Istano Basa, Jejak Kesultanan Pagaruyung

Istano Basa Pagaruyuang, Batusangkar, Sumatera Barat

Tersebutlah Pagaruyung, sebuah kerajaan Buddha yang didirikan oleh Adityawarman pada abad ke-14. Wilayah kekuasaannya tak hanya meliputi Sumatera Barat saat ini, melainkan beberapa daerah di sekitarnya. Menurut peninggalan sejarah, pusat kerajaan berpusat di Saruaso, tidak jauh dari kota Batusangkar, ibukota kabupaten Tanah Datar saat ini.

Perkenalan pertama dengan Pagaruyung saya lalui lewat sebuah arca luar biasa di museum nasional Jakarta, beberapa tahun lalu. Bhairawa, arca raksasa setinggi 4 meter lebih disimbolkan sebagai Adityawarman, raja Pagaruyung.

Saat ini Pagaruyung tak lagi eksis sebagai kerajaan Buddha, melainkan sebuah bekas kesultanan bernafas Islam. Lokasi istananya tak lagi berada di Saruaso, melainkan di Pagaruyung. Istano Basa yang berarti istana agung, saat ini tak lagi dihuni keluarga sultan. Sultan Alam Bagagarsyah, sultan  Pagaruyung terakhir mangkat tahun 1849.

Dari rumah kawan saya di Baso, saya naik angkot jurusan Bukittinggi-Batusangkar. Jalan yang berliku menyerupai jalur ular, udara dingin khas pegunungan, sawah dan bukit yang berkabut membuat rasa penasaran bagaimana bentuk istano Basa nanti. Dari pusat kota Batusangkar yang tidak terlalu ramai, saya harus melanjutkan perjalanan naik ojek.

Setelah menebus tiket sebesar Rp 15.000,- saya masuk ke dalam kompleks istana. Ada beberapa anak tangga yang harus dilalui sebelum mencapai istana. Panas matahari sedikit terhalau udara dingin pegunungan. Marawa, bendera triwarna khas Minangkabau berkibar dengan gagah. Warna merah, kuning, hitam melambangkan tiga luhak atau daerah asal orang Minangkabau: Agam, Tanah Datar dan Lima Puluh.

Tampak beberapa orang yang mengenakan pakaian adat Minang. Di bagian bawah istana merupakan tempat pakaian adat Minangkabau disewakan dengan harga Rp 35.000,- sekali pakai. 

Tak seperti istana beberapa kerajaan lain di Indonesia yang terpengaruh arsitektur kolonial, Istano Basa mengadopsi arsiektur tradisional Minangkabau. Menyerupai sebuah rumah gadang, tetapi dalam wujud yang lebih megah. Di belakang istana adalah tebing bukit menyerupai benteng yang kokoh.

Sebelum ke dalam, saya harus melepas sepatu di tangga masuk. Setelah mengisi buku tamu, baru saya bisa berkeliling. Karena sedang tidak ada pemandu, saya memutuskan berjalan sendiri. Toh, ada beberapa panel yang bisa saya baca sendiri.

Di tengah-tengah terdapat sebuah alas duduk tebal yang disebut singgasana dengan kelambu yang menjuntai dari langit-langit. Karena suku Minangkabau menganut garis ibu, tempat ini bukan untuk raja, melainkan tempat duduk Bundo Kanduang atau ibu suri dari raja.

Istano Basa terdiri dari tiga lantai. Lantai satu berfungsi sebagai museum. Disini disimpan replika mahkota sultan, keris, dan potongan kayu sisa kebakaran tahun 2007. Istano Basa sempat terbakar 3 kali. Tahun 1837, tahun 1966, dan tahun 2007. Istana yang saya lihat sekarang dibangun tahun 2007.

Ada beberapa kamar di lantai satu. Kamar di sebelah kiri disebut anjuang perak yang dipakai oleh Bundo Kanduang. Kamar di sebelah kanan disebut anjuang rajo babandiang tempat kediaman raja dan permaisuri. Kamar lainnya ditempati oleh putri raja yang sudah menikah. Kamar bundo kanduang dan kamar raja dilapisi tirai warna-warni sebanyak tujuh lapis.

Datuak dan Bundo Kanduang

Beranjak ke lantai dua adalah anjuang paranginan, kamar anak gadis. Tangga kayu yang dipijak menghasilkan bunyi decit. Dari sini bisa dilihat rangkiang, bilik tinggi dua lantai tempat menyimpan padi yang lokasinya berada di depan halaman istana. Serta surau/mushola.

Lantai tiga sekaligus lantai teratas disebut mahligai yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda pusaka kerajaan termasuk mahkota sultan.

jendela lokasi favorit berfoto

Dari lantai ini bisa dilihat keramaian di halaman depan istana dan bukit di belakang istana yang dihiasi tulisan besar PAGARUYUNG. Di puncak bukit itu konon merupakan tapak pertama istana Pagaruyung.

Masih ada satu ruangan lagi di belakang istana. Dihubungkan dengan selasar, terletak dapua atau dapur istana. Dapur ini terdiri dari dua ruangan. Ruangan pertama adalah tempat tidur dayang istana yang berjumlah 12 orang. Sayangnya ruangan ini terkunci rapat. Dan ruangan di sebelahnya adalah dapur.

Sebuah bak kayu diletakkan ditengah ruangan dan dipenuhi dengan butiran pasir. Di atas pasir diletakkan 3 buah batu sebagai alas tungku. Nah, para dayang akan memasak di atas bak pasir ini. Alat masak dan alat makan di dapur ini masih serba tradisional. Kebiasaan makan orang Minang tanpa sendok dan garpu telah diwariskan sejak dulu. Beberapa gelas kuno dari bambu dan batok kelapa bertengger manis di atas meja.

Penjelajahan di dalam istana selesai. Di belakang istana adalah danau buatan dan replika rumah adat Bodi Chaniago dan Koto Piliang. Sayang tidak ada keterangan rumah tersebut.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s