Review : Koar-Koar Backpacker Gembel (2013)

cover-depan-1m
Foto dipinjam dari sini.

Bukan buku baru sebenarnya. Fisiknya pun tampak agak uzur.  Tanpa plastik pembungkus, sampulnya yang tak mengkilat menjadi agak kusam. Kertasnya yang tak lagi cerah menyiratkan sudah beberapa kali buku ini dibuka pengunjung toko tanpa ada yang membeli. Letaknya disusun dalam “kolam” buku obral. Harganya setara satu porsi mangkuk bakso. Amat murah memang. Mungkin saja buku ini sudah ditarik peredarannya di toko buku besar. Walau bagaimanapun, saya tak berharap penulis buku ini membaca tulisan ini. Kasihan, nanti dia sedih melihat bukunya berakhir di meja obral.

Baca juga : Tolong!!! Buku saya diobral.

Datang ke Bangko beberapa tahun yang lalu. Hanya ada satu toko buku di kota ini. Saat ini, sebuah toko bernama Grandmedia telah berdiri tidak jauh dari kantor. Toko ini memang cabang dari Gramedia yang ada di Kota Jambi. Grandmedia (pakai n) Bangko sendiri merupakan cabang toko serupa di Muara Bungo. Isinya tidak selengkap Gramedia tentu saja. Namun, saya bersyukur bertambah lagi referensi tempat membeli buku di Bangko. Review tentang Grandmedia akan saya tulis terpisah.

Saya tak pernah mengenal Adis @takdos, sang penulis secara langsung. Pertama kali mendengar nama Adis saat saya bergabung dengan grup Facebook yang dibuatnya: Celoteh Backpacker. Grup ini merupakan wadah bertemunya para blogger yang hobi backpackeran backpacking. Atau para backpacker yang hobi ngeblog. Dari grup ini saya menjalin pertemanan di dunia maya dengan banyak sekali blogger. Bahkan, saya sempat bertemu muka beberapa kawan blogger seperti gara, omnduut, dananwahyu, rintadita, dan masih ada beberapa lagi.

Kembali ke laptop buku ini. Koar-koar Backpacker Gembel adalah buku kedua Adis. Buku pertamanya terbit secara indie. Buku ini menceritakan kisah-kisah perjalanan Adis baik di dalam dan luar negeri. Sampul bukunya animatif, menggambarkan suasana jalanan di Thailand. Lengkap dengan tuk-tuk, bus bertuliskan Thailand, motel dan pedagang kaki lima.

Adis sendiri mengaku mempunyai nama panjang Adiiiiiiis. Berdarah campuran Palembang-Sunda. Lulusan sekolah perhotelan. Hobinya ngebir sambil jalan. Eh, jalan-jalan sambil minum bir.

Di bagian pendahuluan, Adis mempersilakan pembaca untuk mengisi sendiri ucapan terima kasih. Alasannya karena ia menganggap akan banyak sekali orang yang akan disebut di daftar itu hehe. Lucunya, ia menyebut nama mantan pacarnya..ceile..

Cerita di buku ini dibagi menjadi tiga bagian : Fun Backpacking, We are Backpacker (bukan Backpackers), dan Are You A Backpacker?

Fun Backpacking menceritakan pengalaman seru Adis traveling keliling ASEAN. Tentang pengalaman menonton ehm, tarian striptease di Bangkok. Jujur, gaya bahasa Adis di postingan ini agak vulgar. Meski vulgar, gaya bercerita Adis cenderung spontan, agak slengekan dan blak-blakan. Menit-menit selanjutnya, saya justru merasa ikut hanyut dalam cerita Adis. Karena kekuatan deskripsi cerita, saya seperti mengalami sendiri apa yang Adis rasakan. Ohya, buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto untuk menunjang cerita.

Kembali ke cerita, Adis lantas nekat menjajal Muay Thai di Phi Phi Island. Tak memiliki latar beladiri, Adis berani bertarung sungguhan di arena Muay Thai yang terkenal keras hanya demi pembuktiannya kepada sang kekasih. Jalan-jalan Adis berlanjut ke Kamboja. Di Siem Reap, dia beruntung mendapatkan hotel bagus tapi murah seharga 8 dolar semalam.

Saya kemudian diajak ke museum Tuol Sleng menyelami masa kelam Kamboja di bawah pemerintahan Pol Pot. Dimana jutaan rakyat Kamboja dibantai pada salah satu genosida paling sadis di dunia. Membayangkannya saja saya sudah ngeri. Apalagi mengunjunginya.

Di Vietnam, saya diajak mengunjungi Cu Chi Tunnels. Jejak kejayaan dan cemerlangnya strategi perang rakyat Vietnam melawan Amerika. Amerika boleh jadi jaya di film Rambo, padahal faktanya mereka tidak berdaya menghadapi tentara Vietnam. Masih di Chu Chi Tunnels, Adis bertemu dengan turis dari Israel. Tidak seperti anggapan banyak orang, orang Israel ramah dan tidak semuanya menyukai peperangan.

Tulisan terakhir di bagian ini menyoroti fenomena prostitusi sebagai bagian dari wisata di Asean. Lengkap dengan lokasi red light district, jenis-jenis pelaku prostitusinya dan berbagai hal detil lainnya. Saya seperti sedang membaca bagian dari buku Jakarta Undercover-nya Moammar Emka. Bikin geleng-geleng kepala saking tercengangnya hehe.

We are Backpacker (tanpa s 🙂

Di bagian kedua ini Adis mengajak pembaca jalan-jalan keliling Indonesia. Cerita dimulai dari jalan-jalan melihat pasar terapung di Kalimantan Selatan. Pasar ini hanya ada dua di dunia lho. Satu di Thailand, satu lagi di Banjarmasin. Pasar ini hanya ada di pagi hari di sungai Martapura. Pedagang dan pembeli melakukan transaksi jual beli di atas perahu sampan yang disebut kelotok.

Keseruan berlanjut ke desa Loksado, sekitar 6 jam perjalanan dari Banjarmasin. Desa ini dikenal sebagai tempat bermukim warga Dayak Meratus. Sekaligus tempat melakukan bamboo rafting yang unik.

Petualangan Adis selanjutnya adalah di desa adat Sade di pulau Lombok. Suku Sasak menghuni desa ini. Rumah adat suku Sasak menggunakan campuran kotoran kerbau sebagai campuran bahan bangunannya. Di desa Bayan Beleq, Adis mencicipi bir lokal yang disebut brem.

Tak hanya pengalaman seru, pengalaman mistis ia ceritakan saat mendaki gunung Tambora di pulau Sumbawa. Sialan, saya dibikin merinding membaca cerita seram penuh hantu yang ia alami selama mendaki gunung ini. Bagaimana tidak, saya membaca bagian ini ketika malam , sedang sendirian dan sedang turun hujan pula!

Indonesia itu indah. Namun, Indonesia juga menyimpan sisi lain. Kondisi jalan yang buruk, insfrastruktur kurang memadai, transportasi yang tidak pasti. Cerita selanjutnya adalah pengalaman buruk Adis menumpang mobil travel dari Samarinda ke Berau. Mobil travel yang penuh penumpang dan barang, penumpang yang merokok seenaknya sambil membawa jeriken berisi bensin, jalanan trans-Kalimantan yang rusak parah, ban mobil pecah, plus sopir yang mengantuk sehingga Adis harus menjadi sopir dadakan.

Bagian terakhir dari buku ini diberi nama “Are You A Backpacker?” Apa isinya? Saya tak mau membocorkan isinya. Silakan beli buku ini di toko terdekat. Buku ini membuka mata saya tentang indahnya alam Indonesia, uniknya budaya Indonesia dan keragamaan budaya di dunia.  Recommended untuk dibaca.

“Melangkahlah. Melangkahlah sejauh kau bisa. Lihatlah keindahan Indonesia. Sebuah negeri yang pantas disebut surga!” (Adis @takdos)

Iklan

18 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s