Sirnanya Kereta Api Kami

Saya gemar naik kereta api. Namun, bagi orang yang tinggal di Jambi seperti saya, naik kereta api di Jambi adalah seperti halusinasi. Mimpi yang mengada-ada. Selama puluhan tahun menguasai pulau Sumatera, pemerintah kolonial Belanda tak pernah tergoda untuk membangun jalur kereta api di Jambi.

Di Sumatera, jalur kuda besi hanya bisa ditemukan di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan dan Lampung. Itupun tak semua aktif dan ramai penumpang. Hanya jurusan Medan, Lubuk Linggau, Lampung dan Palembang yang sukses secara komersial. Dari sejumlah jalur itu, saya baru naik kereta di Medan menuju bandara Kuala Namu dan dari Lubuk Linggau ke Palembang.

Lihat juga : Naik Kereta Api dari Stasiun Kuala Namu

Pembangunan jalur kereta api tidak lepas dari keinginan Belanda agar lebih mudah mengangkut hasil bumi nan melimpah dari pulau Sumatera ke tempat lain. Bisa jadi saat itu Jambi dianggap daerah kurang penting dalam segi ekonomi dibanding daerah lain sehingga Belanda enggan membangun jalur kereta api.

Belanda sempat merancang jalur kereta api di Riau tepatnya antara Pekanbaru-Muaro Sijunjung. Rencana ini direalisasikan oleh pemerintah pendudukan Jepang. Sayang, jalur ini keburu mati sebelum sempat dioperasikan.

Di Bengkulu, jalur kereta api bisa dijumpai di Kota Padang, kabupaten Rejang Lebong. Merupakan satu-satunya stasiun kereta api di wilayah provinsi Bengkulu. Stasiun Kota Padang berada pada jalur antara Lubuk Linggau dan Palembang.

Lihat juga : Naik Kereta Api dari Lubuk Linggau ke Palembang

Warga Jambi, khususnya Bangko mengenal kereta api dalam wujud lain. Dalam sebuah rumah makan yang mengambil tema kereta api. Namanya rumah makan Koim. Berlokasi di depan Museum Geopark Merangin di tepi pertemuan sungai Batang Mesumai dan Batang Merangin. Zaman Belanda, tempat dibangunnya rumah makan ini adalah bekas dermaga menuju kantor Asisten Residen Jambi Ulu yang sekarang menjadi Museum Geopark.

Rumah makan mengambil bentuk kereta api. Lengkap dengan lokomotif, dua buah gerbong, rel, peron dan pagar peron. Tempat bersantap tersedia di dalam gerbong atau di dekat peron. Sambil makan, pengunjung bisa menikmati pemandangan sungai Batang Merangin. 

img_6293 lokomotif kereta
SONY DSC
gerbong
SONY DSC
isi gerbong
SONY DSC peron p1040601 pertemuan sungai Batang Mesumai dan Batang Merangin

Saya sendiri hanya sekali makan disini. Kata teman yang pernah makan, dulu rasanya enak. Sekarang rasanya biasa saja. Saya menyetujui omongan teman saya itu saat mencoba sendiri. Meski menunya lengkap, rasanya biasa saja. Pertama dan terakhir kali makan di Koim saat menjamu Karina dan Sergey, teman CouchSurfing dari Rusia yang pernah main beberapa minggu di Kerinci.

Waktu itu, di Bangko ada tiga teman yang gabung CouchSurfing. Saya, Ayu dan Koko. Karina dan Sergey menginap di rumah Ayu karena saya tinggal di kos. Tidak muat untuk menampung tamu. Sejak Ayu pindah rumah ke Jawa dan Koko bekerja di kapal pesiar, tinggal saya sendiri anggota CouchSurfing di Bangko.

Seperti sebuah antiklimaks, secara perlahan Koim ditinggal pelanggan setianya. Tutup. Tak ada lagi meja dan kursi. Tak ada makanan. Tak ada tawa canda pengunjung.

Dan beberapa bulan yang lalu, restoran yang pernah jaya ini dirundung tragedi. Api menjilat sebagian besar gerbong dan lokomotif. Lokomotif dengan material besi masih utuh. Pun dengan rel dan kayu di dalam gerbong. Sedang gerbong hanya tinggal rangka dan roda.

Saat ini, mungkin hanya kenangan dan cerita yang bisa diingat. Belum ada upaya menghidupkan kembali tempat ini.

p1040594

p1040606

p1040596 

p1040599

p1040597 

p1040598

Iklan

16 comments

  1. Btw kayaknya aku pernah baca berita klo akan dibangun jalur kereta di Jambi deh. Entah tahun kapan hehehe. Mungkin klo dihidupkan kembali duitnya mending buat bangun restoran baru yang lain deh, kadang renovasi yg lama-lama duitnya sama klo bikin baru. Malah kadang lebih mahal renovasi barang-barang tua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s