Siang di Jangkat

Cerita sebelumnya :
1. Malam di Jangkat
2. Pagi di Jangkat

***

Sekolah yang kami datangi adalah satu-satunya SMA di kecamatan Jangkat. Sekolah setingkat lainnya yaitu MAS Pulau Tengah dan SMKN 8 Merangin. Dari tiga sekolah ini, SMAN 9 Merangin adalah sekolah dengan murid terbanyak. Sekolah ini memiliki total 6 kelas dengan murid sekitar 160 siswa. Meski acara digelar di SMA, kami tetap mengundang perwakilan siswa dari SMK dan MAS.

SMAN 9 berlokasi tidak jauh dari markas Polsek Jangkat dan kantor camat Jangkat. Tidak tampak gerbang sekolah sebagaimana sekolah pada umumnya. Hanya ada papan kecil di tepi jalan. Jalan menuju sekolah masih tanah yang becek dan penuh air. Lapangan parkir dekat sekolah turut basah. 

p1050325

Sekilas tak ada yang aneh dari gedung sekolah. Kecuali lokal kelas yang cukup tinggi dari lapangan upacara. Belum ada tangga permanen menuju kelas. Kami harus berhati-hati menaiki tangga dari tanah liat. Tiang bendera terbuat dari bambu. Bambu terpasang tidak lurus, melainkan agak condong. Kata kepala sekolah, gedung SMAN 9 belum lama dibangun. Sehingga sebagian wajah sekolah masih belum sempurna..ow..

1-dsc_1025
lapangan tanah dan tiang bendera dari bambu yang miring

Acara diadakan di aula. Beberapa siswa mulai memasuki aula. Sayangnya entah kenapa tak ada siswa dari MAS dan SMK yang datang. Hp kepala sekolah kedua sekolah tersebut tidak aktif.

Acara dimulai dari pembukaan, doa, menyanyi lagu kebangsaan, sambutan kepala sekolah, sambutan perwakilan kantor dan materi inti yaitu penyuluhan pajak. Saya bertugas membaca doa dan tukang foto.

Saat menyanyi lagu Indonesia Raya, beberapa siswa putri maju ke depan dipimpin seorang dirijen. Semua part dinyanyikan secara baik hingga masuk ke reff semua siswi menyanyikan lagu secara fals. Sependengaran telinga saya, nada mereka turun beberapa not. Di sini, di Jangkat, salah satu sekolah terpencil di Merangin, lagu nasional dinyanyikan dengan cara yang agak berbeda.

1-dsc_0931

Secara keseluruhan acara berlangsung lancar. Para siswa mendengarkan penjelasan kami tentang pajak. Saat sesi interaktif, tak sedikit yang berpartisipasi mengajukan pertanyaan atau menjawab kuis berhadiah. Setelah selesai acara, kami berfoto bersama lantas berpamitan. Saat kami hendak masuk ke mobil, belasan siswa menghadang kami di halaman. Mereka ingin mengajak kami berfoto bersama.

1-dsc_1022

Sebelum pulang kami singgah di taman bunga Hesti’s Garden. Taman bunga kekinian yang sedang hits di media sosial. Tidak ada biaya tiket masuk ke dalam taman. Namun, dikenakan tarif parkir bagi setiap kendaraan. Kami harus membayar Rp 20.000,- untuk parkir dua mobil. Untuk kenang-kenangan, petugas parkir menjual gantungan kunci yang dijual seharga Rp 10.000,- perbuah.

1-dsc_0013

1-dsc_0001

Santap siang akan kami lakukan di rumah Santy, kawan CouchSurfing Jambi. Rumahnya di dusun Koto Jayo desa Pulau Tengah.  Setelah Danau Pauh jika dari arah Bangko.

Tahun lalu kami liburan di Jangkat dan menginap di rumah Santy. Saat ini, rumah ini hanya ditinggali Santy dan suaminya. Ayah dan adik Santy telah pindah rumah beberapa bulan sebelumnya. Sesuai adat di Jangkat, rumah akan diwariskan ke anak perempuan yang bungsu. Setelah menikah, ayah dan seluruh saudara akan berpindah rumah.

Tak lama setelah kami datang, Santy memanggil anak-anak kecil yang tinggal di sekitar rumahnya. Ada titipan buku bacaan dari beberapa kawan kantor untuk anak-anak itu.

Santy membuka sebuah taman baca untuk masyarakat di sekitarnya. Pengunjungnya sebagian besar anak-anak. Anak-anak tampak malu-malu saat saya abadikan dalam kamera.

1-dsc_0028
Anak-anak itu, mata cokelat itu..

Kami naik ke rumah Santy yang berbentuk panggung. Santap siang dilakukan di dekat dapur rumah Santy di lantai dua. Di Jangkat, anggota keluarga biasa makan di dapur. Tamu formal makan di ruang tamu.

Kami duduk melingkar di atas tikar dari daun pandan. Tuan rumah mengeluarkan nasi panas, lauk sambal ikan asin dibumbu balado, telur rebus masak sambal ijo, sayur berupa kol dan buncis rebus. Dipetik dari kebun sendiri. Saat menulis postingan ini, saya sambil menahan liur. Tak pakai lama, kami menyikat hidangan spesial yang sudah disediakan. Kebetulan kami semua doyan pedas hehe. Sebelum pulang ke Bangko, kami mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Santy atas masakan istimewa yang sangat menggugah selera.

1-dsc_0045

1-dsc_0043

Jangkat, saya merindukanmu.

Iklan

6 comments

  1. luar biasa ya mas, mereka masih bersemangat sekolah meskipun fasilitas serba kekurangan..

    Mudah2an tetap semangat,dan tidak ada lagi sekolah yang kekurangan fasilitas belajarnya.

  2. Saya selalu prihatin melihat sekolah yang serba kekurangan. Teringat tempat saya mengajar ketika pertama kali datang. Alhamdulillah sekarang tempat kerja saya sudah lumayan maju.

    Lagi. Selalu excited melihat kepolosan anak-anak.

  3. Adat di Jangkat yang mewariskan rumah ke anak perempuan yang bungsu, lalu keluarga berpindah ke rumah lain, ini cukup menarik ya. Kalo di Minang memang rumah diwariskan ke anak perempuan tapi bapak ibu masih tinggal di rumah itu.

    Masakan di rumah Santy sungguh menggugah selera.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s