Semalam Bersama Nick dan Lisa

Bulan lalu, saya mendapati sebuah pesan dari CouchSurfing di kotak email saya. Seorang backpacker dari Jerman meminta tinggal di rumah saya barang semalam. Namanya Yannick Rudolf. Dalam emailnya, ia bercerita ia sedang di Kerinci dalam rangka traveling keliling dunia bersama pacarnya Lisa. Mereka baru saja lulus pendidikan dokter di Jerman dan memutuskan untuk backpacking sebelum bekerja.

Mereka meninggalkan Jerman beberapa bulan yang lalu. Memulai perjalanan darat dari Rusia, China, Thailand, Kamboja, Malaysia dan Indonesia. Saat ini mereka sedang di Kerinci dalam rangka mendaki gunung Kerinci.

Saya buka profil Nick, panggilan Yannick. Fotonya ada beberapa. Dalam beberapa foto ia bersama pacarnya Lisa. Muka mereka tampak mirip. Semua komentar di akunnya bernada positif. Klik, saya tekan tombol Approve. Artinya saya setuju ia menginap semalam di rumah saya. Saya cantumkan juga nomor WA agar ia mudah menghubungi saya.

Sehari kemudian sebuah nomor asing mengirim pesan ke WA saya. Nick rupanya. Ia sedang di Kersik Tuo, di penginapan di kaki gunung Kerinci. Cuaca dan aktifitas gunung Kerinci sedang kurang bersahabat sehingga ia harus menunggu lebih lama untuk bisa mendaki Kerinci. Ia akan menunggu sampai dua hari. Jika keadaan tidak memungkinkan, ia akan mendaki gunung Tujuh yang lebih aman. Selanjutnya meneruskan perjalanan ke Bangko.

Esok harinya ia mengatakan akan naik Kerinci. Dua hari kemudian, Nick menghubungi saya akan melanjutkan perjalanan ke Bangko. Saya ingatkan untuk memesan travel ke Bangko lewat telepon agar mendapat kursi dan petunjuk dimana harus turun di Bangko.

Kamis siang, Nick mengabarkan kalau ia sudah meninggalkan Kerinci menuju Bangko. Katanya, sopir tahu dimana Nick akan turun.

Saya perkirakan ia akan tiba di Bangko jam 2 siang. Sampai jam 3 sore, Nick belum mengabari saya. Baru setengah 4 ia mengabari akan segera tiba di Bangko. Saya minta ijin pak boss di kantor untuk keluar sebentar menjemput Nick di Pasar Bawah. Nick saya minta turun di Biduk Amo di Pasar Bawah. Saya bergegas menuju tempat tersebut. Sekitar lima menit dari kantor saya.

Nick mengirim WA kalau sopir kurang paham dimana Biduk Amo. Gubrak! Sebel saya, tadi sopir travel bilang paham dimana Biduk Amo. Kenyataannya, huh #kzl #sbl. Nick sekarang berada di simpang Pasar Bawah. Saat saya mau jemput mereka, tampak seorang bule tinggi berkacamata menggendong ransel bersama seorang perempuan. Itu Nick dan Lisa. Mereka ditemani seorang bapak-bapak berpakaian khaki. Bapak itu bertemu Nick dan bersedia mengantar mereka ke Biduk Amo.

Nick dan Lisa saya “titipkan” ke mas Iwan dan Dede, kawan saya yang bekerja di museum geopark. Saya sempat menemani mereka sebentar di museum. Lantas saya balik ke kantor sampai jam 5 sore.

hjjlk
Foto Nick dan Lisa di Museum Geopark. Foto dari sini

Setelah absen di kantor, saya jemput Nick dan Lisa. Saya memboncengkan Nick, sementara Lisa naik ojek. Tiba di rumah, tukang ojek manyun saya beri Rp 10.000,-. Padahal itu lebih dari cukup untuk ojek dari Pasar Bawah ke rumah.

Saya ditemani istri ngobrol bersama Nick dan Lisa. Mereka masuk ke Indonesia dari Dumai. Menikmati indahnya Danau Toba, lanjut ke Padang, Kerinci dan sekarang di Bangko. Ini minggu ketiga mereka di Indonesia.

Rupanya mereka sudah diangkat menjadi dokter, bukan sekedar sarjana kedokteran. Sistem pendidikan kedokteran di Jerman menggabungkan antara pendidikan dan praktik. Tidak seperti di Indonesia dimana mahasiswa kedokteran menjalani studi dan praktik (ko-as dan internship) secara terpisah.

Nick berasal dari Kasse, Lisa dari Braunschweig. Mereka bertemu saat sama-sama kuliah di Universitas Goettingen. Dari keluarga mereka, hanya ayah Lisa yang memiliki latar belakang dokter, yaitu dokter penyakit jiwa / psikiater. Kata mereka, biaya pendidikan kedokteran di Jerman tak semahal di Indonesia. Semua perlengkapan dan peralatan disediakan oleh pihak kampus. Ah, saya iri melihat mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, hiks.

Malamnya kami makan di pujasera dekat Polres. Kami mentraktir mereka untuk merayakan 5th Wedding Anniversary kami. Saya memesan sate Padang, istri saya soto ayam, Nick dan Lisa menjajal sate Padang. Awalnya saya ragu mereka akan menyukai sate berkuah pedas ini. Beberapa tahun lalu, saya agak jijay dengan suka sate Padang yang berkuah kental, merah dan pedas. Di luar dugaan, mereka suka masakan pedas termasuk sate Padang. Mereka bahkan minta tambah satu porsi lagi.

Ketika saya tantang mereka makan sate jantung dan lidah, mereka sempat geleng-geleng kepala. Akhirnya mereka menyanggupi tantangan ini. Menurut mereka jantung dan lidah hewan cukup ekstrim untuk dimakan, tetapi menurut mereka rasanya cukup aman enak ketika sudah di dalam mulut.

Kata Nick, di Jerman tidak terdapat pohon kelapa. Sehingga kelapa harus diimpor dari negara lain. Kulit kelapa di Jerman tidak berwarna hijau melainkan kecokelatan karena melalui proses pengawetan. “I will miss coconut drink when I go back Germany,” ucap Nick pelan setelah menyeruput kelapa muda.

Pulang dari makan malam kami membuat wafel bersama. Alat pembuat wafelnya kami pinjam dari Hanifah, tetangga kami. Kami yang membeli bahannya sedang Hanifah yang membuat wafelnya. Sambil menunggu wafel siap, saya mengajak mereka nonton film di laptop. Saya putarkan film {rudy habibie}-nya Reza Rahadian dan Chelsea Islan. Meski tak paham sepenuhnya dengan bahasa Indonesia, mereka berkata kalau menikmati film ini.

Esok harinya kami sarapan nasi kuning. Sebagai kenang-kenangan saya berikan sebuah kartu pos dan pin. Setelah sarapan kami berpamitan. Sampai jumpa kawan, semoga kita bisa bertemu kembali. Mereka sendiri akan melanjutkan perjalanan ke arah selatan Sumatera…

dfghdfghdfg
Selfie sebelum pisahanFoto dari instagramnya Mamania

Iklan

28 comments

  1. Saya sudah gabung di CS, tapi belum ada satu orang pun yang mau singgah di rumah saya.

    Wah, di Jerman gak ada pohon kelapa toh? Jadi ingat bule Rusia yang pernah kesasar ke kampung saya, pulangnya minta dibekali singkong satu karung. Katanya di Rusia gak ada pohon singkong. Gkgkgk…

  2. Wah udah mulai mau terima tamu bule lagi ya? asyiknyaaa.

    Tamu dari Jerman gak pernah gagal bikin kesan manis. Sayang mereka gak mampir ke Palembang. Kan bisa aku tantang makan kapal selam hahahaha

    • kalo profilnyo cak wong baek aku selalu approve yan, jarang yg kutolak.. alhamdulillah jarang dpt bule yg neko2, pernah sih dpt wong US, saronyo mintak ampun… dr bangko dio ke linggau langsung ke jawo 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s