Soto Semarang Pak Slamet

Hoammmm… nggak terasa udah setengah tahun saya nggak nulis di blog. Sebenarnya saya masih sangat pengen nulis. Stok tulisan dan foto pun ada. Namun, apa daya karena berbagai kesibukan di kantor, saya terpaksa menomorduakan dunia tulis menulis ini. Huff… #lebay.

Dulu posisi saya sebagai staf lapangan yang notabene mempunyai banyak waktu luang untuk menulis. Sudah setengah tahun ini saya dipindahkan full sebagai staf dalam kantor. Otomatis waktu lebih banyak dipakai untuk full bekerja hahaha.

Sudah, mungkin cukup sekian curhatnya. Kali ini saya mau cerita sebuah tempat makan di Jambi. Meski sudah lama saya tinggal di bumi Sumatera, lidah saya kadang masih rindu masakan Jawa. Soto salah satunya. Warung soto langganan saya dulu di Bakso Solo Berseri dekat mall Jamtos. Sayang, sejak warungnya makin rame, saya merasa rasa sotonya ada penurunan rasa.

Saya pertama kali mendengar Soto Semarang dari postingan mas Aris, teman blogger yang berdomisili di Bangko. Sengaja saya menulis soto Semarang karena soto varian ini adalah salah satu makanan favorit saya. Tiap kali pulang ke Jawa, pasti saya sempatkan makan soto. Β 

Di Bangko pilihan soto tidak terlalu banyak : soto Padang, soto Betawi atau soto Lamongan. Soto Semarang favorit saya tidak ada.

Berbekal panduan dari mas Aris, kami naik motor dari rumah tante Iie menuju arah Kotabaru. Patokannya, dari asrama haji Jambi lurus sampai simpang tiga Kebon Kopi. Dari simpang lihat ke arah kiri. Nah, tempat ini berada di sebelah kiri jalan di seberang Alfamart.

Sebuah ruko dengan gerobak mie ayam bakso di depannya. Beberapa menu khas Jawa Tengah terpampang nyata dengan jelas : soto ayam Semarang, tahu gimbal Semarang, kupat tahu Magelang dan dawet hitam Purworejo.

Kami memilih duduk di dalam. Susunan meja kayu panjang menimbulkan suasana keakhraban. Semakin lama, saya mendengar beberapa orang berbincang dan memesan menu dalam bahasa Jawa.

Saya memesan soto campur, teh hangat dan mendoan. Tidak perlu lama, semangkuk kecil soto datang lengkap dengan mendoan. Penampilannnya mirip soto di Jawa. Mangkuk kecil berisi nasi dan kuah soto plus toge, seledri, bawang goreng dan suwiran ayam.

Bagaimana rasanya? Dalam suapan pertama, rasa soto masih hambar. Saya bubuhkan sedikit garam, jeruk nipis dan sambal. Woala, rasanya hampir sama dengan soto Semarang di Jawa. Tidak seperti mendoan di tempat lain yang digoreng kering, mendoan disini digoreng setengah matang seperti mendoan ala Purwokerto!

Intinya, saya suka makan disini. Rasanya tidak kalah dengan soto Semarang di Jawa. #jadilapar #lapiler


Iklan

26 comments

  1. duh, jadi ngiler malam-malam baca ini. Sendoknya pun sama dengan biasa disajikan di warung soto di Semarang. Saya kangen soto Pak No dengan sate kerang dan jeroan macam usus dan ati-ampela. Di Jambi disedain juga di meja makan pembeli?

  2. wewwww lama juga ya….bantuin bersih2 halaman blog wkwkwk.
    kemarin aku juga nyoba icip soto paling terkenal seantero purbalingga tapi ya itu, rasanya sudah berubah ga kayak dulu, porsinya sih super kenyang lha wong seporsinya 26 ribu giut. oh ya yang bikin beda tempe mendoan dengan lain (purwokerto) kalau di sini pakainya tempe lentreng alias tipis banget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s