Museum Ombilin dan Kisah Tragis William Hendrik de Greve

Sambungan dari cerita sebelumnya.

Rupanya museum belum dibuka karena istirahat Jumat siang. Namun, pintu pagarnya terbuka. Saya masuk untuk melihat alat berat yang dipajang di halaman museum. Seperti sebuah alat berwarna kuning yang rupanya mobil pengangkut material ledakan untuk membuka tambang dalam. Di dekatnya diletakkan sebuah rangkaian kereta mini untuk mengangkut pekerja tambang menuju ke dalam terowongan.

Sambil menunggu museum buka, saya melangkahkan kaki ke taman segitiga yang berjarak hanya selemparan batu dari museum tambang. Dari beberapa penjual makanan, saya mencoba mendekati seorang ibu penjual soto. Setelah cocok dengan harganya, saya memesan soto ayam dan ceker. Agak surprise ibu asli Minang ini menyediakan menu ceker ayam. Citarasanya lebih mirip soto di Jawa ketimbang soto Padang. Rupanya, beliau pernah bekerja di Jakarta sehingga akhrab dengan ceker.

Sambil mengunyah soto, saya mendengar cerita Sawahlunto masa kini darinya. Kota ini makin sepi, keluhnya. Dulu saat walikota sebelum sekarang menjabat, Sawahlunto tidak sepi dari wisatawan karena padatnya agenda kunjungan wisata. Bahkan, sang walikota pernah mendatangkan duta besar Belanda dan mengadakan makan bajamba (makan besar) dengan mengundang seluruh warga kota!

Seorang ibu yang suaminya pegawai PTBA menambahkan, kini pegawai tambang PTBA tersisa sebelas orang. Ratusan pegawai telah dipindahkan ke Bukit Asam di Muara Enim, Sumatera Selatan. Kota yang dulunya hidup karena tambang, kini mati karena ditinggalkan pekerjanya. Soto ayam yang saya makan langsung terasa hambar.

Usai menuntaskan suapan terakhir soto, saya pamit pergi menuju museum tambang. Sebuah rumah berukuran tak terlalu besar berwarna putih tulang. 

Diresmikan oleh Wakil Menteri Pariwisata tanggal 14 Juni 2014 (tanggal ultah istri saya),  museum ini dulunya adalah rumah dinas Direktur Ombilin Meinen yang menjadi cikal bakal PT BA UPO (Unit Pengolahan Ombilin).

Antara pintu pagar ke gerbang saya disambung dengan terowongan besi yang terdiri dari rangkaian kayu. Baru saya tahu kemudian jika terowongan ini replika terowongan tambang batubara di dalam perut bumi.

Masuk ke dalam, saya disambut oleh uni (lupa namanya) selaku satu-satunya petugas resepsionis sekaligus pemandu. Saya pun satu-satunya pengunjung saat itu. Patung setengah badan Ir. J.W.Ijzerman menyambut setiap pengunjung. Di lobi museum dipamerkan pula buku catatan administrasi tambang berbahasa Belanda dan lampu indikator gas metana. Gas ini dalam dunia pertambangan sangat berbahaya karena menyebabkan keracunan hingga kematian.

Saya lantas diajak bergeser ke ruangan yang memamerkan peralatan kantor zaman dulu seperti mesin ketik kuno, brankas kuno, alat pemutar video (proyektor) merk Philips , telepon jadul, pelubang kertas dan stempel.

proyektor kuno

Sebuah stempel besi berukuran cukup besar mempunyai desain berupa atap rumah gadang khas Minang dan roda besi yang merupakan ciri khas dunia industri pertambangan. Suatu saat logo stempel ini diadopsi menjadi lambang daerah kota Sawahlunto. 

Ruangan berikutnya yaitu audiovisual. Saya minta izin untuk diputarkan video yang rupanya sejarah kota Sawahlunto. Dikisahkan dulu Sawahlunto adalah daerah sepi berupa persawahan yang terletak di antara sungai Batang Lunto dan Batang Sumpahan. Penemuan deposit batubara sebanyak 205 juta ton mengubah Sawahlunto dari daerah sepi menjadi salah satu kota terbesar di Sumatera Tengah saat itu. Sawahlunto menjadi kota tambang batubara pertama dan terbesar di Asia Tenggara saat itu.

Selesai menonton film (sendirian), saya kembali ditemani Uni ke ruangan berikutnya: ruangan tambang dalam atau tertutup. Ruangan ini memajang berbagai peralatan pertambanga seperti  lampu penerangan, radio komunikasi, seragam pekerja tambang, risiko tinggi, alat detektor udara seperti oksigen, metana dan CO2.

Sebuah panel dibangun untuk menggambarkan situasi ruangan di dalam tambang. Berupa terowongan setengah lingkaran yang dilapisi kayu. Replika ini dilengkapi dengan pipa penyalur udara, belt untuk menyalurkan batubara ke luar tambang dan berbagai peralatan untuk mengambil deposit batubara seperti beliung (linggis), sekop dan gergaji.

Ruang tambang terbuka menjelaskan bagaimana penambangan dilalukan di atas permukaan bumi. Dipajang juga contoh batuan batubara yang dibagi menjadi tiga kelas menurut mutunya seperti antrasit (batubara kualitas premium), sub bituminous (kualitas menengah), lignit (kualitas rendah). 

Kembali ke lobi, saya tertarik pada alat yang terdiri dari angka 0 sampai 9 dilengkapi pemutar tangan. Rupanya ini alat pembuat lubang angka. Kerennya, alat ini masih bisa dipakai. Saya ikut mencoba bagaimana cara kerja alat ini.

Perhatian saya lantas tertuju pada foto sephia sosok muda bercambang tebal. Dialah William Hendrik de Greve, sosok “penemu” batubara di Sawahlunto. Dia seorang ahli geologi yang menemukan deposit batubara taktala menyusuri sungai Ombilin/Kuantan. Karena jasanya, terkuaklah deposit ratusan juta ton batubara di Sawahlunto.

Sayangnya, ia meninggal ketika menjalankan tugas menyusuri sungai Kuantan untuk menemukan jalur distribusi batubara dari Sawahlunto ke selat Melaka. Perahu yang ditumpanginya terbalik dan ia tewas pada umur 32 tahun. De Greve dimakamkan di Jorong Koto Hilia, Nagari Durian Gadang, Sijunjung  di tepi sungai Ombilin/Kuantan. Menurut uni, makamnya masih bisa dilihat hingga kini.

 

Hier rust de mijn ingenieur W.H. de Greve den 22 October 1872 door een ongelukkig toeval alhier omgekomen R.I.P.”
(Di sini beristirahat dengan tenang insinyur pertambangan W.H. de Greve yang pada 22 Oktober 1872 meninggal di tempat ini karena kecelakaan)

Referensi : https://sawahluntomuseum.wordpress.com/2012/03/12/de-greve/

Iklan

20 comments

  1. wiiii wisata ke Museum !
    Seumur-umur baru denger nama museum Ombilin.
    Gila sih ternyata penemuan batubara di Sawahlunto sudah berusia puluhan tahun, atau bahkan ratusan tahun ya ? :v

    Btw baru baru ini juga aku wisata ke museum,
    Tuh ceritanya sudah aku tuilis di Blogku.
    dan hey, ini kunjungan pertamaku ke Blognya kang Djangki :V

  2. Ulasan yang menarik. Selalu seru berkunjung ke tempat-tempat seperti ini, entah apa yang dicari, sensasi kesunyian atau resonansi kejayaan masa lalu.. *orangnya sentimentil, harap maklum, hahaha*

  3. Sejarah kota ini bisa jadi jualan seharusnya.
    Nah, walikota sekarang tidak bisa mempertahankan kunjungan wisatawan, apalagi meningkatkan. Beginilah kalau pejabat gak punya visi. Pendapat saya pribadi.

  4. Sawahlunto, kota tambang yang sudah berkembang demikian pesat. Kalau zaman sekarang, setelah merdeka ini, kira-kira kota-kota pertambangan berkembang begini pesat juga tidak, ya. Saya merasa kalau di kota pertambangan dewasa ini, pendapatannya justru mengalir keluar, tidak untuk membangun kotanya sendiri, hehe. Cuma perasaan sih. Museumnya bagus, Mas. Mudah-mudahan suatu hari nanti bisa datang ke sana dan lihat sendiri kejayaan batubara Sumatera yang terkenal itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s