Balada Travel

49e26fe1bb442babae518092c12449faGambarnya kurang nyambung hahaha Pinjam dari sini. 

Sebagai penikmat kendaraan umum, saya menggemari kereta api atau bus untuk bepergian. Ketika tinggal di Sumatera untuk melanjutkan pendidikan, saya agak heran melihat orang Sumatera kurang menyukai bus untuk pergi kemana-mana. Mereka lebih suka naik mobil yang dikenal dengan nama travel. Alasannya karena praktis bisa antar jemput dari rumah ke rumah. Sedangkan bus hanya melayani naik dari agen/loket tertentu dan turun di terminal.

Perkara antar jemput ini sopir hanya mau antar jemput dengan radius tertentu. Misal jika turun di Bangko, sopir hanya mau mengantar penumpang ke arah Muara Bungo paling jauh di Sungai Ulak. Arah ke Sungai Penuh paling jauh di Kungkai.

Pengalaman pertama naik travel dari rumah om saya di Tanjung Enim ke Palembang. Saya masih ingat nama travelnya Rico. Kata om saya, beliau sudah membayar tiket travel saya. Namun, tiba di Palembang sopir masih menagih ongkos tiket.

Dari Palembang saya pindah tugas ke Kepulauan Riau. Otomatis transportasi antar pulau bahkan antar kota menggunakan kapal cepat atau disebut speed oleh orang Melayu. Satu kabupaten saja bisa terdiri dari berbagai pulau. Satu-satunya daerah satu pulau yang terdiri dari dua wilayah adalah Bintan. Pulau Bintan terbagi menjadi dua wilayah : Kota Tanjung Pinang dan Kabupaten Bintan.

Saat mendapat undangan pernikahan teman saya di Kayu Agung, saya naik speed dari Tanjung Batu menuju Kuala Tungkal. Dari Kuala Tungkal saya harus naik travel menuju Palembang via Jambi. Nama travelnya indah : Ratu Intan Permata. Seperti kalau naik pesawat, saya harus turun untuk transit di Jambi lantas melanjutkan perjalanan ke Palembang dengan mobil lain.

Di perjalanan mobil singgah di sebuah rumah makan Padang di daerah Sungai Lilin. Saya tak hafal ciri-ciri mobil dan plat mobil yang saya naiki. Saat sedang asyik makan, saya melihat mobil dengan nomor plat mobil yang sama dengan yang tercantum di tiket saya keluar dari rumah makan meninggalkan saya. Sontak saya kaget dan meminta pegawai rumah makan untuk menghubungi agen tiket. Rupanya, mobil yang saya naiki belum berangkat. Nomor plat mobil yang saya naiki berbeda dengan mobil di tiket saya. Karuan saja, sopir dan penumpang lain memandang saya dengan tatapan aneh.

Saya makin akhrab dengan travel saat pindah ke Jambi tepatnya ke Sungai Penuh. Dari Sungai Penuh banyak travel ke Padang dan Jambi. Meski secara administrasi masuk provinsi Jambi, sebagian besar penduduk Sungai Penuh adalah keturunan Minang. Itulah kenapa lebih banyak armada travel tujuan Padang daripada ke Jambi.

Dari Sungai Penuh saya pindah lagi ke Bangko. Travel dari Bangko kebanyakan melayani rute ke Jambi. Diantaranya Family Raya Ceria Sejati, Ratu Intan Permata, Rani, Jambi Prima Jaya (JPJ). Jadwal keberangkatan dari dan ke Jambi tiap dua jam sekali. Mulai jam 08.00, 10.00, 12.00. 14.00, 16.00, dan 20.00.

Travel Jawa vs Travel Sumatera
Pengalaman naik travel di Jawa saya rasakan saat liburan ke rumah teman saya di Bandung. Kami naik travel dari Bintaro. Mobilnya bersih, harum, dan mendapat snack. Sopir mengendarai mobil dengan enak, tidak ugal-ugalan. Saya sebagai penumpang merasa nyaman.  

Tinggal di pulau Sumatera, sopir terbiasa membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Agak ngebut. Ditambah jalan yang berliku-liku, istri saya sering mabuk saat naik travel. Dari Sungai Penuh ke Padang via Solok Selatan, istri saya pernah mabuk hingga 19 kali sepanjang perjalanan!

Tidak banyak travel ke Jambi yang menyediakan snack. Hanya Family dan Ratu yang memberikan snack sebelum mobil berangkat. Hampir semua travel akan berhenti di rumah makan Padang saat jam makan siang atau malam. Khusus travel jurusan Kerinci akan berhenti di rumah makan khas Kerinci #kangendendengbatokok

Pengalaman paling menyenangkan naik travel waktu liburan ke Jangkat dua tahun lalu. Sopirnya saudara teman saya Santy. Sopir menunjukkan beberapa spot bagus untuk mengambil foto. Saya diizinkan untuk berhenti mengambil beberapa foto. Pengalaman paling horor naik travel dari Muara Bungo ke Sungai Penuh. Saya dan istri duduk di bagian depan di samping sopir. Rupanya hanya kami bertiga di dalam mobil. Sejam hampir sampai di Sungai Penuh, sopir mengantuk!

Iklan

45 comments

  1. Beruntung memang kalau ketemu sopir travel yang penuh pengertian. Tahu penumpangnya travel blogger atau senang memotret dalam perjalanan, ia dengan sukarela menunjukkan tempat-tempat bagus dan berhenti untuk mengambil gambar.

  2. hahaha jadi inget naik travel ke jambi lama banget sampenya, waktu berangkatnya molor dan suka dioper ke travel lain, wah klo naik travel di medan sopirnya gak ada takutnya berasa punya nyawa sembilan

  3. Kalo di Jambi, Riau dan Sumatera Barat orang lebih akrab dengan travel, 🙂 Alasannya salah satunya karena bisa antar jemput sampai pintu rumah.

    Safa Marwa salah satu alternatif saya kalo mau pulkam ke Muaralabuh jika berangkat malam dari Padang.

  4. tapi bukannya lebih lega bis ya mas? soalnya kalo mobil travel kan sempit dan gak terlalu nyaman untuk perjalanan jauh. saya kira mungkin juga alasan kondisi medan jalan yang mengurangi minat untuk naik bus di sumatera?

  5. Mungkin karena trayek bus umum jarang jadi travel laris manis. Sama seperti waktu saya berkunjung ke Pulang Pisau di Kalimantan, seorang teman men-stop setiap mobil yang lewat dan ketika ada yang berhenti mereka negosiasi harga untuk mengantar saya ke Banjarmasin. Lucu karena kita nggak tahu mana yang travel mana yang mobil pribadi, main stop saja. Dan memang sepanjang perjalanan saya gak menemui satupun bus yang lewat. Kalau di Jawa saya malah jarang naik travel. Bus umum melimpah ruah ahhaahah

  6. Dulu juga gitu Mas waktu saya tugas di Aceh,
    Travel ya semacam L300
    Kalau taksi ya semacam avanza, xenia, kijang dll…

    Pernah saat dari Kab Karo mau ke Kab Aceh Tenggara, saya naik di samping supir (satu jok sam supir), jadi di depan total ada 4 penumpang untuk mobil L300.
    Pernah di sebuah warung dengan medan agak menanjak, si supir hendak membeli rokok, jadilah saya disuruh menginjak rem kaki selagi supir itu keluar. Lalu saya celingak celinguk di sekitaran saya, ternyata gak ada rem tangannya….huaaaa….
    Perjalanan 6 jam lebih dengan jalur berkelak kelok hanya berhantung hidup pada rem kakiii…. Hiyaaaaaaaakkk..
    Untungnya gak ada apa-apa…selamat sampai tujuan…

    Dan seringnya juga di jalan lintas Karo – Aceh Tenggara banyak travel yang meletakkan 2-3 sepeda motor di bagian atas…joosss memang transportasi di daerah itu…ahahaha

  7. banyak banget pengalaman naik travel-nya, bisa di buat cerita khusus tentang transportasi travel atau buku panduan memilih travel yang baik dan benar .. hehehe
    kalau saya paling hanya naik travel Jkt Bdg

  8. Pengalaman juga naik travel Safa Marwa :D. Ada beda dengan travel di Jawa. Pas naik mobil travel malam Sungai Penuh – Jambi berangkatnya konvoi bareng mobil travel dari agen lain.

    Terus pas itu di tengah jalan pernah ketemu sama mobil travel lain bannya terperosok di pinggir sawah. Habis itu setiap mobil travel yang lewat sana pada berhenti dan membantu. Penumpang juga ikut membantu dorong.

    Kebersamaan antar mobil travel terasa klo di Sumatera. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s