Haru Harau

Tebing di Harau, Kab. Lima Puluh Kota

Perkenalan pertama dengan Harau terjadi dalam mobil yang membawa saya dari Pekanbaru ke Bukittinggi sekitar 10 tahun lampau. Dalam perjalanan bersama rekan sekantor yang hendak pulang kampuang ke Ampek Angkek, nagari di pinggiran kota Bukittinggi.

Harau yang saya ingat adalah daerah dimana terbangun tebing maha tinggi berwarna cokelat kemerahan ditimpa matahari sore berwarna jingga, di tengah hamparan sawah berwarna kekuningan. Hanya sekilas pandangan saya melihatnya karena mobil yang saya tumpangi hanya sekedar lewat di Harau sebelum akhirnya senja ditelan malam.

Saat mendapat tugas luar kota ke Batusangkar, akhir tahun lalu, baru saya berkesempatan menyapa Harau lebih dekat. Saya tak sendiri, saya ajak kawan-kawan kantor yang berminat ke Harau.

Dari Batusangkar, peta online di gawai menyuruh kami melalui jalan tembus ke arah Payakumbuh alih-alih melalui Baso. Belum masuk kabupaten Lima Puluh Kota, jalan ditutup warga karena ada pasar kaget. Terpaksa kami harus memutar lebih jauh mencari alternatif lain.

Tiba di Payakumbuh kami singgah di sebuah toko kelontong bertanya akses menuju Harau. Harau sejatinya berada di kabupaten Lima Puluh Kota, sekitar setengah jam dari kota Payakumbuh ke arah Pekanbaru.

Pos kecil menyapa setiap pengunjung yang hendak menuju Harau. Tiket sebesar Rp 5.000,- wajib dibayarkan setiap orang. Kata petugas jaga, biaya parkir dibayar nanti di dalam lokasi.

Harau, sang benteng tebing raksasa berukuran lebih dari seratus meter berwarna cokelat kemerahan. Di bawah tebing terbentang sawah menghijau.Β Lembah Harau sejatinya adalah fenomena geologi biasa berupa patahan yang terjadi karena proses geologi jutaan tahun lampau. Yang menjadikan Harau istimewa karena ukuran tebing yang super masif setinggi ratusan meter dengan panjang berkilo-kilometer. Seketika muncul rasa kagum sekaligus haru atas ciptaan Tuhan yang luar biasa. Foto-foto yang saya ambil rasanya tidak cukup untuk menggambarkan kemegahan Harau.

Tujuan pertama kami adalah Sarasah Aka Barayun, sebuah air terjun dengan kolam pemandian di bawahnya.

Puas berfoto, kami putar balik ke lembah Echo. Konon, pada sebuah titik, jika kita berteriak, suara kita akan menimbulkan gema. Penasaran, kami semua berteriak berulang-ulang.

Sebelum pulang ke Batusangkar, Randa teman saya ingin menuju sebuah spot berfoto ala Korea. Setelah bertanya, tempat tersebut rupanya tidak jauh dari lembah Echo, namanya Sarasah Bunta.

Sebuah foto bangunan dua lantai beratap gonjong, pohon kering, dan halaman berpasir putih yang diunggah di media sosial menimbulkan decak wabah selfie para netizen di Sumatera Barat. Mirip di adegan film Korea katanya! Zzzzz…..

Bangunan dimaksud rupanya sekolah. Pasir putih diedit sedemikian rupa sehingga seolah-oleh menyerupai salju. Tak heran saat ini Sarasah Bunta menjadi spot paling ramai di Lembah Harau.

Tak hanya rumah Korea, kanal buatan di Sarasah Bunta dimanfaatkan sebagai wahana dayung sampan. Sepasang pengunjung menaiki sampan dalam sesi foto pranikah mereka.

Jika tak ingat kami masih ada urusan di Batusangkar, kami akan memilih berlama-lama di Harau.

Iklan

14 Comments Add yours

  1. Pungky Sudrajat berkata:

    Rumah korea itu kok belum ada ya pas saya dulu di payakumbuh…

    1. Avant Garde berkata:

      sudah lama lho mas sekolahnya πŸ™‚

  2. ainun berkata:

    iya ya halaman sekolahnya sekilas seperti yg di drama drama korea gitu

    1. Avant Garde berkata:

      ya mbak πŸ™‚ kata temen saya yg suka drama korea hehe

  3. Kubikel Yusuf berkata:

    2015 saya main kesitu eh malah ada asap parah banget jadinya ga maksimal , btw jadi ingat lempeng bulat yang dicemil di dkat serasah

    1. Avant Garde berkata:

      maksdunya keripik yang disiram kuah sate ya mas? hehehe

      1. Kubikel Yusuf berkata:

        Iya mas, yang lebar bener itu

        1. Avant Garde berkata:

          sepertinya harus ke Harau lagi mas, ada banyak spot instagenik di sekitar Harau πŸ™‚

  4. bersapedahan berkata:

    pernah sekali ke harau .. tapi kayaknya waktu itu belum ada bangunan sekolah “korea” ini … wah keren nihh … jadi pengen kesana lagi .. biar kekinian πŸ™‚

    1. Avant Garde berkata:

      ini dekat sarasah bunta mas Bersa hehe, hayok kesini lagi, foto2 di jembatan kelok 9 sekalian

  5. Harau dilihat dari tv atau dari foto selalu terlihat indah ya. Aku pernah lihat acara masak2 di tv yang viewnya persis di antara dua tebing besar itu. Kirain dimana, eh ternyata di kampung sendiri muahahaha *bener2 padang sesat.

    Nah yang sekolah mirip Korea view itu baru tahu. Sekilas memang ga tampak seperti di Indonesia, kalau ga lihat bentuk atap rumah gadangnya πŸ™‚

    1. Avant Garde berkata:

      Udah sering kesini kan mba? Pernah dipake buat film Merantau Iko Uwais juga lho…
      Hehehe, iyah, kalo berdiri menutupi gonjong rumah gadang, whiteness dinaikin, ada nampak pohon keringnya, kaya salju mba ((katanya)) menurut aku sih biasa aja haha

      1. Masa sih biasa aja? tapi di foto bagus lho beneran hahaha. Yg ngedit jago berarti. Aku belum pernah kesana 😱 seumur hidup baru 2x pulkam dan muter2 di Bukittinggi sama Pariaman aja 😭

        1. Avant Garde berkata:

          oh, kirain udah ke harau tapi nggak ke rumah korea mba, biasa aja mah aslinya wkwkw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s