Belajar Melestarikan Alam di Hutan Adat Desa Guguk

memotret bunga hutan

Awalnya saya tidak tertarik menyambangi Guguk. Sampai saya datang ke Merangin Expo, melihat artikel menarik di majalah Gatra disana dan memotretnya.  Seorang petugas stand memperbolehkan saya membawa pulang majalah tersebut. Artikel tersebut menyorot kearifan lokal masyarakat desa Guguk dalam melestarikan hutan adat mereka.

Guguk (dibaca gu-guk, bukan gug-gug) adalah sebuah nama sebuah desa di kecamatan Renah Pembarap. Sekitar 34 km dari kantor saya ke arah Kerinci.  Di dalam kawasan desa ini dibentuk hutan adat desa Guguk yang pada tahun 2005 lalu dianugerahi Kalpataru dari pemerintah provinsi dan 2014 meraih Kalpataru dari pemerintah pusat atas kegigihan masyarakat melestarikan hutan adat. Guguk adalah zona pendukung dari kawasan primer geopark Merangin. 

Hutan Guguk sebagai hutan konservasi terus dijaga oleh masyarakat karena kekayaan hayatinya. Selain hasil hutan bernilai ekonomis seperti tembesi, rotan, pasak bumi, jernang, Guguk merupakan rumah bagi satwa endemis Sumatera seperti harimau sumatera, beruang madu, siamang, rangkok dan burung kuau yang telah dijadikan fauna khas kabupaten Merangin.

Sebelum berangkat terlebih dulu saya mengumpulkan informasi dari museum Geopark Merangin dan meminta narahubung pemandu untuk menuju ke dalam hutan. Pengunjung tidak diperkenankan masuk hutan sembarangan, harus melalui KPHA atau Kelompok Pengelola Hutan Adat. Sebelum hari H, saya menghubungi pemandu tersebut, menanyakan tarif dan fasilitas selama trekking ke hutan sekaligus mengumpulkan kawan-kawan yang berminat trekking ke hutan Guguk.

Hari H, terkumpul 9 orang teman kantor termasuk saya. Kami singgah di Melati sebentar untuk membeli minuman dan makanan, lantas membeli nasi bungkus di Pasar Atas. Setelah bertanya beberapa kali, sekitar sejam kemudian kami sampai di simpang Desa Guguk.

Terjadi sedikit miskomunikasi yang menyebabkan kami harus menunggu sekitar setengah jam untuk menunggu guide yang sebenarnya datang. Kontak yang saya hubungi sebelumnya rupanya adalah salah satu pengurus hutan adat, bukan pemandu. Sambil menunggu, kedatangan kami membuat anak-anak SD desa Guguk antusias minta difoto.

Karena rombongan kami dianggap cukup banyak, Pak Anshori, sang pemandu kami mengajak dua rekannya. Sepanjang perjalanan nanti, beliau nanti banyak bercerita sejarah hutan Guguk, jenis vegetasi dan aturan-aturan adat desa Guguk.

Setelah memarkirkan kendaraan dekat masjid, kami mulai berjalan. Kami melewati kebun buah-buahan milik warga. Beraneka buah ditanam seperti durian, duku, dan manggis. Kata pak Anshori, di desa Guguk berlaku hukum adat turun temurun yang mengatur pengelolaan dan pelestarian hasil hutan, termasuk buah-buahan meski tidak termasuk dalam kawasan hutan. Misalnya buah durian. Durian yang telah matang tidak boleh dipetik. Buah harus jatuh sendiri. Memetik durian meski dikebun sendiri bisa didenda adat 3 ekor kambing!

Sebuah jembatan gantung membentang di atas sungai Batang Merangin sepanjang dua ratus meter. Jembatan ini sekaligus menjadi “gerbang” menuju hutan adat. Tak hanya dilewati manusia, jembatan ini juga rupanya dilewati kendaraan roda dua. Kami harus menepi saat ada kendaraan dua lewat, membuat badan tergoyang.

pantai dengan kerikil batu 

Selepas jembatan, jalan agak sedikit menanjak. Tidak ada lagi rumah penduduk. Kami ditunjukkan sebuah rimbunan bambu yang dibaliknya terdapat makam leluhur desa Guguk, Syekh Rajo. Beliau menurut cerita turun temurun berasal dari Jawa Mataram, salah satu keturunannya menikah dengan putri dari Minangkabau. Hingga saat ini warga Guguk percaya mereka berdarah campuran Jawa dan Minang. Meskipun dalam keseharian, mereka bertutur dalam bahasa Merangin.

Nama Guguk dalam bahasa setempat bermakna gubuk atau pondok. Nenek moyang desa Guguk awalnya tinggal di gubuk-gubuk di sebelah utara sungai Merangin, sekarang warga desa menyebar hingga ke sebelah selatan sungai.

Jalan setapak yang kami lalui sudah ada sejak zaman Belanda. Pemerintah kolonial membuat jalan untuk memudahkan pengintaian terhadap masyarakat. Jalan ini katanya tembus hingga ke Muara Siau. Namun, jalan ini sudah tidak dilalui masyarakat.

Jalanan semakin menanjak, kami mulai mendaki bukit Tapanggang. Pak Anshori menceritakan awalnya hutan Guguk ditetapkan oleh Sultan Jambi pada tahun 1790 sebagai hutan adat. Namun, saat Orde Baru, hutan Guguk dikuasai oleh sebuah perusahaan HPH. Karena terjadi pembalakan liar, warga desa berusaha merebut hak mereka kembali. Setelah melalui perjuangan panjang, warga berhasil meraih hak pengelolaan atas hutan Guguk. Perusahaan yang lama bercokol di hutan adat diusir dan didenda adat berupa seekor kerbau, 100 gantang beras, 100 butir kelapa, bumbu masak, gula kopi yang dikonversi menjadi uang 42 juta dan diserahkan ke kas desa.

Hujan sempat turun dan membuat langkah kami sempat melambat. Saya yang tak biasa berjalan jauh meminta untuk berhenti. Jalan menyusuri punggung bukit nan terjal membuat saya beberapa kali hampir menyerah. Teman-teman saya memberi suntikan semangat untuk tetap berjalan.

Sepanjang jalan pak Anshori menunjukkan beberapa tumbuhan seperti kepayang, pasak bumi, dan lain-lain beserta manfaatnya yang sukar saya ingat.

Meski langkah saya berat, akhirnya kami tiba di tempat yang agak lapang yang disebut pos satu yang merupakan puncak bukit Tapanggang. Sebuah gubuk sederhana berbentuk rumah panggung kayu dan atap seng. Kami rehat sebentar untuk minum dan makan snack. 

Dari atas pos nampak perbukitan dan desa Guguk dimana merupakan titik awal perjalanan kami. Tidak terbayangkan kami sudah berjalan sejauh ini


Jalan dari pos satu ke pos dua tak seberat menuju pos satu. Meski masih menanjak, tetapi cukup landai. Vegetasi semakin lebat. Kami beberapa kali melewati bekas pohon yang tumbang. Pohon-pohon semakin rapat dan menjulang. Meskipun tengah hari, dalam beberapa saat saya seperti merasakan remang karena pohon yang rapat.

Kami sempat berfoto di kaki sebuah pohon yang sangat besar. Untuk melingkari pohon ini, perlu rentangan tangan enam orang dewasa. Ini merupakan pohon berdiameter terbesar di hutan ini.

Meskipun berstatus hutan adat, warga desa tetap diperbolehkan mengambil hasil kayu dari hutan Guguk.  Syaratnya, kayu hanya ditebang untuk dijadikan bahan membangun rumah atau fasilitas umum desa. Bagi warga yang akan menebang 1 pohon diwajibkan menanam 5 bibit pohon dengan jenis yang sama. Pohon yang ditebang harus berdiameter berdiameter 1,8 meter ke bawah serta wajib membayar 25% dari harga kayu. Jika aturan ini dilanggar siap-siap dikenai denda 1 ekor kambing hingga kerbau tergantung seberapa besar jenis pelanggaran yang dilakukan. Aturan yang sangat ketat ini demi pelestarian hutan adat.
Beberapa kali pak Anshori berhenti saat terdengar suara hewan seperti siamang atau kuau. Beliau sejak kecil diajak ayahnya masuk ke hutan ini. Beliau belajar nama-nama tumbuhan dan manfaatnya. Saat ini kebiasaan ini ia wariskan ke anaknya yang laki-laki. Puluhan bahkan ratusan pengunjung -sebagian besar peneliti dan mahasiswa- belajar mengenai pengelolaan hasil hutan dan manfaat kepadanya. 
Lewat dari jam 12, kami tiba di pos 2. Sebuah pondokan berdinding kayu dan beratap seng. Di tempat ini kami melepas lelah. Makan nasi bungkus terasa sangat istimewa ditemani teman-teman seperjalanan dalam nuansa riang. Tidak jauh dari pos dua merupakan tempat yang dimana habitat harimau Sumatera berdiam. Dulu sempat dipasang beberapa kamera pengintai dan hasilnya mengejutkan. Beberapa satwa langka termasuk harimau Sumatra dan beruang madu tertangkap kamera. Sayangnya, karena tempatnya agak gelap dan menimbulkan kesan magis membuat saya lupa merekam tempat tersebut.
Petualangan di hutan Guguk masih menyisakan pos 3 sebagai pos terakhir sebelum akhirnya berakhir di air terjun Muara Betung. Jarak pos dua ke pos tiga sangat jauh.  Bisa-bisa sore hari kami sampai disana dan harus menginap untuk pulang. Kami memutuskan untuk kembali ke tempat awal.
Pak Anshori mengajak kami menuruni bukit melalui jalan yang berbeda. Saat hendak menyeberangi sungai Merangin, beberapa kawan digigit pacet, sang hewan kecil penghisap darah. Saya digigit sekali, Randa, bang Afdal dan pak AHW digigit berkali-kali.
Lepas sholat Duhur, kami naik sampan ke muara sungai Nilo Dingin. Sungai ini merupakan anak sungai Merangin. Mandi dan berenang di sungai merupakan agenda penutup setelah lelah mengarungi hutan Guguk! 
Iklan

11 comments

  1. semakin banyak hutan yang benar2 dijaga seperti ini semakin bagus untuk bumi … dan juga dapat dimanfaatkan untuk pariwisata … asyik banget menjelajah kehutan seperti ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s