Taman Rumah Dinas Bupati

Jambi dan sungai ibarat dua sisi mata uang. Saling terkait dan saling membutuhkan. Sejarah awal peradaban Jambi dimulai dari sungai Batanghari dan seluruh anak sungainya.

Berhulu di Sumatera Barat hingga berakhir di Selat Berhala, sungai Batanghari memiliki sembilan buah anak sungai. Batang Tembesi, Batang Merangin, Batang Asai, Batang Tabir, Batang Tebo, Batang Bungo, Batang Mesumai, Batang jujuhan, dan Batang Siau. Dari sinilah muncul istilah Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.

Banyak kota di Jambi yang berada di pertemuan dua sungai bahkan muara sungai. Sebut saja Bangko, Sarolangun, Muara Bungo, Muara Tebo, Muara Tembesi, Muara Bulian, Muaro Jambi, dan Muara Sabak. Dari namanya saja bisa ditebak lokasi kota-kota tersebut di muara sungai.

Pusat kota Bangko sendiri berada di pertemuan sungai Batang Mesumai dan Batang Merangin.

Bangko dikuasai Belanda pada awal abad ke-20. Sejak itu berbagai fasilitas dibangun untuk mendukung pemerintahan kolonial. Salah satunya adalah kantor Asisten Residen Jambi Ulu dan rumah Asisten Residen di Pasar Bawah.

Lihat juga : Peta Tempat Bersejarah di Bangko

Setelah berubah fungsi beberapa kali, saat ini bekas rumah Asisten Residen menjadi rumah dinas bupati Merangin. Sayang saya hampir tidak menemukan dokumentasi tentang bentuk awal rumah ini.

Tak sulit mencapai rumah dinas Bupati Merangin ini. Dari jalan lintas Sumatera, dari arah Pasar Baru, saya belok kanan di simpang BRI. Lurus hingga simpang Kebun Sayur lantas belok kiri sebelum jembatan Syamsuddin Uban.

Tak banyak warga Bangko yang tahu rumah dinas ini terbuka untuk umum. Khususnya saat hari Sabtu dan Minggu. Pengunjung diperbolehkan mengakses taman depan tanpa dipungut bayaran.

Sebelum masuk ke taman, saya harus lapor ke petugas Satpol PP yang berjaga di pos depan gapura. Motor saya letakkan dekat masjid.

Di dekat gapura selain pos jaga terdapat tiang bendera dengan taman bunga yang dipangkas sedemiakn rupa membentuk kata “Merangin”. Di sampingnya terdapat fosil kayu sungkai berukuran besar serta panggung terbuka.
p1040673
tiang bendera, fosil kayu dan panggung terbuka

Di sebelah panggung terbuka adalah rumah kecil berbentuk panggung yang dipakai untuk menerima tamu. Sambil bercengkrama menikmati pemandangan sungai Batang Merangin.

Halaman semen berpetak-petak digunakan sebagai tempat menyambut tamu agung dengan tarian Sekapur Sirih. Di dekatnya terdapat bangunan lambang kabupaten Merangin.

p1040672

p1040676

Di beranda rumah dinas, tempat terakhir yang boleh dikunjungi, diletakkan potongan batuan fosil dari geopark Merangin. Di sisi kanan diletakkan batuan yang dipotong dan dihaluskan sedemikian rupa menjadi satu set meja dan kursi. Bukankah batuan fosil ini dilindungi oleh pemerintah? #eh

 

p1040680

p1040681

Iklan

14 comments

  1. Halamannya asri tapi rumah dinasnya kecil ya. Rumah dinas bupati Sukamara sangat megah dan mewah, juga boleh dikunjungi warga kapan saja. Saya bahkan pernah masuk ke dalam kamarnya, ada tv sebesar layar bioskop di sana. Rumah pribadi beliau pun bebas dikunjungi masyarakat.

  2. “Lurah” itu artinya apa sih Mas? Dan kenapa Bangko dulu penting di zaman Belanda sampai jadi kediaman Asisten Residen? Kota perkebunankah? Sepintas memang rumah dinasnya ini mirip rumah-rumah kolonial dengan atap yang lebar dan pilar besar di depan. Cuma sayang, sepertinya si atap sudah jadi korban modifikasi.
    Aaaak, Mas Isna sudah empat tahun ya di Bangko? Doh harus segera ke sana nih, nanti kalau tiba-tiba pindah tugas bisa gawat. Kan saya mau ke tempat situs megalitiknya #eh.

    • hayok gara kapan kesini, lebih mudah ke bangko sekarang, ada bandara muara bungo dan linggau… lebih cepet sampe bangko… lurah ada banyak versi artinya, kalo di kerinci lurah/luhah artinya desa 😉

  3. Sekapur Sirih ternyata nama tarian pula ya, tak kira hanya istilah ilmu komunikasi yang bermakna “Kata Pengantar” dengan filosofi kapur dan sirih sebagai lambang menghormati tamu dalam perspektif Melayu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s