Api Abadi Mrapen Grobogan

Setelah menikah, ada satu kebiasaan yang rutin kami lakukan setelah hari raya. Mudik ke kampung halaman istri. Istri saya ibunya asli Brebes dan bapak mertua asli Grobogan. Istri saya tinggal dan besar di Salatiga. Hanya saat lebaran saya berkunjung ke Grobogan, kampung halaman ayah mertua.

Ada satu kata yang melintas saat saya mendengar Grobogan : swike. Swike adalah makanan Peranakan khas Grobogan khususnya Purwodadi berupa sup dari kodok ijo. Di Grobogan ada banyak sekali penjual swike. Jangan tanya bagaimana rasanya karena saya tidak bisa mencicipi makanan ini.

Selain swike, Grobogan juga terkenal dengan api abadi Mrapen dan bledug Kuwu. Api abadi sebuah fenomena geologi berupa munculnya api di permukaan tanah secara terus menerus. Sedangkan bledug Kuwu adalah sebuah tempat di timur Grobogan dimana muncul semburan lumpur mirip di Sidoarjo. Namun, semburan lumpur di Kuwu tidak meluas dan masif seperti di Sidoarjo.

Saya sering mendengar cerita tentang Mrapen dari ayah mertua saya. Namun, baru Lebaran tahun ini kami berkesempatan mengunjungi Mrapen.

Api abadi Mrapen berlokasi di tepi jalan raya Semarang-Purwodadi tepatnya di desa Manggarmas kecamatan Godong. Desa ini cukup unik karena berbatasan langsung dengan kabupaten Demak. Hanya dipisahkan oleh sebuah ruas jalan. 

Setelah memarkirkan kendaraan, kami dengan dipandu oleh ayah mertua membayar tiket masuk lantas menuju sebuah kolam berwarna hijau bernama Sendang Dudo. Kolam ini ukurannya kecil saja. Tak lebih luas dari setengah lapangan voli. Uniknya, air kolam selalu mengeluarkan uap mendidih.

Menurut ayah mertua, saat ini api abadi telah dikelola dengan bagus. Beda dengan penuturan beliau saat beberapa tahun silam. Sebuah bangunan yang saya tebak adalah gelanggang olahraga dibangun megah di belakang area.

Api abadi Mrapen telah lama menjadi ikon daerah Grobogan selain Bledug Kuwu. Banyak acara olahraga di Indonesia yang menggunakan api dari Mrapen sebagai salah satu media penyalaan obor. Acara obor Waisyak yang rutin diadakan tiap tahun juga menggunakan api dari Mrapen.

api abadi Mrapen (berwarna merah) pada lambang kabupaten Grobogan

Kami beranjak ke lokasi api abadi. Sebuah bangunan melingkar yang dikelilingi tembok setengah lingkaran cukup tinggi. Cukup dengan meletakkan kertas atau daun kering, api berwarna kuning kemerahan langsung menyambar. Ajaib! Saat kertas habis api akan segera padam.

Tepat di belakang api abadi saya sempat melihat sebuah monumen roboh bertuliskan R Depaja Prawiradilaga, nama seorang Bupati Grobogan. Sayang tidak dijumpai keterangan apapun tentang siapa beliau. Di sebelahnya ada sebuah patung atlet menggenggam obor.

Di sebelah api abadi dibangun sebuah pendopo kecil dimana di dalamnya disimpan sebuah yoni yang dipercaya peninggalan Sunan Kalijaga. Watu Bobot namanya. Konon, bagi yang bisa mengangkat batu ini akan dikabulkan permohonannya.

Sebelum pulang ke Salatiga, mertua saya minta singgah di sebuah rumah makan untuk membeli iwak manuk. Kuliner nostalgia khas Grobogan katanya.

Warga Purwodadi biasa menyantap iwak manuk. Berupa protein dari burung yang biasa berkeliaran di sawah. Saya agak geli mendengar burung sawah dijadikan lauk. Karena wujudnya kecil sehingga tidak jarang dijadikan kudapan begitu saja. Katanya sih rasanya tidak kalah enak dari daging ayam. Silakan mencoba jika berkunjung ke Grobogan. Ada beberapa rumah makan di Grobogan yang menyediakan menu unik ini.

Iklan

12 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s