Inspirasi dari SDN No. 282/VI Bangko XV

“Cita-citanya apa?” Tanya saya kepada seorang siswa laki-laki berbadan gemuk dengan pipi menggemaskan.
“Jadi perwira polisi!” Ucapnya dengan mata berbinar.
“Kenapa mau jadi polisi?” Tanya saya kembali.
“Mau nangkap “tikus berdasi”! Jawabannya membuat saya terhenyak campur kagum.

Setiap anak mempunyai cita-cita masa kecil yang biasanya akan selalu diingat hingga dewasa. Waktu kecil, saya bermimpi menjadi insinyur seperti Bung Karno. Pernah ingin menjadi tentara karena nampak gagah dan heroik menumpas musuh. Lantas menjadi seniman seperti Didik Nini Thowok. Saat SMA saya ingin menjadi sejarawan, atau budayawan. 

Menginspirasi anak-anak dan memotivasi mereka meraih cita-cita. Itulah tugas kami para relawan yang tergabung dalam kegiatan bernama Kemenkeu Mengajar. Kegiatan ini baru diadakan untuk kali pertama dalam rangka peringatan Hari Oeang ke-70 tahun ini. Hari Oeang (pakai ejaan lama) merupakan hari bakti Kementerian Keuangan yang dirayakan tiap 30 Oktober di seluruh unit vertikal Kementerian Keuangan di seluruh Indonesia, termasuk di kantor kami. Biasanya hanya dirayakan dengan upacara bendera.

Kemenkeu Mengajar terinspirasi dari Kelas Inspirasi ciptaan mantan Menteri Pendidikan Anies Baswedan. Relawan akan mengajar selama sehari di Sekolah Dasar serta memperkenalkan profesi masing-masing sambil memotivasi siswa-siswi agar giat meraih cita-cita. Bedanya, dalam kegiatan ini kami diharuskan memperkenalkan apa itu Kementerian Keuangan dan profesi PNS di Kementerian Keuangan. 

Beberapa kawan blogger seperti Yayan, Danan dan mbak Dian telah mengikuti Kelas Inspirasi di kota masing-masing. Membaca postingan mereka membuat saya ingin bergabung menjadi relawan. Sayang, Kelas Inspirasi untuk wilayah Jambi baru ada di Kota Jambi. Cukup jauh dari Bangko. Sekitar enam jam perjalanan.

Awalnya saya terdaftar sebagai relawan Kemenkeu Mengajar di Aceh. Karena satu dan lain hal, saya terpaksa membatalkan kehadiran di Aceh. Sebagai gantinya, kami membuat acara serupa di Bangko dengan nama Kemenkeu Menginspirasi.

Tahap pertama adalah survei sekolah yang akan dijadikan lokasi acara. Dari empat SD negeri di kelurahan Pematang Kandis, kami memilih dua sekolah terdekat dari kantor: SDN No.282/VI Bangko XV dan SDN No. 115/VI Bangko VIII. Setelah datang langsung ke sekolah, kami diberikan izin untuk mengadakan acara tersebut di SDN 282 tanggal 14 Oktober 2016 dan di SDN 115 tanggal 22 Oktober.

Saat perekrutan relawan, terkumpul enam orang di kantor sebagai relawan. Saya, mas Endy dan bang Afdal, junior saya di kantor Ega, Sufi dan Randa. Dua hari jelang hari H, kami mengadakan briefing singkat. Sesuai kesepakatan, karena acara diadakan hari Jumat, kami akan mengenakan batik.

Sehari sebelum hari H, kami mengkonfirmasi ulang tentang acara di SDN 282 kepada Kepala Sekolah Ibu Sri Ratna Dewi. Kami diberi kesempatan untuk mengajar kelas 6A, 6B dan 6C selama dua jam pelajaran (70 menit).

Hari H…

Perasaan nervous, antusias, takut gagal menghadapi anak-anak SD membuat saya sulit tidur. Jam sebelas malam saya sudah meluruskan badan, baru jam tiga subuh saya masuk ke alam mimpi.

Alarm ponsel berteriak kencang, saya cek layar sudah jam 06.30. Buru-buru saya bangun, bersiap-siap lantas ke kantor untuk mengisi absen fingerprint lalu menuju ke SDN 282. Saya datang di sekolah hampir bersamaan dengan Randal dan Sufi. Lantas disusul bang Afdal. Ega belum tampak batang hidungnya.

Jam 07.15 gerbang sekolah ditutup oleh petugas keamanan. Para siswa berbaris rapi di halaman. Rupanya sebelum masuk kelas, semua murid kelas 1 hingga 6 berdoa bersama dipimpin seorang guru. Beberapa siswa yang datang terlambat terpaksa harus menunggu di luar pagar hingga doa selesai. 

dscf1075 p1050789 p1050796

Ega dan mas Endy, teman sekantor saya akhirnya tampak juga. Sedangkan Kudri, mahasiswa yang sedang melakukan PKL di kantor datang terlambat. Kami bergegas menuju ruangan Kepala Sekolah.

Kami disambut dengan ramah oleh ibu Dewi sang Kepala Sekolah. Sambil menunggu siswa masuk kelas, kami menunggu di ruangan beliau. Setelah hom-pim-pah, saya dan Randa bertugas mengajar kelas 6B. Bang Afdal dan mas Endy bertugas di kelas 6C. Sedangkan Ega dan Sufi ditempatkan di kelas 6A. Saya bertugas sebagai pengajar sedangkan Randa menjadi dokumentator foto dan video.

Pengalaman Mengajar
Sebelum masuk kelas, kami harus melepas sepatu. Ada perasaan sedikit nervous melihat tatapan anak-anak kelas 6B yang kami masuki. Semua murid perempuan yang Musliman mengenakan jilbab. Sedangkan yang laki-laki memakai peci.
Setelah guru kelas memperkenalkan kami ke para siswa, giliran kami memperkenalkan diri kepada mereka. Dari daftar absen, dari 21 siswa kelas 6B, 20 siswa hadir dan 1 orang absen karena sakit. Menit demi menit perasaan gugup tersebut menghilang….

dscf1089

Saya menjelaskan apa itu Kementerian Keuangan serta tugas-tugas Kementerian Keuangan. Supaya siswa lebih memahami tugas Kementerian Keuangan, saya memberikan tugas. Saya meminta siswa untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran dalam selembar kertas. Beberapa siswa kemudian maju untuk membacakan tugasnya.  

dscf1100

Sesi berikutnya adalah permainan tebak profesi. Saya keluarkan potongan-potongan kertas berisi gambar alat-alat tertentu. Saya minta siswa untuk menebak nama alat dan profesi yang berhubungan dengan alat tersebut. Vicky, siswa bertubuh subur yang tadi maju sekarang maju lagi untuk menebak. Beberapa siswa turut maju bergantian. Sayangnya, ini tak berlangsung lama. Silent momment, krik krik …. Akhirnya saya mengeluarkan potongan kertas, siswa mengangkat tangan dan mereka cukup menjawab dari kursi tanpa perlu maju ke depan.

dscf1130 dscf1121

Lucunya, jawaban siswa terkadang membuat tersenyum bahkan tertawa. Misalnya ketika saya lihatkan gambar palu hakim, ada yang menjawab “sidang Jessica”. Hm, drama sianida ini rupanya cukup melekat di pikiran anak-anak. Anehnya, ketika saya tunjukkan gambar kapur tulis, banyak yang tidak tahu nama benda tersebut. Bahkan ada yang menebak rokok. Duh, nasib kapur tulis, benda fenomenal itu telah menjadi barang tidak terpakai di dunia ini hahaha.

Saya menempelkan kertas karton pelangi di papan tulis bertuliskan langit cita-cita. Ketika saya tanyakan cita-cita mereka, sebagian besar anak laki-laki menjawab ingin menjadi polisi dan sebagian besar anak perempuan menjawab dokter!

Kami membagikan kertas tempel kepada para siswa. Mereka kami suruh menuliskan nama dan cita-citanya. Beberapa siswa yang sudah selesai saya minta maju ke depan menjelaskan cita-citanya dan menempelkan  kertas tempel tersebut pada langit cita-cita. Lagi-lagi Vicky, siswa gemuk berpipi tembem menggemaskan itu maju duluan.

“Cita-citanya apa?” Tanya saya kepada Vicky.
“Jadi perwira polisi!” Ucapnya dengan mata berbinar.
“Kenapa mau jadi polisi?” Tanya saya kembali.
“Mau nangkap “tikus berdasi”! Jawabannya membuat saya terhenyak campur kagum.
Tepuk tangan bergema di seluruh penjuru kelas.

dscf1165

Cita-cita siswa kelas 6B cukup beragam, kebanyakan ingin menjadi polisi atau dokter. Cita-cita yang lain adalah PNS, TNI AD, guru, dosen, karyawan kantor, pilot, astronot, pegawai bank. Fazrian, salah seorang siswa ingin menjadi ustad. Sungguh mulia sekali. David, siswa yang agak pendiam dan duduk paling belakang ingin menjadi pemilik toko emas. Ingin cepat kaya katanya. Sontak seluruh siswa tertawa. Adakah yang ingin menjadi pegawai pajak? Tidak ada hahaha. Setelah semua menempel cita-cita, saya minta seorang siswa untuk membacakan cita-cita semua siswa satu persatu diiringi teriakan amien dari seluruh siswa.

Sebelum menutup pelajaran, saya mengajarkan lagu Bangga Jadi Anak Indonesia karya presiden SBY. Ternyata tidak ada satupun siswa yang tahu lagu tersebut. Mungkin juga kamu?

dscf1178

Ayo anak-anak Indonesia, ayo bercita-cita.

Setelah pelajaran usai, kami berfoto bersama di depan kelas. Keseruan belum usai, kami mengajak semua siswa menuju halaman sekolah untuk bermain ular naga. Acara ditutup dengan berfoto bersama guru, kepala sekolah dan seluruh siswa kelas 6A, 6B dan 6C. Saya akan merindukan kalian, anak-anak Indonesia, masa depan Indonesia.

dscf1188 dscf1189

dscf1250 dscf1240 dscf1229 dscf1214

Kesan pesan mengajar di SDN 282 
* Ketika berdiri di depan kelas, entah kenapa beberapa gimmick berupa tepukan, ice breaking dan sapaan yang saya siapkan hilang di luar kepala haha.
* SDN 282 ruangannya cukup bersih, terawat dan menarik. Mungkin karena sekolah baru.
* Siswa-siswanya cukup rajin dan antusias mengikuti apa yang kami berikan. Meski ada sebagian kecil yang gagal fokus, cenderung pendiam dan kurang aktif.
* Berinteraksi secara langsung dengan anak-anak, berbagi dengan mereka membuat saya addicted untuk mengikuti acara serupa di lain kesempatan.

Foto oleh Randa Prawira

Iklan

19 comments

  1. bagus sekali gerakannya ada Kemenkeu Mengajar, Kemenkeu Menginspirasi … semoga kementrian lain juga terinspirasi untuk mengikuti.
    btw … cita2 anak zaman sekarang sudah banyak berbeda dengan zaman2 kita …. di sekolah anak saya disuruh menyebutkan cita2, banyak profesi yang tidak muncul di zaman dulu, seperti ; chef, pengusaha, pemain bola, youtuber, gamer, dll … zaman memang sudah berubah

  2. Wah keren programnya! 😊Aku juga lumayan sering nih bertatap muka sama anak2 sekolah ketika ada kunjungan edukatif ke kantorku. Ice Breaking di awal bener2 perlu secara mereka udah ‘takut’ duluan kalau ke kantorku 😁. Biasanya kami ajak ngobrol aja yg ringan2 dulu, lempar pertanyaan yg bisa dapet coklat 😄. Semoga jadi program berkelanjutan ya kak, bakal bagus banget buat anak2 di Bangko 😊

    • aku lupa pake ice breaking malah, makanya anak2 awal rada adem, baru pas mulai game mereka mulai antusias dan semangat 🙂 ikutan Kelas Inspirasi Palembang jugo dak yuk ?

  3. Keren ya, gerakan IM trus kemudian KI ternyata mewabah ke banyak pihak.

    Harus cobain yang beneran KI nanti pak, dijamin akan dapetin pengalaman beda yang lebih seru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s