Dua Jam Mengajar di SDN No. 115/VI Bangko VIII

Berusaha mengulang kesuksesan acara Kemenkeu Menginspirasi di SDN 282 beberapa minggu yang lalu, acara serupa kembali digelar. Kali ini di SDN No. 115/VI Bangko VIII. Tidak jauh dari kantor dan rumah.

Kali ini terjadi perubahan tim relawan. Bang Afdal dan mas Endy berhalangan karena ada acara. Sufi mengambil cuti tahunan. Sebagai gantinya, ada mas Irwan, junior saya Wisnu dan Eci di tim dokumentator. Tim pengajar masih saya dan Ega ditambah Adit plus Kudri anak PKL di kantor.p1050971

Kata pak Yosep sang wakil kepala sekolah, semua SD di provinsi Jambi memiliki nomenklatur atau nama resmi yang panjang. Seperti SD Negeri No. 115/VI Bangko VIII ini. Angka 115 menyatakan no.urut dari Dinas Pendidikan kabupaten. Angka Romawi VI menyatakan kode kabupaten Merangin, Bangko nama kecamatan. Terakhir angka VIII menyatakan no.urut dari Dinas Pendidikan kecamatan.

Hari H, jam 7 lebih saya menjemput Wisnu di kosan karena Wisnu tidak memiliki kendaraan. Tiba di sekolah, datang Kudri lalu disusul Ega. Kami sarapan di bubur ayam dekat Hotel Permata. Ini adalah warung bubur ayam satu-satunya di kota ini.

Aktivitas pagi di SDN 115 dimulai dengan senam pagi bersama di halaman sekolah. Lagu “Chicken Dance” saya dengar di antara beberapa lagu yang dimainkan. Selesai senam sekitar jam delapan, anak-anak masuk kelas dengan tertib dibimbing masing-masing guru kelas. Kami masuk ke ruang guru.

p1050974

senam
p1050987
murid perempuan malu-malu difoto

Sambil menunggu jam 8, kami berbincang dengan guru-guru. SDN 115 adalah salah satu sekolah tertua di Bangko. Siswa di sekolah ini sangat banyak, sementara jumlah lokalnya sedikit sehingga satu kelas bisa dipakai oleh tiga rombel (rombongan belajar). Artinya, ada siswa yang mendapat jadwal sekolah pagi, siang dan sore.

Hingga jam 8, Eci dan Adit belum datang. Beberapa kali pak Yosep menanyai kami kapan akan masuk kelas. -_-

Jam 8 lebih semua tim sudah siap. Setelah hom-pim-pah, dari kelas 4, 5 dan 6 saya mendapat tugas mengajar di kelas 4A. Wali kelas ini dipimpin oleh ibu guru Yurlina. Jumlah siswanya 22 orang.

Ruang kelasnya cukup baik, meski tidak terlalu terang. Uniknya, setiap bangku dihias dengan taplak meja makan plus penutup plastik. Di tengah belakang kelas dan di depan terdapat pot bunga.

Awal masuk, anak-anak cenderung malu-malu menyambut perkenalan saya. Saatnya ice breaking, pikir saya. Saya ajarkan sapaan halo dan hai kepada mereka. Anak-anak mulai tampak aktif “bersuara”.
p1050994
memperkenalkan apa itu Kementerian Keuangan dan pajak

Sesi perkenalan berlangsung lancar. Saya kemudian menjelaskan itu pendapatan dan pengeluaran negara melalui permainan mengelola uang. Saya memberikan sebuah tugas dan anak-anak harus menjawab dalam selembar kertas.

p1060009
belajar mengatur uang

Ketika saya minta beberapa siswa membacakan tugasnya, hampir semua bergeming. Setelah dibujuk dengan hadiah buku tulis, tiba-tiba semuanya tunjuk tangan. Ketika saya minta 3 anak maju ke depan. Seisi kelas maju ke depan menyerbu. Ampuuun…saya hampir ditumbur anak-anak. Hahaha…

p1060021

“ditumbur”

Setelah situasi terkendali, saya minta sebagian anak membacakan tugasnya. Ada seorang siswa yang mengatakan jika diberi uang ia akan main PS. Sebagian lagi mengatakan akan menabung, membeli buku dan diberi ke orang tua #anaksoleh.

p1060046

tebak profesi

Permainan selanjutnya adalah tebak profesi. Saya memberikan kertas bergambar alat tertentu. Mereka harus menebak nama alat dan profesi apa yang berhubungan dengan alat itu. Keributan jilid dua terjadi. Setiap saya meminta 1 anak maju ke depan, seisi kelas menyerbu saya. Tak ingin “ricuh” lagi, saya mendatangi meja lalu anak cukup menjawab tanpa maju ke depan. Pengalaman dua kali mengajar, kelas ini adalah kelas paling heboh dibandingkan kelas sebelumnya.

p1060060
pohon cita-cita

Sesi terakhir adalah menulis di pohon cita-cita. Tidak seperti kelas 6 sebelumnya yang cita-citanya lebih beragam, cita-cita anak kelas 4 lebih sedikit. Anak laki-laki ingin menjadi polisi/tentara, anak perempuan ingin menjadi dokter. Salah seorang siswa ingin menjadi pelukis. Ketika saya tanya alasannya, ia menjawab ingin mengabadikan kejadian. Jawaban yang unik. Apapun cita-citamu, kalian akan menjadi apa yang kalian inginkan asalkan mau belajar, berdoa dan bekerja keras!

Secara keseluruhan, saya merasa puas dan bangga bisa berbagi dengan anak-anak kelas 4A SDN 115. Meski sebentar, saya akan selalu merindukan momen ini. Seperti (agak) nervous berdiri di depan kelas, menghadapi siswa yang ribut atau pendiam, dan mengajarkan nilai-nilai kebaikan.

p1060059

bersama anak kelas 4A dan ibu Yurlina

p1060089

bersama seluruh relawan, guru dan kepala sekolah bapak Nazarudin (memegang cenderamata)

Iklan

16 comments

  1. Wah ada Ega, ngajar di kelas berapa Mas Eganya?. Salam ya Mas hehe. Keren banget Mas, saya selalu salut dengan orang yang bisa membawa kelas berisi anak-anak jadi kelas yang fun dan tidak membosankan, karena selalu aktif dengan berbagai kegiatan. Kadang ada beberapa guru yang suka bingung mau mengisi waktu dengan kegiatan apa lagi, jadi kelasnya dibubarkan saja, hehe. Kemenkeu Mengajar tahun ini saya tak ikut, habisnya nggak ada temannya sih. Entah ya, tapi di biro ini sepertinya tidak begitu banyak orang yang tertarik, bahkan meski sekadar jadi dokumentator. Kurang motivasi kali ya, kami ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s