Sawahlunto, Little Amsterdam van Sumatera

Sawahlunto, kota yang nyaris tidak terdengar dalam dunia pariwisata Sumatera Barat. Gaungnya kalah dengan Bukittinggi, Payakumbuh dengan Lembah Harau atau Kota Padang dengan pantai dan sejumlah pulau cantik. 

***

Rencana mengunjungi kota Sawahlunto terlintas begitu saja di kepala. Saya masih memiliki waktu satu hari selepas melaksanakan dinas kantor ke Padang. 

Selesai urusan check out di hotel, saya mencari ojek ke arah loket Jasa Malindo, mobil travel yang akan membawa saya menuju Sawahlunto. Turun dari ojek saya langsung naik mobil, duduk di bagian belakang. Beruntung, tak lama mobil langsung jalan.

Saya pernah ke Sawahlunto tahun 2012. Menginap disana selama dua hari, saya mengunjungi beberapa objek wisata sejarah disana. Seperti museum kereta api, museum Goedang Ransoem, lubang tambang Mbah Suro. Saya begitu terkesan dengan kota kecil nan cantik itu.   

Saya agak gusar ketika tahu mobil yang saya tumpangi hanya sampai kota Solok. Masih setengah jam lagi menuju Sawahlunto. Saya turun beserta seluruh penumpang di gerbang masuk Kota Solok. Beberapa menit menunggu, datang mobil Jasa Malindo. Saya naik. Penumpang tak terlalu banyak.

Mobil melaju kencang membelah jalanan yang berkelok-kelok di tepi bukit. Membuat saya agak berdebar. Pemandangan sawah dipadu rumah bagonjong khas Minang sedikit menenangkan saya.

Saya tak sabar ingin segera menjejakkan kaki kembali di kota ini. Penanda berupa tulisan raksasa SAWAHLUNTO di sebelah kanan menjadi penanda batas antara Kabupaten Solok dan Kota Sawahlunto. Sepasang rangkiang atau lumbung padi beratap runcing khas Minang menyambut setiap pelintas yang datang.

Deretan rumah makan menjadi penanda kota Sawahlunto dari arah Solok. Tepatnya di kawasan Silungkang. Sebagian besar menyediakan soto Padang dan dendeng batokok. Makanan khas kota ini. Silungkang juga dikenal dengan kerajinan tenunan songket.

Tiba di simpang tiga Muaro Kalaban mobil mengambil arah ke kiri. Menuju pusat kota jalan semakin menanjak dan berliku-liku. Dulu pertama kali ke Sawahlunto saya datang saat malam hari. Tak nampak pemandangan di luar melainkan kegelapan malam.

Saat ini, di kiri saya tampak punggung bukit yang menghijau. Di kanan saya tebing yang langsung menuju jurang. Setelah melewati beberapa kelokan, saya bisa melihat pusat kota Sawahlunto yang dikelilingi bukit. Jika diibaratkan, pusat kota Sawahlunto ibarat dasar sebuah cawan. Saya turun di pasar Sawahlunto. Dari sini tampak bukit yang mengelilingi kota dengan papan nama Sawahlunto di puncak bukit.

Dari pasar butuh waktu sekitar lima menit menuju masjid agung Nurul Islam. Tempat saya akan melaksanakan sholat Jumat. Siapa yang mengira masjid bersegi delapan ini dulunya bekas PLTU yang dibangun pada tahun 1894. Pada masa penjajahan pernah pula dipakai sebagai markas perang. Menara masjid dulunya adalah cerobong asap. 

  

Untuk mengenang adanya PLTU di masjid, dibangun sebuah monumen di halaman masjid. Berupa sebuah replika terowongan yang dibawahnya diletakkan lori kereta yang mengangkut batu bara. Di atasnya terdapat sebuah cerobong asap. 

Usai ibadah Jumat, saya berjalan menelusuri sisa rel menuju stasiun Sawahlunto. Stasiun yang berada di ketinggian 200an meter ini dulunya basis transportasi utama untuk mengangkut batubara dari Sawahlunto ke Emmahaven (Teluk Bayur) di Padang.

Batu bara mengubah wajah daerah persawahan nan sepi di tepi sungai Batang Lunto (yang kemudian hari menjadi kota Sawahlunto) menjadi kota paling penting di Sumatera Barat kala itu. Berbagai fasilitas penunjang sebuah kota dibangun seperti rumah sakit, dapur umum, stasiun, perumahan dibangun oleh Belanda. Sejak batubara menipis, terjadi eksodus besar-besaran di Sawahlunto. Kota yang ramai ini menjadi sepi. Namun, berbagai peninggalan bersejarah masih bisa dijumpai hingga kini. 

Stasiun Sawahlunto kini disulap menjadi museum kereta api Sawahlunto. Sekarang di halaman stasiun dibangun patung dada Dr. Jan Willem Ijzerman. Pria kelahiran De Haag tahun 1851 ini berperan penting dalam pembangunan jalur kereta api di Sumatera Barat. Tahun 1892, Ijzerman tercatat sebagai direktur Ombilin Meinen, perusahaan tambang Ombilin bentukan Belanda. 

Dari stasiun saya melangkah menuruni tangga melewati taman layak anak menuju arah pusat kota. Sawahlunto ibarat kota mati. Dulu berjaya karena tambang, sekarang mati suri. Tak banyak kendaraan berlalu lalang. 

Langkah terhenti di persimpangan dekat Hotel Ombilin. Saya teringat saat menginap di hotel tua nan cantik ini lima tahun lalu. Di depan hotel berdiri Societeit Gluck Auf yang sekarang menjadi gedung pusat kebudayaan Sawahlunto.

sebuah bangunan tua yang sekarang menjadi pertokoan

Agak di belakang hotel berdiri gereja Katholik Santa Barbara yang cantik. Saya terus berjalan ke arah gedung tua berwarna oranye yang menjadi simbol kota ini: Gedung Kantor Pusat PT BA Ombilin. Gedung megah dua lantai ini sekilas mengingatkan saya pada museum Fatahillah di Jakarta.

 Di depan gedung PT BA terhampar sebuah taman atau lapangan berbentuk segitiga sekaligus alun-alun kota : Taman Segitiga. Di salah satu sisi dibangun sebuah tugu untuk mengenang jasa para pekerja tambang yang mewarnai kota ini. Di sekitaran kantor ini masih bisa dijumpai belasan rumah dinas pegawai tambang bergaya kolonial.

Tujuan saya yaitu museum tambang batubara Ombilin yang berlokasi tepat di samping gedung kantor pusat PTBA.

(bersambung)

Iklan

25 comments

  1. Eh kayaknya gaung Sawahlunto lebih kedengeran daripada Padang. Padang kayak cuma buat transit doang sebelum ke Bukittinggi, Lembah Harau, Sawahlunto, dan obyek wisata lainnya. Aku juga pengen ke Sawahlunto. Kotanya tenang, bersih, sejuk, dan bangunan-bangunan tuanya cantik.

  2. saya pertama mendengar kota sawah lunto melalui acara jalan-jalan di tivi dulu. satu hal yang paling menrik perhtian dalah mak itam, lokomotif tua peninggalan belanda. kota tuanya cantik, tipikL KOT kecil yg tak terlalu ramai.

  3. Saya berharap bangunan tua itu tidak dihancurkan satu demi satu.

    Penduduk Sawahlunto sekitar 20% keturunan Jawa. Orang Jawa yang dibawa Belanda untuk tambang batu bara mulai tahun 1867.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s