Malam di Jangkat

“Huekkk!” Kang Yadi, teman sekantor saya yang duduk di kursi depan tiba-tiba mual. Pak Djaenal, boss saya yang duduk di kursi kemudi seketika menepikan mobil ke tepi jalan. Kang Yadi buru-buru keluar dari mobil untuk mengeluarkan isi perutnya. Mobil teman kami yang mengekor di belakang  turut menepi.

Di luar jendela hanya terdengar suara binatang malam. Langit sangat bersih diterangi cahaya bulan. Rumah penduduk belum tampak. Tak ada lampu-lampu di tepi jalan. Gulita. Tak ada kendaraan yang lewat. Sunyi. Siluet gunung Masurai tampak hitam di bawah langit malam.

Kami meninggalkan Bangko jam 6 sore, sekarang sudah jam setengah 10. Saat ini kami sudah lewat dari Danau Pauh, desa Pulau Tengah. Setelah desa ini, masih ada satu lagi sebelum tiba di tujuan, desa Muara Madras. Ibukota kecamatan Jangkat.

Di Bangko kang Yadi belum sempat makan sore. Jangkat terletak di kaki gunung Masurai. Medan jalan Bangko-Jangkat yang berliku-liku, naik turun membuat perut kang Yadi berontak.

Kami tidak sedang jalan-jalan. Melainkan menjalankan tugas kantor memberikan penyuluhan ke beberapa sekolah di desa Muara Madras kecamatan Jangkat. Tahun ini, di luar tugas rutin, saya mendapatkan tugas tambahan yaitu sebagai anggota tim penyuluhan pajak.

Tim kami berjumlah lima orang yang ditugaskan ke Jangkat. Kami membawa dua mobil double-cabin untuk mengangkut tim dan semua peralatan seperti laptop, proyektor, dan bahan-bahan untuk penyuluhan seperti brosur, buku catatan, alat tulis dan aneka souvenir. Selain itu, kantor biasanya menyediakan makanan kecil untuk peserta penyuluhan. Makanan berupa kue dan roti sengaja kami beli dari Bangko.

p1050326

Jam 10 malam kami tiba di Wisma Hazel, penginapan kami. Udara dingin khas pegunungan menyergap kulit saat kami tiba di Jangkat. Kak Irma, pemilik wisma dan suaminya langsung mempersilakan kami menuju ke kamar yang berada di sebuah rumah panggung. Antara rumahnya dan penginapan tersambung oleh sebuah tangga. Rumah kak Irma sendiri terbuat dari tembok.

Penginapan di Jangkat amat minim. Penginapan Pak Cabe yang pernah disurvei oleh seorang teman kabarnya tidak terlalu bagus. Hingga akhirnya kami menemukan tempat ini secara kebetulan. Setelah melihat-lihat langsung kondisi kamar, kami langsung pesan kamar sekaligus pesan menu untuk makan malam dan sarapan. Mengingat di Jangkat sangat susah menemukan makanan di luar.

Wisma Hazel berbentuk rumah panggung kayu. Sekilas mirip bungalow. Terdiri dari dua kamar berukuran besar, ruang tengah dan balkon. Kamar mandi dan mushola tersedia di rumah kak Irma. Ruang tengah muat untuk doa orang. Jika tamu banyak, tersedia satu kamar di rumah kak Irma yang bisa dipesan. Tidak ada tv karena listrik di Jangkat tidak menyala saat siang hari. Lagian, kami tidak mencari tv.

Sebelum makan, kami minta izin ke kamar mandi untuk mencuci muka dan sembahyang. Cess..air sedingin es membuat kami tak berlama-lama menyentuh air. Makan malam disediakan di ruang makan rumah kak Irma. Setelah mengambil nasi dan lauk, kami kembali ke ruang tengah. Disaat sebagian orang tertidur lelap, kami baru memulai makan malam.

Menu yang ditawarkan kak Irma cukup sederhana. Nasi panas, telur balado dan sambal kacang. Kacang gadis, begitu warga Jangkat menyebutnya kata kak Irma. Kacang ini rasanya gurih mirip kacang polong, tapi ukurannya cukup besar. Di Jangkat hampir semua masakan menggunakan cabai dalam jumlah banyak.

Perut yang lapar, udara dingin, nasi panas dan sambal membuat kami sangat bersemangat menghabiskan menu makan malam ini.  Akibatnya, ketika penganan kecil berupa kacang dan pisang rebus disajikan bersama minuman, perut kami rasanya tak mampu menerima makanan lagi.

1-dsc_0828

Ada yang unik di Jangkat ketika seorang tuan rumah menyajikan minuman kepada tamu. Tuan rumah akan memberikan nampan berisi termos berisi air panas, sebungkus teh, kopi, gula, beberapa sendok dan gelas. Gelas diletakkan dalam posisi terbalik. Tamu dipersilakan membuat minuman sendiri sesuai dengan kadar gula, teh atau kopi sesuai selera masing-masing.

Hal ini tidak terlepas dari stigma bahwa masih ada segelintir warga Jangkat yang masih mengamalkan ilmu kebatinan. Konon, ia harus melepaskan ilmu hitam itu dengan cara memberikan racun kepada seseorang lewat minuman. Saya pernah mendengar mitos ini. Namun, kata Santy teman saya yang asli Jangkat, sudah sangat jarang orang Jangkat yang menaruh sianida racun dalam minuman. Namun, kebiasaan memberikan minuman dengan menyuruh tamu meracik minuman sendiri masih tetap lestari hingga saat ini.

Usai makan, saya membawa minuman ke balkon. Kami ngobrol dibalut selimut tebal. Ditemani gemintang di langit. Ketika ngobrol, mulut kami mengeluarkan asap. Jelang tengah malam kami baru beranjak tidur. 

1-dsc_0838

Iklan

22 comments

  1. Di sebelah mana wismanya mas? Ada berapa kamar? Kalau bermalam di Jangkat, kami menginap di rumah aparat desa atau pegawai kecamatan. Pas di Sungai Tenang, nginapnya di rumah dinas camat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s