Menjalin Cerita di Kampung Pelangi Bejalen

Entah latah namanya atau inspirasi. Kesuksesan sebuah tempat wisata bisa memicu orang lain untuk membuat tempat wisata serupa. Sejak kampung selfie Jodipan di Malang naik daun, banyak bermunculan tempat berkonsep hampir serupa di Indonesia. Kampung warna-warni di Lubuk Linggau, di kali Code di Jogja hingga di Dago Pojok, Bandung.

Saya sih nggak masalah jika dianggap meniru. Toh, itu kan demi memberdayakan ekonomi dan sosial masyarakat juga. Kehadiran pengunjung menumbuhkan ekonomi warga sekitar. Dari uang yang dibelanjakan para pejalan, warga bisa berjualan makanan, oleh-oleh atau sekedar menyediakan tempat parkir.

Konsep kampung dengan rumah yang dicat warna-warni juga bisa dijumpai di Semarang. Tak hanya satu melainkan dua kampung. Pertama kampung warna-warni Kalisari di Kota Semarang. Kedua kampung warna-warni Bejalen di Ambarawa. 

Kampung warna-warni Bejalen (selanjutnya saya sebut kampung Bejalen saja) berada di tepi danau Rawa Pening. Dari jalan lingkar Ambarawa atau jalan baru, ikuti saja petunjuk di gapura kampung Bejalen. Setelah berbelok gang sempir beberapa kali, kami tiba di tepi Kali Panjang desa Bejalen. Oleh seorang petugas, kami diminta meletakkan kendaraan di halaman rumah kepala desa Bejalen. Tepat di depan rumah kepala desa merupakan kantor Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Desa Bejalen.

Biaya parkir di Bejalen sangat murah. Hanya Rp 2.000,- perkendaraan. Tiket sebagai biaya masuk juga murah. Hanya Rp 2.000,- perorang saja. Kalau berminat tur menyusuri Kali Panjang dikenakan biaya tambahan. Tur ini menuju Rawa Pening dan kembali ke Bejalen.

Karena saat itu cukup panas, kami tidak buang-buang waktu untuk berfoto di sepanjang Kali Panjang. Dulunya dinding rumah-rumah di Bejalen tidak seperti sekarang. Pun pagar dan jembatan di Bejalen tidak semeriah saat ini. Berkat gotong royong warga, desa ini menjadi cantik dan berwarna-warni.

Ada sekitar puluhan rumah sepanjang sekitar 500 meter di sisi kiri dan kanan Kali Panjanh yang siap dijadikan latar foto unik.  Tinggal pilih mau foto dengan latar apa. Warga yang rumahnya dijadikan latar foto tak segan untuk tersenyum ramah saat kami asyik berfoto. 

 

 

Jembatan Kali Panjang juga menjadi salah satu spot favorit sekaligus spot paling pamungkas di Bejalen. Artinya setelah jembatan ini, tak ada spot lagi.

Tak hanya mural geometris, beberapa lukisan menggambarkan tema foto 3D seperti di museum-museum kekinian yang sedang hits di media sosial. Keren sekali.

Sebuah rumah menjajakan makanan kecil yang digadang-gadang menjadi kuliner khas Bejalen yaitu batagor betutu dan stik betutu. Sekilas mirip dengan nama masakan khas Bali ayam betutu. Ikan betutu sejatinya adalah ikan air tawar yang banyak ditemukan di Rawa Pening.

Sebelum pulang, kami singgah di spot terakhir yaitu perahu bambu. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah kepala desa Bejalen. Untuk berfoto di perahu ini, dikenakan biaya lagi Rp 3.000,- perorang. View-nya cantik berlatar keindahan persawahan, Rawa Pening yang dikelilingi pegunungan. 

anak-anak penjaga perahu  

latar sawah dan Rawa Pening

 

Iklan

10 comments

  1. Memang akan lebih menarik jika dicat beragam warna gini, ya. Tapi, aku kadang mikir cat gini kan jangka pendek, bukan mengatasi sepenuhnya kondisi lingkungan sekitar. Misalnya kalau tak diimbangi peningkatan SDM juga kesadaran masyarakat lantaran masih kerap buang sampai ke sungai, kalau hujan biasanya belum luput dari banjir. Setidaknya, di Jodipan masih begitu.

    Semoga Bejalen bisa lebih baik lah, ya.

    Btw, panasnya terik banget gitu kamu betah foto² mas, haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s