[Reviu] Bandara Muara Bungo

Bandara Muara Bungo (MRB)

Minggu lalu, saya ditugaskan oleh kantor menghadiri acara pelatihan di Jakarta. Saya tertarik menjajal naik pesawat dari Muara Bungo, kota tetangga yang berjarak 76 km dari Bangko. Saya naik kendaraan operasional kantor karena tidak ada angkutan umum langsung dari Bangko ke bandara Muara Bungo.

Berikut hal-hal yang perlu diketahui tentang Bandara Muara Bungo : 

  1. Bandara Ketiga di Provinsi Jambi

    Bandara Muara Bungo diresmikan tahun 2012. Tahun 2014 diadakan perpanjangan landasan pacu dari 1.350 meter menjadi 1800 meter dan diresmikan oleh Presiden SBY di Kuala Namu, bersamaan dengan peresmian pembangunan bandara Kualanamu, bandara  Pekon Serai di Lampung Barat, bandara Atung Bungsu Pagar Alam dan peresmian pengembangan bandara Raja Haji Fisabilillah di Tanjung Pinang dan bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru. 
    Di Jambi, Muara Bungo adalah kota ketiga yang memiliki bandara setelah Jambi (Bandara Sultan Thaha Syaifuddin) dan Kerinci (Bandara Depati Parbo). Muara Bungo adalah bandara yang dinamai berdasarkan nama tempat. Sempat diwacanakan dinamai bandara Lebai Hasan. Hingga saat ini nama yang dipakai hanya Bandara Muara Bungo saja. 

    Dari ketiga bandara tersebut, saya baru sekali naik pesawat dari Jambi ke Kerinci. Selebihnya selalu lewat Jambi

  2. Rute PenerbanganSejak diresmikan, beberapa maskapai pernah terbang di Muara Bungo seperti Aviastar dan Susi Air. Selang sekian tahun, kedua maskapai tersebut berhenti terbang ke Muara Bungo.

Aktivitas penerbangan baru benar-benar ramai setelah maskapai Sriwijaya Air membuka penerbangan Muara Bungo – Jakarta pp pada tahun 2016. Lantas diteruskan oleh NAM Air hingga saat ini dengan frekuensi dua kali sehari. Dari Muara Bungo jam 10.05 dan 16.35.

Lion Air dengan pesawat Wings Air melayani penerbangan ke Kerinci, Jambi dan Jakarta (via Jambi) mulai Februari 2018.

Sayangnya, tiket NAM baik rute Muara Bungo ke Jakarta atau sebaliknya saya rasa masih sangat mahal. Saya mendapat tiket Rp 900 ribuan sekali jalan. Bandingkan dengan tiket Jambi Jakarta yang hanya Rp 400/500 ribuan sekali jalan. Semoga kedepannya akan semakin banyak maskapai membuka penerbangan ke Muara Bungo.

3. Akses Bandara

Muara Bungo adalah kota terbesar kedua di wilayah Jambi bagian barat setelah Kota Sungai Penuh. Dengan ramainya penerbangan di Muara Bungo, diharapkan akses dari Jakarta menuju kabupaten sekitar Bungo meliputi Dharmasraya, Tebo, Merangin dan Sarolangun menjadi semakin mudah.

Mekipun menyandang nama Bandara Muara Bungo, lokasi bandara berlokasi di wilayah kecamatan Rimbo Tengah kabupaten Bungo. Dari jalan lintas Sumatera (Simpang Semagi Waterpark) berjarak 11 km, dan dari pusat kota Muara Bungo berjarak 13 km. Meski begitu, papan petunjuk berwarna hijau di jalan menyebutkan jaraknya 14 km.

Dari Bangko, transportasi umum menuju bandara Muara Bungo belum tersedia. Jika tidak menggunakan kendaraan pribadi, tambang (angkot L 300) hanya melayani perjalanan hingga Simpang Semagi Waterpark / Masjid Agung Kab. Bungo (Rp 30.000,-) lanjut ojek hingga bandara (Rp 50.000). Sebaliknya, dari bandara juga tidak tersedia angkutan umum menuju kota Muara Bungo. Satu-satunya angkutan adalah ojek seharga Rp 50.000,- yang tidak bisa ditawar.

Menurut saya, harga segitu cukup sebanding karena jarak dari bandara ke Masjid Agung sangat jauh sekitar 14 km (perhitungan di g-maps).

4. Fasilitas Bandara

Saat hendak masuk ke ruang check in, saya harus menunjukkan tiket penerbangan (bisa softcopy) ke petugas bandara, lantas memindai diri dan bagasi. Ruang  check in terlihat lengang karena saya datang 1,5 jam sebelum keberangkatan. Interior ruangan masih terlihat sangat minimalis berwarna putih membosankan. Saat ini hanya dua maskapai yang beroperasi di sini. Wings Air dan NAM Air. Pelayanan check in berlangsung cepat.

Setelah mendapat boarding pass, saya melewati metal detector dan pemindai bagasi. Tidak ada petugas yang berjaga dan alat tersebut sepertinya tidak dihidupkan.

Ruang tunggu keberangkatan cukup lapang. Tersedia televisi dan colokan charger. Banyak kursi kosong. Toilet dan ruang ibadah tidak berada di ruang tunggu melainkan di dekat metal detector kedua.

Saat ini belum tersedia gerai makanan dan oleh-oleh di luar atau di dalam bandara. Saran saya, sarapan di rumah dan beli oleh-oleh di daerah asal. Oleh-oleh khas Muara Bungo yang banyak dibawa justru pempek Palembang. Dari sekian merk, saya suka pempek Olivia yang berlokasi di dua tempat: Jalan Lebai Hasan Sungai Pinang dan Jalan Imam Bonjol Pasir Putih.

Sedang menunggu kedatangan pesawat, datang rombongan anak-anak TK dari Kuamang Kuning berdarmawisata ke bandara. Mereka menunggu pesawat datang di luar ruang keberangkatan.

Jam 10 lebih pesawat saya baru mendarat dan saya boarding jam 10.30. Terlambat 25 menit dari jadwal seharusnya. Bye Muara Bungo.

Mendarat di Muara Bungo
Penerbangan sebaliknya dari Jakarta ke Muara Bungo tidak ada hambatan berarti. Saya sempat melihat sungai Batang Pelepat dan beberapa sungai besar, pasar Muara Bungo dari ketinggian sebelum akhirnya pesawat  berbalik arah dan mendarat.

Pesawat mendarat agak keras karena landasan bandara pendek kurang dari 2000 meter. Maklumkan saja, toh demi keselamatan penumpang, kan!

Tidak ada garbarata di bandara Muara Bungo sehingga penumpang turun melewati tangga. Bagasi disampaikan melalui belt yang berbentuk linear, bukan melingkar. Berbeda dengan ruang keberangkatan, dinding ruang kedatangan semarak dihiasi berbagi banner. Mulai dari ucapan selamat datang, iklan hotel hingga destinasi wisata di Bungo dan Merangin.

Tanpa ada teriakan calo taksi dan ojek, saya melenggang santai keluar bandara. Atas informasi dari bapak penjual es krim keliling, ojek tersedia di dekat selasar luar. Segera saya mencari ojek menuju masjid agung lantas berencana naik tambang ke Bangko.

 

Iklan

17 comments

  1. Ojek online juga belum ada mas? Tapi ojek atau transportasi penghubung dari bandara ke pusat kota itu selalu ada gak sih? Kan, kasihan penumpang kalau udah sampai sana, tapi gak ada yang jemput. 😅

  2. Yang pertama aku lihat adalah : yaah ga ada rute Bungo – Palembang :D. Seandainya dulu udah ada Bandara ini, pasti lebih milih naek pesawat dari Bungo aja kalau dinas ke Jakarta, daripada ke Jambi. Hebat ya Bungo 😀 Bangko kapan? :p

  3. masih sedikit maskapai yang pakai bandara ini ya … tapi kemungkinan kedepannya akan semakin banyak dan fasilitas dan sarana di bandarapun semoga semakin baik dan membuat nyaman para travelers

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s