Ironi Taman Batu

Entah harus sedih atau miris melihat bebatuan berusia jutaan tahun tergolek di tepi jalan. Diperjualbelikan orang dengan bebas. Dipotong kecil-kecil lantas dipakai dengan bangga menjadi batu cincin.

Tiba-tiba semua orang membicarakan batu. Tua, mua, laki, perempuan, bahkan sampai anak-anak kecil. Baik siang malam tak lepas dari obrolan dan diskusi tentang batu.

Batu disini bukan sembarang batu. Batu salah satunya adalah batu sungkai, nama lokal dari batu fosil. Sejatinya batu sungkai adalah tumbuhan berkayu yang telah mengalami proses selama jutaan tahun menjadi batu. Batu ini banyak ditemukan di Merangin. Terutama di tepian sungai Batang Merangin.

Beberapa bulan yang lalu pernah digelar festival batu akik di Merangin. Batu sungkai yang seharusnya dilindungi justru dipajang untuk dijual kepada khalayak. Yang bikin blunder, acara ini didukung oleh pemda. Bahkan salah seorang calon gubernur (artis yang sekarang menjadi gubernur) turut hadir di festival itu.

Yang menjadi persoalan adalah eksploitasi batu sungkai besar-besaran menjadi komoditas dagang. Batu bernilai sejarah diambil paksa dari lokasi aslinya, kemudian dijual ke penadah sekian ratus ribu. Lagi-lagi, faktor ekonomi membuat batu-batuan tersebut tak mampu berteriak ketika ia dieksploitasi warga untuk dijual kepada kolektor. Eksploitasi massal ini diungkap dalam beberapa berita di koran lokal Bangko.

Dari segi peraturan, belum ada sanksi tegas yang mengatur larangan eksploitasi batu sungkai. Perda yang sudah dibuat seperti angin yang berhembus sepoi, melenakan alih-alih membuat takut para pemburu batu.

Taman Batu

Baru-baru ini, dibuat tempat wisata baru di Bangko dengan nama Taman Batu Kabupaten Merangin. Meski belum selesai benar, tempat ini sudah diresmikan oleh wakil gubernur beberapa minggu yang lalu. Kontroversi timbul salah satunya karena proyek miliaran ini diduga muncul tiba-tiba dalam APBD tanpa persetujuan dewan, nah…

Taman Batu, namanya seolah-olah berarti “taman dari batu”. Padahal batu disini bukan batu biasa. Adalah nilai sejarah batuan jutaan tahun yang dulunya adalah flora hidup. Buat apa arti sebuah nama. Namun, begitu mudahnya manusia menggampangkan makna sebuah “batu”. 

Promosi lewat dunia maya dan lewat mulut ke mulut membuat taman batu mendadak populer. Saya ingin membuktikan sendiri bagaimana penampakan tempat wisata tersebut. Lokasinya yang berada di tepi jalan lintas Sumatera. Tepat sebelum terminal antar kota membuat tempat ini menjadi magnet wisata baru di Bangko.

Siang yang terik tak menyurutkan niat penggila selfie berfoto di taman batu. Halaman parkir yang masih beralas tanah tampak dipenuhi jejeran kendaraan roda dua dan empat. Kedatangan pengunjung menjadi berkah bagi pedagang es tebu, sate Padang dan batagor.

Tidak ada tiket masuk ke taman batu. Spot pertama berupa marka tanah bertuliskan Taman Batu Kabupaten Merangin. Dihiasi dengan tempat duduk berbentuk balok kayu kecokelatan. Saya penasaran. Saya lihat dari dekat balok kayu tersebut. Astaga, ini adalah fosil sungkai yang dihaluskan sedemikian rupa menjadi berbentuk kotak.Meski siang terik, beberapa tukang bangunan tampak sibuk mengerjakan beberapa bagian taman.

p1060291
panas terik

p1060289
balok kayu

p1060287

urat-urat kayu, batu ini jutaan tahun yang lalu adalah pohon hidup

Saya tinggalkan spot tersebut. Di belakangnya terdapat sebuah kolam buatan dengan batu sungkai yang telah dipotong-potong sedemikian rupa dan ditata di atas kolam. Saya makin sedih.

p1060285

Saya menuju sebuah panggung dengan instalasi semen berwarna hijau, kuning dan jingga yang diatasnya diletakkan potongan batu sungkai. Tak terlalu tampak spesial. Pun tanpa papan informasi dan petugas, batu-batu ini hanya menjadi pajangan dan objek berfoto selfie tanpa makna apapun.

p1060280

p1060277

Saya hanyalah pendatang di kota ini. Hanya numpang makan dan tidur. Saya bukan tak tahu jika di Merangin khususnya di Bangko minim tempat wisata. Namun, saya agak kecewa dengan langkah pemerintah “membahagiakan” rakyatnya dengan membuat tempat wisata kontroversial nan berbiaya mahal ini. Entah apa yang dipikirkan pencetus taman ini. Saya lebih bahagia seandainya masyarakat bisa datang langsung ke lokasi batu sungkai yang sebenarnya. Di tepi sungai Batang Merangin. Atau datang saja ke Museum Geopark Merangin. Atau kenapa tidak membuat objek wisata lain yang lebih edukatif. Taman replika misalnya. Masyarakat sepertinya tak mau ambil pusing. Yang penting datang, foto selfie, happy bisa upload di instagram. Saya bisa apa?

Saya tak tahu sampai kapan eksploitasi batu sungkai bisa dihentikan. Nasi sudah menjadi bubur. Apa yang sudah dibangun tak mungkin dibongkar…

Iklan

37 comments

  1. haduuuh…
    kok nggak pikir panjang,
    lebih asyik kalau fosil dibiarkan di tempat, lalu bikin trip mencari jejak harta karun fosil..
    berkesan pastinya.

  2. Bulan Oktober lalu kantor ngadain acara tingkat provinsi disitu meski belum 100% selesai. Karena baru ya masih bagus, semoga nggak terjangkit penyakit bisa membangun nggak bisa merawat.
    Iya, takutnya kalau musim akik datang lagi, pada kesitu sangu palu, dicuwil-cuwil deh itu batu.

  3. mungkin lebih baik dibiarkan terkubur saja, seperti sebuah kuburan/punden terus dikasih tanda/plang kalau di tempat ini ditemukan bebatuan jutaan tahun yang lalu. Baru ambil sedikit buat koleksi museum saja. hehehe mungkin lebih mudah berpendatap saja

  4. Waduh kok gitu, btw nemu batunya itu di lokasi tempat yang dikonservasi atau di lahan bebas atau apa?

    Klo ngomongin eksploitasi fosil bersejarah, tambang emas, minyak, batuan berharga sebenarnya sama saja sih.

    Lagipula kalau cuma mau buat taman kek gitu bisalah dibuat tanpa mengorbankan fosil.

  5. miris lihatnya 😦
    tapi memang sekarang ini tempat wisata dan semacamnya itu lebih condong menyediakan spot untuk foto ataupun selfie, malah esensi sebenarnya dr tmpt itu malah jadi hilang

  6. sebenarnya kalau batu sudah dipotong dan dihaluskan itu malah merusak aslinya
    entahlah apa kurang pemahaman ketika merencanakan pembangunan
    di gunungkidul taman batu karst pun demikian..miris sih

  7. Orang Indonesia pada umumnya memang tidak peduli dengan museum, masa batu-batuan sebagus itu dibiarkan begitu saja ya. Coba diluar negeri, pasti jadi museum yang sangat megah dan jadi destinasi wisata.

  8. Ikutan mirip melihat bahwa batu berusia ratusan tahun atau bahkan mungkin ribuan tahun dipotong-potong begitu saja untuk 7 souvenir atau dijadikan lokasi wisata. Kalaupun dijadikan destinasi wisata mustinya tidak apa-apa asal batu-batu tersebut tidak terganggu atau dirubah bentuk aslinya

  9. Batunya cantik, itu terjadi karena masyarakat awam dgn informasi ttg batu fosil yg menyedihkan pejabat terkait bukannya mengedukasi malah membuat proyek taman, apalah gunannya taman batu jika tdk mensejahterakan n menghibur masyarakat

  10. Waah…kalau batu akik masih sepopuler beberapa waktu lalu bisa hilang ini satu persatu kalau tidak dijaga.

    Terlepas dari maksud peletakannya di taman, alangkah baiknya disertai informasi mengenai sejarah batu-batu tersebut.

    Memang bukanlah hal yang mudah mengedukasi masyarakat untuk lebih mengerti tentang pentingnya benda-benda yang memiliki jejak sejarah zaman purba.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s