Istano Silinduang Bulan dan Prasasti Adityawarman

Saat perjalanan dari pusat kota Batusangkar menuju Istano Basa, mata saya menangkap beberapa objek menarik. Di antaranya yaitu Istana Silindung Bulan, Ustano Raja Alam dan Prasasti Adityawarman. Semua objek itu tepat berada di tepi jalan raya ke arah Istano Basa.

Dengan berjalan kaki sekitar satu kilometer, saya tiba di depan istana kecil ini. Sebuah bangunan menyerupai rumah gadang dengan tujuh gonjong dan dua rangkiang.

Berbeda dengan Istano Basa yang riuh pengunjung, sunyi saya dapatkan di Istano Silinduang Bulan ini. Hanya dua buah jendela yang terbuka. Pintu dan jendela lainnya tertutup. Istano Silinduang Bulan memang sepertinya menutup diri dari wisatawan. Pun di dunia maya, minim sumber pembahasan menyebut tentang istana ini.

Saat hendak melangkah masuk ke halaman istana, saya dikejutkan dengan seekor dogy yang duduk manis di areal samping halaman istana. Saya bingung apakah tetap masuk dengan risiko digonggong atau membatalkan niat ke istana ini.

Batal masuk istana, saya lanjutkan perjalanan menuju kompleks pemakaman raja-raja Minangkabau yang bernama Ustano Rajo Alam.

Sebelum sampai di pemakaman, terdapat beberapa rumah gadang khas Minang yang cantik di kiri dan kanan jalan. 


rumah gadang yang dimakan usia

Ustano Rajo Alam adalah kompleks makam kuno dengan nisan berbentuk menyerupai menhir seperti makam-makam kuno di Kerinci. Beberapa nisan memiliki bentuk melengkung seperti tanaman paku. Sebuah batu tampak patah menjadi dua. Di sisi yang lain saya melihat susunan batu menyerupai batu persidangan di kompleks Batu Parsidangan, Toba.


Tak ada keterangan tentang siapa yang dimakamkan di Ustano Raja Alam ini. Pun tak ada juru kunci makam yang bisa ditanyai. Pada sebuah nisan yang lain tampak dibungkus kain putih dan di sekelilingnya diselubungi tabir berwarna kuning. Menyiratkan kedudukan pemilik makam selama hidup.

Langkah saya lanjutkan kembali menuju prasasti Adityawarman. Kembali, rumah-rumah gadang berukir cantik berwarna-warni membuat perjalanan di Batusangkar ini terasa berwarna.

Prasasti Adityawarman berada di tepi jalan. Sebuah pagar berwarna biru membatasi pengunjung dengan delapan buah prasasti yang ditempatkan di bawah bangunan beratap permanen. Prasasti tersebut memakai huruf Jawa Kuno berbahasa Sansekerta dan Melayu Kuno.

Sebuah panel informasi dipajang sehingga memudahkan pengunjung memahami prasasti Adityawarman.

Prasasti Adityawarman atau prasasti Pagaruyung terdiri dari 9 buah prasasti. Prasati tersebut sebanyak 8 buah diletakkan di tempat ini, diberikan nama Prasasti I hingga VIII, sedangkan 1 buah lagi disimpan di Balai Pelestarian Cagar Budaya Batusangkar.

Prasasti pertama menceritakan raja Adityawarman yang menganut agama Buddha Tantrayana yang berkedudukan di Swarnabhumi (Tanah Emas). Prasati IV menyebut nama Sarawasa yang saat ini dikenal dengan nagari Saruaso. Kemungkinan Saruaso adalah pusat kerajaan Pagaruyung Kuno.

Pada prasasti VI disebut nama Tumanggung Kudawira yang diperkirakan pemimpin ekspedisi Pamalayu dari kerajaan Singasari dari pulau Jawa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s