Merindukan Kehangatan Duo Nenek

Sejak kecil, saya hidup dengan ayah, ibu, dan nenek dari ibu. Mbok Tuwa, begitu kami biasa memanggil nenek. 

Tak banyak yang saya ingat dari Mbok Tuwa. Saya hanya ingat sering tidur di samping nenek. Di saat banyak teman seusia saya begitu membanggakan masakan nenek, nenek saya lebih banyak menghabiskan waktu berbaring di ranjang. Osteoporosis membuat beliau tak bisa bergerak kemana-mana. Beliau beristirahat untuk selama-lamanya dikelilingi anak, menantu, cucu dan cicit. Saya masih kelas 4 SD saat itu.

***

Kerinduan akan masakan nenek. Mungkin begitu alasan saya mendatangi tempat ini. Eh, sebenarnya saya tak pernah mencicipi masakan nenek. Di rumah, ibu saya koki utama.

Kami naik motor, rela menerobos hujan deras dari Pasar menuju Rumah Makan Duo Nenek di kawasan Jelutung, Kota Jambi. Tak susah menemukan Duo Nenek. Lokasinya tepat di seberang Hotel Royal. Tidak jauh dari Diva Karaoke.

Sebuah rumah sederhana bercat putih. Halaman depan sekaligus tempat parkir hanya muat untuk belasan motor. Pengguna mobil harus meletakkan kendaraan di bahu jalan. Seorang kakek tua menyambut kami, mempersilakan kami masuk ke dalam.

Kesan pertama masuk ke Duo Nenek adalah vintage dan jadul. Deretan foto hitam putih diletakkan di partisi kayu di sebelah kiri. Di bawahnya terdapat termos kuno, tv kuno, radio lama dan kosakata Bahasa Jambi Ohya, sang Nenek mungkin dulu seorang model. Fotonya mengenakan kebaya, nomor lomba, berpose di atas panggung. Entahlah. Juga sebuah foto lama repro Tugu Juang, sungai Batanghari, uang kuno dan kantor Gubernur Jambi yang lama. Lantai tegel lama semakin memperkuat nuansa tempoh doeloe.

1-p1060840

Melongok ke sebelah kiri adalah ruangan kasir dan ruang prasmanan. Bagi pengunjung yang sudah kelaparan dipersilakan langsung memilih lauk yang tersedia. Ada gulai tempoyak, gulai ikan, gulai pucuk ubi.

1-p1060844

Kami memilih untuk duduk terlebih dulu sambil memilih lewat buku menu. Ada tiga ruangan yang bisa dipilih sesuai selera. Ruangan samping yang tanpa pendingin udara, ruangan bebas asap rokok di dalam, dan ruang terbuka di halaman belakang.

Mengusung tema Jambi Traditional Food, ada puluhan menu yang ditawarkan Duo Nenek. Mulai dari sambal terong, sambal petai cabai hijau, sambal jengkol, sambal kacang
ayam goreng, ayam gulai, ayam bakar, dendeng cabai hijau, dan aneka menu berbahan ikan, ayam dan daging. 

1-p1060835

1-p1060837

1-p1060836

Saya memesan nasi dan pindang dogan. Sajian pindang bening khas Jambi yang dimasukkan ke dalam buah kelapa muda segar yang sudah dibuang airnya. Mama Nia memesan sup ikan nila. Minumnya kami memesan teh hangat dan teh tarik.

Alternatif lain ada juga kopi Kerinci, cappucino, espresso dan teh tarik hangat. Buat penggemar jus tersedia aneka jus buah dan sayuran organik. Tak perlu bingung memilih. Setiap menu dicantumkan manfaat minuman tersebut bagi kesehatan.

Sambil menunggu pesanan datang, saya melihat isi ruang belakang. Hujan membuat tak seorangpun pengunjung di halaman belakang. Hanya sebuah partisi dimana karyawan sibuk membuat minuman. Di dinding ditempel testimoni pengunjung yang dituliskan pada nampan kayu dan telenan. Cantik! Ada juga meja dari potongan daun pintu yang membuat saya cukup terkesan.

1-p1060827

1-p1060826

Potongan kayu berisi testimoni saya jumpai juga di ruangan tengah. Dan juga alat-alat masak yang ditata sedemikian cantiknya! Cantik kaya istri saya. :p

1-p1060845

 

 

1-p1060829 

Sekitar sepuluh menit menunggu, pesanan saya datang. Oh, baru minumnya saja. Segelas besar teh hangat dan teh tarik dalam sebuah gelas kuno bertahtakan potongan kayu. 

1-p1060831

Dua puluh menit berlalu. Pramusaji hilir mudik mengantarkan makanan dan minuman ke pengunjung yang lain. Saya hampir cemas karena pesanan saya tak kunjung datang. Lima menit kemudian seorang mbak-mbak membawa nampan berisi pindang di dalam dogan. 

Tak hanya berisi pindang, saya bisa menemukan potongan kelapa muda dalam buah dogan tersebut. Pindang rasa asam, gurih bercampur manisnya potongan kelapa muda. Pindang khas Duo Nenek adalah pindang khas Jambi yang berkuah kuning bening. Beda dengan pindang patin khas Palembang yang berkuah merah. Saya hampir kewalahan menghabiskan pindang ini sendirian. Pun dengan sup ikan nila pesanan istri saya yang porsinya sangat besar. Cukup untuk dua orang. 

Sayang, saya justru lupa memotret makanan pesanan kami. Baru teringat tatkala makanan sudah ludes kami lahap. Lidah puas, perutpun kekenyangan.

Terimakasih Kompas dan Pink Traveler untuk review dan inspirasinya. 

1-p1060847

Iklan

12 comments

  1. Waaaah cukup instagramable ini restonya Mas. 😄
    Kalo ke Jambi paling taunya Dine N Chat aja selama ini. Bolehlah masuk dalam daftar kunjung kalo balik lagi ke Jambi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s