Piring Terbang, Tradisi Pernikahan ala Solo

Acara pernikahan secara garis besar dimana-mana sama. Kalau model prasmanan, tamu datang, salaman dengan penerima tamu, isi buku tamu, masukin angpau, salaman dengan pengantin, makan-makan, pamitan lalu pulang. Kalau di Bangko, tamu makan terlebih dulu baru salaman dengan pengantin. Lain halnya di Solo, dikenal istilah piring terbang saat acara pernikahan. Apa itu?

Beberapa waktu kemarin saya menghadiri acara pernikahan anaknya bulek saya alias sepupu laki-laki saya, Aries. Acara digelar dua kali, akad nikah dan resepsi pihak perempuan di Graha Setyowati Gentan, pinggiran kota Solo. Acara ngunduh mantu diadakan di gedung yang berbeda. Masih di kota Solo.

Biasanya saat pernikahan saya hanya menjadi tamu biasa. Kali ini saya diminta tante saya menjadi pengiring pengantin pria alias groom maid. Senang? Ya dong. Untuk pertama kalinya, saya akan memakai pakaian adat Jawa lengkap dengan blangkon dan keris :p

Kesibukan sudah dimulai beberapa hari sebelum hari H di rumah bulek. Kami sendiri datang ke Solo saat malam midodareni. Satu malam sebelum hari H. Kami satu rombongan mulai dari pakdhe, budhe, sepupu dan semua saudara menginap di rumah bulek.

Pagi hari setelah sholat Subuh mbak-mbak juru rias datang. Yang dirias pertama kali adalah kaum ibu-ibu. Istri saya dan seluruh saudara perempuan mengenakan seragam kebaya modifikasi yang sudah disediakan bulek. Setelah ibu-ibu kelar dirias, giliran saya dan sepupu yang ditugasi menjadi pengiring pengantin pria. Kami mengenakan beskap hitam, kain jarit, lengkap dengan blangkon dan keris. 

dsc07371

Awalnya saya pikir pakai baju adat Jawa itu ribet, rupanya tidak. Kain jarit yang saya pakai hanya digulung sekali melingkari pinggang. Tidak seperti kain jarit zaman dulu yang harus digulung berkali-kali. Setelah jarit, saya dipakaikan stagen agar kain tidak kendor. Setelah stagen terpasang, baru dipakaikan cinde untuk menutup stagen dan ikat pinggang yang terbuat dari kuningan. Beskap, blangkon, sendal selop dan keris dipakai belakangan.

Bagaimana rasanya memakai stagen dan cinde? Dari luar perut saya terlihat lebih gemuk karena gulungan stagen dan cinde hehehe. Mbak perias menanyai saya stagennya sudah pas atau belum. Kalau terlalu kendor kain jarit bisa melorot. Kalau terlalu kencang membuat perut terasa sesak.

dsc07384
memakai pakaian adat Jawa, foto di gedung pernikahan

Setelah semua usai dirias, kami berangkat menuju gedung pernikahan di kawasan Gentan. Gedungnya cukup besar. Ada parkir yang luas, taman yang rimbun, pendopo, kolam renang dan villa.

Di gapura masuk ke gedung pernikahan telah dipasang pernak-pernik khas Jawa seperti bleketepe, janur kuning dan aneka tumbuhan hijau plus pohon pisang raja dan buahnya yang disebut tarub. Tarub ini jumlahnya sepasang. Satu diletakkan di kiri pintu masuk, satunya di sebelah kanan.

Satu set tarub ini merupakan doa kebaikan untuk sang pengantin yang diwujudkan berbagai simbol. Antara lain : janur kuning dan kelapa gading melambangkan kesucian hati. Buah pisang raja melambangkan cinta sejati dan kemuliaan. Bunga kapas perlambang sandang, gabah melambangkan pangan, daun beringin perlambang perlindungan dan rumah. Tak hanya itu, untuk memeriahkan tarub biasanya dilengkapi dengan aneka dedaunan dan tanaman bunga yang disebut daun opo-opo.

dsc07376 tarub

Acara pertama yaitu akad nikah berjalan dengan lancar. Aries memberikan mahar berupa uang yang dirangkai dalam figura. Saat akad, kedua pengantin memakai busana serba putih.

dsc07358
Aries dan Isti

Acara resepsi diadakan secara walimahan. Artinya tamu undangan harus mengikuti rangkaian acara dari awal hingga selesai. Tempat duduknya pun disediakan berjejer rapi menghadap ke pengantin. Makan disediakan secara piring terbang, artinya piring-piring akan ‘beterbangan’ menghampiri tamu.

Saya dan sepupu stand by di ruang rias, sebuah ruangan kecil di samping gedung. Saya dan sepupu akan memimpin kirab arak-arakan saat upacara panggih. 

Kali ini pengantin memakai baju bernuansa hitam yang disebut kanarendran. Kanarendran berwarna dominan hitam dan pengantin pria memakai kuluk berwarna hitam. Namun, saat ini banyak pengantin memakai blangkon karena lebih simpel.

Langgam Jawa Kebo Giro dan Kodhok Ngorek dibunyikan tanda upacara panggih segera dimulai. 

Pikir saya, mengiringi pengantin pria itu mudah. Rupanya tidak semudah itu. Cara berjalan kami harus disesuaikan dengan iringan musik gamelan. Tempo musiknya unik, awalnya pelan, lama-lama semakin cepat, akhirnya menjadi pelan kembali.

Sebelum inti acara panggih, diadakan atur pambagyoharjo dan atur panampi. Maksudnya adalah sambutan dari pihak pengantin laki-laki dan sambutan pengantin perempuan. 

Inti acara panggih adalah pengantin perempuan mendekati pengantin pria lantas mereka saling melempar sirih. Pengantin pria menginjak telur lalu pengantin perempuan mencuci kaki pengantin pria. Zaman saya kecil dulu, telur tidak dibungkus plastik sehingga kaki pengantin pria akan lengket dengan telur. Prosesi injak telur ini bermakna penyatuan fisik dan jiwa kedua pengantin secara biologis #ea :p

Di panggung, ayah dan ibu Aries duduk di samping Isti. Sedang ayah dan ibu Isti duduk di samping Aries. Posisi duduk ini melambangkan bahwa baik pengantin pria dan perempuan diterima dengan baik di pihak besan.

Acara selanjutnya berjalan seperti pernikahan Jawa umumnya seperti sungkeman, timbangan dan suap-suapan.

Setelah prosesi adat selesai, baru dilaksanakan prosesi piring terbang. Mas-mas berbaju batik membawa nampan-nampan berisi minuman dan makanan kecil. Mereka berjalan dalam dua banjar/deret. Deret pertama mas pembawa minuman teh hangat. Deret kedua mas pembawa makanan kecil. Paling depan adalah pembawa buket bunga.

Prosesinya, mas-mas paling depan memberikan penghormatan kepada pengantin lantas menyerahkan bunga ke pengantin perempuan. Setelah bunga diterima baru pembawa minuman dan makanan ‘bubar jalan’ membagikan isi nampan kepada tamu.

Setelah makanan kecil terhidang, datang lagi nampan-nampan berisi sup matahari, sang makanan pembuka. Tak lama datang makanan inti berupa nasi, sambel goreng, kreni, cap cay, acar ketimun, kerupuk, sambel. Es krim datang sebagai makanan penutup.

Begitulah adat piring terbang di Solo. Bukan kita yang mendatangi makanan, tetapi makanan yang ‘terbang’ mendatangi kita. Semua tamu mendapat makanan dengan porsi dan jenis yang sama. Selain itu, dipastikan tamu akan makan dalam posisi duduk, tidak berdiri seperti prasmanan atau standing party. Meski kesannya rempong dan lama, adat ini masih dilestarikan oleh warga Solo dan sekitarnya. 

Di kampung saya, prosesi piring terbang ini masih umum dipakai saat kondangan. Saya sejak SMP menjadi sinoman atau pemuda yang bertugas membagikan makanan kepada tamu saat acara. Saat menyerahkan piring, kita harus berada di sebelah kanan tamu. Selain itu, posisi sendok harus ada di sebelah kanan dan kondisinya terbalik. Etikanya memang seperti itu.

 

 

dsc07398
Selamat berbahagia Aries dan Isti

Kamu punya pengalaman kondangan yang unik? Share dong…


13 respons untuk ‘Piring Terbang, Tradisi Pernikahan ala Solo

  1. Senengnya kalo dateng ke kondangan macem ini emang bakal bisa ngerti tata cara pernikahan Jawa ya, Kak, karena ngikutin dari awal sampe akhir. Menu makanannya pun khas, ngga macem-macem. Sayangnya sekarang udah jarang ada yang pake metode ini. Apalagi di sini, di Semarang. 😦

  2. Kalo di Palembang apa ya yang unik? kalo pernikahan zaman dulu kayaknya lebih banyak prosesi adat. Kece bajunya pak. Aku mau dong foto kayak gitu hahaha

  3. Teman kantor yang asli Wonogiri dulu menyelenggarakan pernikahan dengan prosesi yang seperti ini juga. Sayang saya tak terlalu memerhatikan bagaimana jalannya acara dan bagaimana makanan itu dibagikan–semua ada maknanya, ya. Tapi sepengamatan Mas, apa prosesi dan pernak-pernik acara pernikahan adat Jawa ini masih umum dipakai sampai sekarang? Ataukah mulai ada pergeseran?
    Ciee cakepnya yang pakai beskap lengkap dengan blangkon, hihi. Cocok Mas… jadi among tamu. Haha! *kabur

    1. gara jahat, hikz, kzl :p
      di kampung2 di solo raya masih ada tradisi piring terbang ini, karena tamu dianggap raja, jadi lebih sopan kalo tamu dilayani selayaknya raja, nggak ngambil makanan minuman sendiri.. kalo yg sinoman ngasih bunga itu cuma di gedung2 pernikahan aja 🙂

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s