Gagal Rasa si Bebek Muda

“Nanti siang kita makan itiak ya,” ajak boss saya. Jadilah siang hari itu, setelah berkeliling dari Jam Gadang, kebun binatang dan benteng Fort de Kock di Bukitinggi, kami bergerak ke arah Koto Gadang, kampungnya Laudya Cynthia BellaKami tak hendak menengok Ngarai Sianok, melainkan menyantap itiak. Kuliner khas Bukitinggi.

Itiak, begitulah orang Minang menyebut unggas berkaki dua: bebek. Di Jawa, bebek biasa digoreng begitu saja disajikan dengan sambal dan lalap. Di Padang, bebek disajikan dengan kuah cabai hijau dengan sebutan gulai itiak mudo lado hijau (bebek muda cabai hijau).

Mobil kami bergerak melewati Taman Panorama, lantas menuruni Ngarai Sianok dan menyeberang sungai Batang Sianok ke arah Koto Gadang. Olala, selepas sungai mulai berderet sejumlah rumah makan yang hampir semua menyediakan menu itiak.

Kami berhenti di Lansano Jaya, sebuah rumah makan lesehan yang memiliki tempat parkir paling luas. Paling enak ini, ucap teman saya. Entah enak masakannya atau enak parkirnya. Saya mengangguk saja.

Itiak gulai hijau, cancang dagiang dan pangek ikan hamil dipajang sebagai menu utama. Cancang adalah daging cincang. Sedangkan pangek mirip pepes di Jawa. Ikan hamil? Iya, maksudnya adalah ikan yang di dalam perutnya terkandung telur ikan. 

Harum semerbak durian menyambut setiap pengunjung. Saya dan kawan-kawan memilih tempat duduk di paling ujung. Olala, kejutan lain menanti. Tepat di belakang rumah makan adalah Ngarai Sianok yang cantik. Setelah saya lihat, semua rumah makan sengaja dibangun di tepi ngarai.

Udara dingin, angin dari ngarai yang berhembus sepoi, pemandangan yang indah. Duh, syahdunya…

Berbeda dengan konsep fast food ala rumah makan Padang, kami harus menunggu setengah jam agar semua menu siap. Termasuk itiak yang sangat membuat saya penasaran. Kami tiba di jam makan siang yang sibuk. Semua orang menjadi tak sabar menunggu makanan dihidangkan.

Liur seakan menetes tatkala sepasang itiak disajikan dalam piring ditemani aneka samba. Bentuknya buruk rupa dalam siraman sambal hijau. Rasanya, seluruh badan bebek tertutup sempurna dengan cabai. Pikir saya, ini bukan gulai bebek tapi gulai cabai diberi potongan bebek.

Karena penasaran, saya mencoba menyuwir daging bebek lantas dicicip. Huahhh, dalam suapan pertama, mulut saya dibuat terbakar dengan pedasnya itiak. Huh, hah… Suapan nasi berikutnya tak mampu meredam panas di mulut. Saya memang suka pedas, tapi perut saya kadang tak tahan kalau makan terlalu banyak cabai. Kali ini saya menyerah.

Sebagai gantinya, saya mencoba tambunsu dan ikan goreng. Tambunsu adalah gulai usus sapi khas Bukitinggi. Uniknya, usus sapi diisi tahu dan telur sehingga menggembung seperti lontong. Saya tidak suka jeroan sehingga saya tidak memakan kulit ususnya. Wah, rasanya gurih sekali. Tidak pedas sama sekali. Kalau kurang suka pedas, gulai tambunsu bisa jadi pilihan bersantap di Bukitinggi.

Lesehan Lansano Jaya
Jl. Raya Lambah Maninjau Lambah, Sianok Anam Suku (Ngarai Sianok)
IV Koto, 
Kab. Agam

Iklan

37 comments

  1. Aku bacanya sambil ngiler, mas. Hehehe, suka banget sama cabe ijo, dan cabe ijo d situ pedes ya? Soalnya biasanya nggak terlalu pedes.

    Mas, kali ini aku mohon bantuannya untuk komentar di tulisan terbaruku. Hatur nuhuuunnn.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s