When I Miss Kincai…

Rasa rindu bisa datang kapan saja, dimana dan kepada siapa saja. Selain rindu orang tua, rindu kampung halaman, saya terkadang rindu Kincai. Kincai atau Kerinci memang bukan nama orang. Melainkan nama dataran tinggi dengan gunung Kerinci dan danau Kerinci sebagai ikon utamanya.

Saya memang hanya sebentar di Kerinci, hanya sekejap mata tinggal di Kerinci. Setahun buat saya terlalu singkat. Namun, ibarat kata, mungkin saya sudah terlalu jatuh hati aka. baper dengan tempat ini.

Selain rindu alamnya, pemandangannya, saya rindu orang-orangnya. Keramahan yang terasa tiap blusukan ke desa-desa di Kerinci. Mereka sebagian besar bisa berbahasa Indonesia, sebagian hanya bisa berbahasa Kerinci. Bahasa Kerinci yang unik dan terbagi menjadi puluhan dialek makin membuat saya kagum terhadap bahasa ini.

Ketika saya tersesat mencari megalit di desa Lolo Gedang, saya berjumpa dengan petani yang tak hanya menunjukkan jalan yang benar. Melainkan mengantar saya menuju jalan yang saya maksud.

Bicara soal kuliner, saya makin baper. Sederet masakan istimewa, dimasak dengan bumbu terbaik, ditemani nasi panas mengepul, sambal yang mantap plus udara dingin membuat ritual makan menjadi terasa istimewa. Akhirnya, saya hanya bisa berujar, nikmat mana yang kamu dustakan #lap iler.

Sudah setahun ini saya tak menjumpai Kerinci. Rindu? Banget! Kenapa nggak segera main kesana? Belum ada tugas kesana lagi..heu.. Ngapain aja kalo lagi rindu Kerinci tapi nggak bisa kesana? Ini kegiatan-kegiatan yang akan saya lakukan:

1. Makan Dendeng Batokok

3743-low-poly-red-yellow-wallpaper-background
Foto dari sini. 

Pertama kali datang ke Kerinci saya merasa aneh dengan makanan ini. Begitu mencoba, duh.. mulut tak berhenti mengunyah nasi sampai tandas. Rahasia kelezatan dendeng di Kerinci adalah prosesnya yang lama. Daging sapi segar direndam dalam air kelapa selama semalam, dibumbu, ditokok (dipukul-pukul hingga empuk) baru dibakar. 

Penyajiannya berbeda dengan dendeng di Jawa atau Minang sekalipun. Biasanya disajikan panas-panas bersama dengan panggangan, dilengkapi dengan bawang putih goreng dan semangkuk kecil sambal cabe. Saya bilangnya jus cabe #nulis sambil ngeces.

Di Bangko ada tiga penjual dendeng batokok yang cukup ngetop. Pertama RM dendeng batokok Pusako di depan kantor bupati. Dua lagi RM dendeng batokok beras payo Kerinci di Pasar Bawah dan di depan penjara. Ketiganya saya akui hampir sama enaknya. Namun, saya lebih sering beli di RM Pusako karena lebih dekat rumah. Soal rasa tidak jauh beda dengan di Kerinci. Namun, tidak tersedia jus cabe di dendeng batokok di Bangko. 

Kuliner khas Kerinci tak hanya dendeng sebenarnya. Ada soto Semurup, sate yang dibakar dengan arang kayu manis, ayam goreng kampung, anyang (urap), gulai ikan danau, dll. Namun, hanya dendeng batokok yang paling mudah dijumpai di Bangko. 

2. Dengerin Lagu Kincai
Salah satu cara meluapkan rindu versi saya adalah lewat lagu. Di playlist saya ada beberapa lagu daerah. Salah satunya lagu daerah Kerinci. Baik lagu klasik, lagu modern, lagu sedih, lagu riang semua ada. Tinggal dimainkan sesuai mood.

Genre lagu Kerinci modern kebanyakan dangdut. Sebagian pop dan disko dangdut. Musik disko dangdut dengan irama Rentak Kudo biasa dimainkan pada malam berinai, yaitu satu malam sebelum pengantin melaksanakan akad nikah.

Sekilas bahasa yang dipakai dalam lagu Kerinci mirip bahasa Minang yang berakhiran o. Kenyataannya, ini adalah bahasa Kerinci yang disederhanakan agar lebih mudah dipahami oleh selain orang Kerinci.

Penasaran bagaimana lagu Kerinci? Ini salah satu contohnya (saya ambil dari yutub). 

3. Ke Pasar
p1050606
Pasar Baru Bangko

Seperti sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya, warga kota Bangko sangat majemuk. Terdiri dari berbagai suku seperti Melayu, Minang, Jawa, Kerinci dan lain-lain.

Di pasar pula saya mendengar berbagai bahasa daerah, salah satunya bahasa Kerinci. Ciri yang tampak dari bahasa Kerinci adalah dilafalkan secara cepat dan bernada patah-patah. Ciri khasnya, banyak sekali kata-kata bernada diftong dalam kosakatanya. Seperti aku menjadi akau, kami jadi kamai, rindu jadi rindu. 

4. Buka Google Map  
Terima kasih Google. Tak hanya untuk mencari atau bertanya sesuatu. Mesin pencari ini cukup mengobati kerinduan saya akan Kerinci. Caranya, cukup membuka google map dan saya bisa melihat tempat-tempat di Kerinci melalui fitur street view. Saya bisa melihat dimana dulu saya tinggal dan bekerja, tempat dimana saya biasa nongkrong, dan semua tempat yang bisa saya bikin baper banget!

Kalau kamu lagi rindu seseorang sesuatu, kamu bakal ngapain?

untitled
Kantor sekaligus rumah (dinas) saya di Sungai Penuh. Gambar dari Google Map.

Iklan

21 comments

  1. Makanan Kerinci gak jauh beda dengan Minang. Di Kincai juga banyak sekali orang Minang, hehe…
    Kincai gak jauh dari kampung saya, tapi saya belum pernah kesana.

  2. Dulu mau naik ke kerinci, tapi karena beragam masalah termasuk waktu tempuh dari aceh yang lamanya gak karuan dari darat (naik pesawat yo ora ono duwite). Ya jadinya masih jadi impian saja untuk bisa mencapai gunung berapi tertinggi di Indonesia itu 😀

  3. Cerita tentang megalitnya ada nggak nih, Mas, hehe. Kalau ada bolehlah di-share buat kita, hehe. Dendeng batokok dari Jambi kata teman kantor memang paling maknyus. Apalagi yang asli dari Kincai ya, wah anugerah bangetlah itu pasti rasanya nendang banget yak. Main-main ke sana Mas kalau kangen, mumpung akhir pekan. Jangan lupa bungkus makanan buat bawa pulang, hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s