Kenangan di Museum Geologi Bandung

Museum Geologi merupakan dari satu beberapa tempat yang saya kunjungi saat karyawisata zaman SLTP (SMP)  selain Pusat IPTEK Sabuga ITB, gunung Tangkuban Parahu dan pusat oleh-oleh Cibaduyut.

Ingatan melayang 15 tahun lalu sesaat sebelum turun bus. Guru kami memberikan waktu satu jam untuk berkeliling dan mencatat isi museum. Mencatat, bukannya menikmati. Dalam satu jam saya dan ratusan teman sekolah saya sibuk berkeliling mencatat dalam buku isi museum dan koleksinya. Hingga satu jam berakhir dan saya menyadari saya tak banyak mencatat karena saya sibuk mengamati dan mengagumi koleksi museum, terutama jenis batuan dan fosil Dinosaurus yang saya imajinasikan berasal dari film Jurassic Park. 

Saya bergegas naik bus karena guru saya sudah sibuk memanggil kami. Saya bertekad suatu saat nanti jika kembali ke Bandung akan kembali ke tempat ini.

Bandung, 2017
Saya datang lagi ke Bandung bersama istri dan anak saya. Tujuannya untuk melawat teman saya yang baru saja dikaruniai putera kedua. Setelah dua malam di Bandung, saya mengajak keluarga napak tilas di museum geologi. Dari penginapan di kawasan Masjid Agung, saya naik taksi online. Nama drivernya 
Wellyngton Silalahi, pria Bandung berdarah Batak yang sudah lama tinggal di kota ini.

Setelah membayar tiket masuk Rp 3.000,- saya masuk ke pelataran museum yang dihiasi beberapa koleksi mengagumkan seperti fosil kayu berbentuk kepala lumba-lumba dari Way Kanan, Lampung, fosil kayu mirip lumba-lumba dari Waykanan, Lampung, pompa angguk yang dipakai dalam pertambangan, dan sarkofagus atau nisan kubur prasejarah.

Logo museum geologi berbentuk bulatan, garis bujur dan melintang serta empat segitiga diadopsi sejak zaman Belanda. Logo ini sempat memicu kontroversi karena dianggap menyerupai logo sekte tertentu. Gara, kawan saya yang juga penulis blog pernah menulis analisis tentang logo Museum Geologi disini

Museum Geologi salah satu museum tua di Indonesia. Diresmikan tahun 1929 sebagai gudang dan laboratorium geologi Belanda. Pemugaran diselesaikan tahun 2000 oleh presiden Megawati dipimpin menteri ESDM saat itu Susilo Bambang Yudhoyono.

Udara sejuk memberikan kesan nyaman. Ruangan ditata dengan indah dengan penerangan yang cukup. Panel yang cukup informatif dan menarik. Jauh dari kesan horor dan berdebu.

Lantai satu museum di sebelah kanan adalah ruangan Sejarah Kehidupan. Berisi fosil hewan dan tumbuhan purba, termasuk koleksi utama berupa dinosaurus jenis Tiranosaurus Rex. Anak saya ketakutan melihat fosil T-Rex sehingga saya masuk ke ruangan ini sendiri. 

Pada panel yang lain dijelaskan maket situs prasejarah di Indonesia, manusia purba serta rekonstruksi wajah Homo Erectus yang dipercaya sebagai nenek moyang manusia.

Di bawah ini adalah panel ras utama di dunia dimana penduduk Indonesia merupakan ras Mongoloid dan Negroit. Ras Kaukasoid tidak ada di Indonesia. 

Ruangan sebelah kiri yaitu  Geologi Indonesia. Menjelaskan kawasan cincin api di dunia di Indonesia, jenis batuan, jenis batu mulia dan fenomena geologi di Indonesia.


batu kristal ametis berwarna ungu dari Solok, Sumatera Barat

Bagi pengunjung yang ingin berfoto disediakan tempat untuk berfoto 3D. Hasil latarnya bisa diedit dengan pemandangan yang di Indonesia.

Menuju lantai dua dipasang prasasti mengenang Arie Frederick Lasut, seorang  pahlawan nasional asal Minahasa dan juga geolog dan ahli tambang. Karena kepintarannya, Lasut meninggal dibunuh Belanda di Yogyakarta tahun 1949 saat umur 30.

Di sisi lain terpasang prasasti berbahasa Belanda untuk mengenang Reinder Fennema, seorang geolog Belanda. Fennema banyak melakukan penelitian di Sumatera, Jawa dan Sulawesi. Fennema tewas tenggelam saat sedang bertugas meneliti geologi danau Poso di Sulawesi Tengah. Jasadnya tidak pernah ditemukan sampai saat ini. 

Lantai dua menyambut kami dengan tampilan layar LED yang bisa berubah-ubah setiap detik. Menampilkan tayangan tentang kolase fenomena geologi di Indonesia. 

Ruangan sebelah kiri seingat saya dulu adalah laboratorium. Saat ini difungsikan sebagai ruang pamer yang mengangkat Sumber Daya Geologi berupa mineral, energi, air. Saya cukup terpana melihat bagaimana wujud asli batu mulia sebelum diolah menjadi perhiasan. Batuan mulia ini kebanyakan diambil dari tanah air Indonesia. Indonesia sangat kaya!

Ruangan sebelah kanan yaitu ruang Bencana Geologi menjadi ruangan paling menarik di seantero museum. Melihat mini diorama terjadinya tsunami, longsor, bahkan merasakan simulasi gempa menjadi pengalaman menarik, meski tak ingin mengalami. Amit-amit! 

Sebuah panel menampilkan barang-barang yang ludes terkena awan panas Merapi saat letusan tahun 2010. Sebuah sepeda motor, radio, termos dan beberapa perkakas lain yang masih tertutup abu vulkanik Merapi.

Kunjuangan ke museum geologi akan menjadi pengalaman tak terlupakan bagi seluruh keluarga. Mengenal Indonesia, mengenal bumi dan mengenal kebesaran Tuhan.

Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Arie_Frederik_Lasut
http://museum.geology.esdm.go.id/tokoh-geologi/reinder-fennema

Iklan

19 comments

  1. Widih udah tua banget ya ternyata.
    Tapi kalo dilihat sih terawat musiumnya 🙂
    Semoga besok2 bisa main ke musium ini.
    Btw, jujur baru tahu sih ada museum Geologi ini :mrgreen:

    • saya waktu kecil (SD) pernah sekali diajak ke radya pustaka sama ayah, sekarang sudah lupa… sdan itu satu2nya museum di solo yang pernah saya masuki mas haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s