Pekanbaru Heritage Walk, Cara Asik Belajar Sejarah Kota Pekanbaru

 aktivitas penyeberangan di Sungai Siak – Dok. PT Chevron  

Pekanbaru, sebagaimana kota-kota besar lainnya di timur Sumatera, tumbuh dan berkembang karena aktivitas perdagangan di tepi sungai sejak masa lalu lampau.

Deli (Medan) tumbuh di tepi sungai Deli dan Babura sejak zaman Kesultanan Deli. Kota Jambi di tepi sungai Batanghari didirikan oleh Orang Kayo Hitam. Palembang di tepi sungai Musi bahkan didirikan sejak kerajaan Sriwijaya.

Jejak masa lalu Pekanbaru tersembunyi di kawasan Kampung Bandar dan Kampung Dalam. Saat ini masuk wilayah kecamatan Senapelan. Kota tua Pekanbaru memang tak seluas Kota Tua Jakarta ataupun Kota Lama Semarang. Lokasinya yang tersembunyi diantara lorong-lorong sempit di pemukiman seolah tak terjamah dan tak banyak orang tahu. Padahal jaraknya hanya selemparan dari Pasar Bawah, pusat oleh-oleh yang ramai turis.

Lorong-lorong ini menyimpan cerita bagaimana kota ini bermetamorfosis dari kampung kecil di tepi Sungai Siak bernama Payung Sekaki. Lantas diubah menjadi Bandar Senapelan. Pada masa kesultanan Siak diubah menjadi sebuah kota pelabuhan yang ramai bernama Pekan Baharu. Terakhir menjadi Pekanbaru.

***

Saat saya berada di hotel, mata saya tak sengaja menangkap banner Pekanbaru Heritage Walk terletak di sudut lobi. Katanya tur ini akan mengajak wisatawan yang mempunyai minat sejarah untuk berjalan kaki berkeliling sudut-sudut kota tua Pekanbaru. Saya penasaran karena belum pernah mengikuti heritage walk sebelumnya. Segera saya hubungi nomor kontak di banner tersebut. Saya lontarkan ajakan mengikuti heritage walk ke beberapa kawan di Pekanbaru yang saya kenal. Mondang, kawan saya di komunitas CouchSurfing Pekanbaru tertarik bergabung.

Setelah sarapan pagi, pesan WhatsApp saya baru dibalas kak Yuli dari Pekanbaru Heritage Walk. Karena Mondang pagi itu masih ada kesibukan, saya dan kak Yuli sepakat bertemu sekitar jam 3 sore di bawah Jembatan Siak III. Meski peserta tour hanya dua orang, kak Yuli tidak keberatan menjadi pemandu kami berdua.

Sore hari, dengan naik taksi online, saya dan Mondang  menuju masjid raya Senapelan, sesuai arahan kak Yuli. Sedikit bergeser dari kesepakatan semula.

Tiba di masjid Senapelan, seorang perempuan berambut cokelat mengenakan kerudung sudah menunggu kami. Rupanya dia kak Yuli.

Usai perkenalan singkat, kami bergegas ke kompleks pemakaman Marhum Pekan di samping masjid. Disini dimakamkan Sultan Siak V sekaligus pendiri Kota Pekanbaru yaitu Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah. Setelah Sultan Siak V meninggal, beliau diberikan gelar Marhum Pekan. Melalui lubang jendela, saya bisa melihat beberapa nisan dari batu hitam yang dibalut kain berwarna kuning seperti makam-makam sultan di Kepri. Turut dimakamkan di dalam astana, Sultan Siak IV Marhum Bukit (ayah Sultan Siak V), ibu dan beberapa saudara.

 makam Marhum Pekan

Beranjak ke halaman belakang bangunan makam, bisa dijumpai makam Abdul Jalil, seorang Datuk Syahbandar, jabatanm semacam walikota Pekanbaru sebagai perwakilan sultan Siak di Pekanbaru.

Di samping makam ini berdiri masjid Nur Alam atau masjid raya Senapelan, masjid tertua di kota Pekanbaru yang dibangun pada masa Sultan Siak IV. Nama Nur Alam diambil dari nama Alamuddin Syah, Sultan Siak IV. Sayang beribu sayang –duh bahasanya-, bentuk masjid yang dijumpai sekarang bukanlah bentuk waktu pertama kali dibangun. Akibat renovasi berulang kali oleh penguasa kota Pekanbaru saat itu, mengakibatkan status benda cagar budaya masjid Nur Alam dicabut oleh balai cagar budaya. 

Saat ini satu-satunya bagian yang masih asli sejak awal berdiri hanya pintu gerbang ke halaman masjid berwarna hijau dan kuning yang berhias kaligrafi Arab.

Tindakan renovasi yang sembarangan turut mengakibatkan sebuah sumur yang dianggap bertuah tidak bisa diakses lagi. Sumur tujuh rasa, begitu kata kak Yuli menyebut demikian karena rasa air sumur ini bisa tawar, segar, manis, gurih, asin tergantung siapa orang yang merasakannya.

Tepat di depan masjid merupakan jalan raya pertama yang dibangun Belanda di Pekanbaru yang dulu disebut Hasyim Straat dan bertahan hingga saat ini menjadi Jalan Hasyim. Jalan ini menghubungkan masjid raya dan Pasar Bawah.

Kami diajak ke sebuah rumah kecil tapi cantik berwarna krem. Setelah menunggu sekian menit, sang pemilik rumah membuka pintu rumah dan mempersilakan kami masuk. Ketika pintu dibuka, saya merasakan hempasan angin yang cukup kuat sehingga membuat saya agak terkejut. Mendengar cerita dari kak Yuli dan om pemilik rumah, beberapa kisah mistis menyelimuti rumah ini. Seperti bunyi pintu rumah yang diketuk di malam hari, sebuah tiang di dalam rumah yang selalu basah,  hingga seorang ilmuwan dari Jepang yang mendadak sakit saat mencoba  mencoba membongkar salah satu bagian rumah.

Awalnya rumah ini merupakan kediaman pribadi Haji Zakaria atau sering dipanggil Tuan Kadi (Hakim Istana) pada masa Sultan Syarif Hasyim I. Istana Hinggap, demikian rumah ini disebut karena merupakan tempat menginap sultan Siak saat mengadakan perjalanan dinas ke Pekanbaru. Sebuah kamar di sayap rumah yang dulu ditempati oleh sultan Siak dalam kondisi kosong dan gelap. Siapapun yang tidur disitu selalu mengalami kejadian aneh kata si oom.

Di dalam rumah ini bisa dijumpai  foto lama Tuan Kadi, istana dan sultan Siak. Sepasang kursi pemberian penguasa Bengkalis Datuk Laksamana Raja Di Laut bisa dijumpai hingga saat ini. Piring kuno, radio kuno menjadikan rumah ini semakin vintage. Setelah beberapa obrolan yang hangat dan menyenangkan, baru kami ketahui bahwa si oom ini satu instansi dengan saya dan Mondang. Beliau bahkan pernah ditugaskan di Muara Bungo, kota tetangga Bangko. Kak Yuli sendiri rupanya berdarah Mandailing boru Nasution. Di lingkungan sekitar, kak Yuli biasa dipanggil Butet. Selanjutnya, saya dan Mondang sepakat memanggil dia kak Butet. Saya sempat bertanya ke kak Butet apakah dia diundang ke pernikahan Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution. Kak Butet tertawa.

Perjalanan kembali dilanjutkan. Kami menyusuri jalanan tidak terlalu ramai dimana kiri jalan adalah pedagang barang bekas. Kami sempat melihat Pasar Bawah, pasar tertua di Pekanbaru yang saat ini difungsikan sebagai pasar oleh-oleh khas Riau.

Persinggahan selanjutnya sebuah gudang usang di tepi sungai Siak. Gudang milik PT Pelindo ini dulu dipakai sebagai tempat penyimpanan sementara hasil bumi dari Minangkabau dan Riau, sebelum dibawa menuju Singapura. Tidak jauh dari gudang ini bisa ditemukan patok 0 kilometer Pekanbaru. Dari titik ini, ditarik sebuah garis berjarak 65 kilometer ke Bangkinang, terus hingga 313 kilometer menuju kota Padang. Tidak jauh dari gudang Pelindo bisa dijumpai bekas kedai kopi pertama Kim Teng, jaringan waralaba kedai kopi paling populer di Pekanbaru.

 
bekas kedai Kim Teng (rumah sebelah kanan)

Kami kembali menyusuri jalanan dengan dengan rumah-rumah tua bergaya indisch dan art deco. Sebagian masih difungsikan, sebagian terbengkalai dimakan usia. Jalanan yang kami tapaki saat ini berupa gang kecil dengan rumah panggung dari kayu bergaya Melayu. Tanaman pandan mudah dijumpai di pekarangan rumah. Selain sebagai bahan masakan, pandan juga dipakai saat upacara adat oleh masyarakat Melayu. 

Beberapa hari setelah kunjungan ini, belasan rumah di jalan Perdagangan musnah dilalap api. Menyisakan masjid Al Huda yang luput dari kobaran api. Tidak ada korban jiwa. Saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah ini. Lihat juga : Kebakaran di Jalan Perdagangan

Tempat berikutnya yang kami datangi sebuah rumah panggung bergaya Melayu yang disebut Rumah Tinggi. Rumah ini sebagaimana rumah lainnya di kampung ini terdiri dari dua lantai. Lantai paling atas yang langsung berada di bawah atap dulu dipakai sebagai tempat memingit anak gadis sebelum menikah.

Dulunya rumah ini adalah milik Haji Yahya, seorang pedang getah karet ternama di Pekanbaru. Saat ini rumah ini dikelola secara bersama-sama oleh ibu-ibu di Kampung Bandar sebagai tempat produksi tenun songket Melayu. Demi melihat kedatangan kami, seorang ibu memberi contoh bagaimana membuat tenun. Melihat tata cara memasukkan benang, gerakan tangan dan kaki yang sangat lincah dengan gerakan tangan dan kaki amat teratur membuat saya mengira ibu ini seorang robot bernyawa. Namun, mengingat kerumitan proses membuat tenun, saya takut untuk mencoba alat tenun saat ditawari untuk sekedar mencoba alat tenun tersebut.

anak-anak Sungai Siak

Tidak terasa kami menginjakkan kaki di tempat terakhir yaitu Taman Tuan Kadi. Sebuah plaza di tepi Sungai Siak. Tepat di bawah Jembatan Siak III. Disini bisa dijumpai rumah milik mertua Tuan Kadi. Dulu, jika Sultan Siak jika berkunjung ke Pekanbaru akan singgah sesaat di rumah ini, lantas berjalan kaki diiringi pengikutnya dan menginap di Istana Hinggap. Dilihat sekilas buku tamu di rumah ini, hampir seluruh pengunjung adalah warga Malaysia. Saat ini, rumah ini dalam keadaan kosong dan hanya dipakai saat acara tertentu.

Tepat di sebelah plaza Taman Tuan Kadi dibangun sentra kuliner Melayu. Roti canai kuah kambing, mie kuah udang menjadi penutup yang sempurna sore ini. Air mata pengantin dan Laksamana Mengamuk kosong sehingga saya hanya memesan es teh saja.

Berjalan beberapa langkah dari rumah Tuan Kadi bisa dijumpai sebuah bekas halte Terminal Lama Pekanbaru yang dibangun sekitar tahun 1950. Hayo, siapa bilang belajar sejarah membosankan?

Pekanbaru Heritage Walk
Kontak : Yulimaswati Nasution
Durasi : 1-2 jam
Donasi : Rp 75.000,- / pack. Rombongan harga negosiasi
Instagram : https://www.instagram.com/pkuheritage/

Iklan

20 comments

  1. nggak nyesel ikutan ini ya. Seru bisa belajar sejarah & mengetahui hal2 yg mungkin kalo ga ikut tur,ga bakalan tau. Kalo sdh ngomongin wilayah pekanbaru dan sekitarnya, selalu identik dgn peninggalan2 saudagar2 jaman dulu ya

    • bener kak, worth it kok, dapet temen baru, ilmu baru, suasana baru dan perspektif baru dalam memandang suatu keadaan atau peristiwa di masa lalu.. salam kenal kak Ainun 🙂

  2. Yang hobi berkunjung ke tempat bersejarah, kayaknya patut dicoba ya.
    Lumayan sambil plesiran bisa dapat ilmu. Hehehe.
    Mudah2an bisa selalu terjadi tempatnya 🙂

  3. setiap kota punya sejarahnya masing2 .. seharusnya kegiatan ini di adakan ditiap kota .. supaya tetap terjaga heritage-nya … sayang banget kalau bangunan2 kuno apalagi bersejarah rusak atau hilang tergerus modernisasi,

  4. Wah menarik sekali ini, kalau wisata di luar negeri sering ada namanya free walking tour. Harapan nya sih Indonesia punya juga ala ala free walking tour ini, sedikit banyak Pekanbaru Heritage Walk ini merepresentasikan hal tersebut namun sepertinya masih belum free ya karena ada biaya nya kalau saya tidak salah baca tadi hehehe. Saya jadi penasaran dan pengen coba nih kalau berkunjung ke Pekanbaru terima kasih infonya mas Avant

    • Bener bang, nggak gratis karena ada spot yang sebenarnya gak dibuka buat umum, jadi sebagian dananya buat dikasihin ke yang punya situs bersejarah tersebut 🙂

      Ditunggu kedatangannya di Pekanbaru 🙂
      Kalo di Medan ada kayak gini nggak?

      • Ooo jadi dananya untuk melestarikan situs tersebut ya, bagus sekali social impactnya ya makin penasaran saya. Namun kalo yang saya tahu free walking tour juga tidak sepenuhnya gratis, jadi ada tips untuk guidenya namun seikhlasnya saja ya kesadaran masing-masing lah. Iya nih di Medan pernah ada yaitu Medan Heritage Walk tapi gak berlangsung lama karena sepertinya mereka kurang promosi atau memang gak terbuka untuk umum dan sekarang saya belum ada dengar lagi, mau nya pemerintah daerah khususnya Dinas Pariwisata dukung ini ya mas jadi mereka bisa masukan program ini di setiap brosur pariwisata iya kan

        • Ow, saya pernah dengar Medan Heritage Walk waktu searching kawasan kota tua Kesawan di Medan. Bang Ferdi lahir dan besar dan domisili di Medan kan? Yuk, abang aja yang jadi guide nya ya hehehe 🙂

  5. Menurut saya sejarah lokal seperti ini memang patut sekali untuk diperdalam. Membuktikan bahwa Indonesia memang sangat kaya; berbagai entitas kehidupan terpisah dengan jalan sejarahnya masing-masing, tetapi mengikatkan diri menjadi satu bangsa yang bersatu. Saya lihat di sini kental dengan sejarah Melayu, tapi juga mencerminkan bandar dagang yang sibuk dan terbuka bagi semua kebudayaan dari seluruh dunia. Yah sejarah sudah membuktikan apa dan bagaimana pengaruh keterbukaan itu sih, hehe. Menarik euy, Bang. Mudah-mudahan suatu hari nanti bisa ke Pekanbaru dan ikut turnya juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s