Gudang Debu itu Bernama Museum Ranggawarsita

Ketika saya mengutarakan keinginan berkunjung ke museum Ranggawarsita di Semarang, ibu mertua saya mengernyitkan dahi. Menurut beliau yang pernah ke museum tersebut jaman beliau SMA, tempat tersebut gelap dan berkesan angker. Benarkah? Masa iya tidak ada perubahan sama sekali setelah puluhan tahun!

Kegemaran akan seni, budaya dan sejarah tanah air membawa saya mengunjungi beberapa museum jika bepergian ke sebuah daerah. Terutama museum nasional di Jakarta dan beberapa museum daerah di beberapa provinsi. Tiap museum daerah memamerkan keunikan budaya, keagungan sejarah dan nilai-nilai lokal tiap-tiap daerah. Sayang, museum daerah Jawa Tengah yang relatif dekat dari rumah malah belum terjamah #durhaka. Beberapa kali saya hanya bisa menatap bangunan beratap joglo di bilangan Kalibanteng, Kota Semarang itu dari balik jendela mobil. Tanpa tahu apa isinya. Saya lebih sering melewati Semarang hanya untuk bepergian lewat udara. Tanpa sempat menjelajahi lebih seksama apa saja wisata di Semarang.

Saya lahir dan besar di desa kecil di kaki Merbabu, Jawa Tengah. Saya bangga lahir di sini :p Jawa Tengah dikenal karena berbagai hal. Tiga dari delapan situs warisan dunia UNESCO di Indonesia berada di provinsi ini. Prambanan, candi Hindu tercantik di dunia di perbatasan Klaten dan Yogyakarta. Namun, sering dikira berada di Yogyakarta. Borobudur, candi Buddha tunggal terbesar di dunia di Kabupaten Magelang serta situs prasejarah Sangiran di Kabupaten Sragen. Satu dari dua situs geologi dunia  (geopark) terdapat di Jawa Tengah, yaitu karst Pegunungan Sewu yang membentang di pantai selatan Wonogiri. Keris, wayang kulit dan batik tulis sebagai warisan budaya tak benda bisa dibilang berasal dari Jawa (Tengah).

Peninggalan sejarah di Jawa Tengah tak hanya berupa candi peninggalan Mataram Hindu. Mataram Islam, kesultanan yang masih memiliki hubungan dengan kesultanan Demak ini sejumlah peninggalannya masih bisa disaksikan hingga saat ini. Mataram Islam sendiri telah pecah menjadi empat kerajaan Islam : Kasunanan dan Mangkunegaran di Solo serta Kasultanan dan Pakualaman di Yogyakarta.  

Sebagai salah satu provinsi dengan penduduk terbanyak, Jawa Tengah melahirkan banyak tokoh penting. Mulai dari seniman, pahlawan hingga presiden. RA Kartini, Yos Sudarso, Cipto Mangunkusumo, Jenderal Sudirman,  WR Supratman, hingga Presiden Jokowi adalah sedikit dari sekian banyak tokoh nasional dari Jawa Tengah.

Uniknya, Ranggawarsita, nama yang disematkan pada Museum Negeri Jawa Tengah bukan seorang pahlawan. Dikulik dari sini, beliau mempunyai nama lengkap Raden Ngabehi Ranggawarsita. Seorang sastrawan era kesultanan Kasunanan Surakarta yang hidup di akhir abad ke-19. Namanya dikenal karena sanggup meramalkan saat kemerdekaan Indonesia pada buku Serat Jaka Lodang.

Ketika saya mengutarakan keinginan berkunjung ke museum Ranggawarsita, ibu mertua saya mengernyitkan dahi. Menurut beliau, museum tersebut gelap dan angker. Benarkah? Ditambah lagi dengan testimoni istri saya. Pendapat mereka senada. Hm, saya jadi penasaran ingin membuktikan sendiri.

Saya datang berdua dengan adik saya ke museum. Parkir museum penuh dengan mobil dan motor. Namun, saya tidak melihat siapapun di dalam hingga tempat penjualan tiket. Seorang ibu menukarkan uang saya dengan dua lembar potongan tiket. Dimana para pengunjung? Rupanya sedang ada acara di ruangan serba guna.

Langkah demi langkah sunyi saya tapaki sejak masuk ke dalam museum. Tidak ada seorang pun sama sekali. Mulai dari ruangan prasejarah yang menampilkan replika fosil di penjuru Jawa Tengah dan replika gajah Asia. Ruangan besar dengan penerangan remang-remang membuat saya tak berlama-lama.

Di ruang peninggalan Hindu Buddha baru saya bertemu dengan dua pengunjung lainnya. Mereka lebih sibuk berfoto-foto ketimbang menyimak satu demi satu artefak. Saking banyaknya candi Hindu Buddha di Jawa Tengah, tidak semua bisa ditampilkan. Hanya sepotong-sepotong cerita yang dipamerkan. Keagungan candi Borobudur dan Prambanan itu hanya bisa saya saksikan lewat miniatur saja dan beberapa potongan arca. Tidak lebih.  

Bagian yang cukup menarik saya jumpai di galeri pakaian adat Jawa Tengah. Tidak semua kabupaten/kota ditampilkan memang. Pakaian pengantin Semarang tampak unik karena baru saya lihat pertama kali. Bajunya perpaduan Arab, Eropa dan Melayu. Pengantin pria mengenakan sorban khas Arab. Uniknya mereka tidak mengenakan batik, melainkan songket. Pakaian adat Solo, sang perempuan berkebaya kutu baru dan yang laki-laki mengenakan beskap. Pengantin perempuan dari Kudus mengenakan topi dari tampah bambu. Sedangkan pengantin perempuan Pekalongan mengenakan mahkota mirip siger di Jawa Barat dan pengantin pria berpeci serta jas dan celana panjang.

ranggawarsita-2
pakaian pengantin Semarang, pakaian adat Solo, pengantin Pekalongan

Saya selanjutnya menuju ruangan zaman kolonial. Terdapat beberapa diorama seperti peristiwa perang lima hari di Semarang, pertempuran Palagan Ambarawa, perang gerilya Jend Sudirman. Sayang tidak semua diorama bisa ditonton dengan jelas. Alih-alih menyenangkan, saya seperti menonton drama horor karena kurangnya penerangan. Tombol interaktif tampak seperti pajangan karena tidak berfungsi. Di salah satu sudut, terdapat patung-patung pahlawan dan … peti mati. Yups, peti mati berselimut bendera pusaka usang yang pernah dipakai mengangkut jenazah Menteri Soepeno. Untung tidak ada sesuatu yang bergerak-gerak dari dalam peti #efeknontonfilmhantu.

ranggawarsita-1
peti mati

Buru-buru saya beranjak ke ruangan lain. “Teror” dalam bentuk lain rupanya sudah menanti. Lantai ruangan yang pecah, kaca etalase yang berdebu tebal, lampu yang lagi-lagi tak lagi menyala, hingga ada salah satu ruangan yang lampunya hidup mati terus menerus seperti di latar film hantu. Hauuuuuu….

ranggawarsita-4
lantai pecah

Perhatian saya kini tak lagi ingin menikmati isi museum. Melainkan melihat-lihat  sekilas koleksi museum lantas ingin segera pergi. Bukan tak menarik, sebenarnya Museum Ranggawarsita mempunyai koleksi yang amat banyak dan beragam. Sayang penataan dan perawatan ruangannya kacau. Gelap, kotor, koleksi tampak berdebu seperti … sebuah gudang penyimpanan tak bertuan. Saya beberapa kali ke museum daerah, dan sayang sekali… maaf, menurut pengamatan saya ini adalah museum daerah dengan penataan terburuk yang pernah saya lihat.

ranggawarsita-3

Saya rupanya melewatkan sebuah ruangan yang ternyata berisi “harta karun”. Yaitu perhiasan emas dari zaman Mataram Hindu yang ditemukan dalam sebuah guci di Klaten. Tentu saja yang dipamerkan disini hanya replikanya saja. Kemana aslinya?

ranggawarsita-6

Dalam perjalanan mencari pintu keluar, saya menemukan fragmen-fragmen bantuan candi yang diletakkan begitu saja di teras ruangan. Salah satu batuan berasal dari Boyolali. Berupa sebuah kala atau hiasan pintu candi berornamen raksasa.

ranggawarsita-5
kala 

Semoga Museum Ranggawarsita bisa lebih baik lagi ke depannya. Sehingga tidak menjadikan siapa saja yang berkunjung menjadi trauma datang ke museum.

Museum Ranggawarsita, Semarang
Jl. Abdurrahman Saleh No. 1 (Bundaran Kalibanteng), Semarang
Buka :
Setiap hari : 08.00 – 15.30
Tiket : Dewasa Rp 4.000,- Anak : Rp 2.000,-
Referensi : https://id.wikipedia.org/wiki/Rangga_Warsita

Iklan

24 comments

  1. sayang banget, masih mending Museum Dieng Kailasa hehehe, btw para pemenang duta wisata tiap kabupaten di jateng sedang berkompetisi lho guna menjadi duta wisata jateng dan salah satu tempat atau fokusnya adalah museum ini, gimana ya reaksi pertama kali saat datang ke tempat ini?

  2. “maaf, menurut pengamatan saya ini adalah museum dengan penataan terburuk yang pernah saya lihat.” —> agaknya saya setuju dengan yang ini, apalagi saat mau ke Museum Mandala depan Tugu Muda, boro boro mau masuk, malah pintunya digembok. 🤔

    Tapi kalau boleh jujur, museum di Jawa Timur jauh lebih terawat. 😂 bukan karena saya orang Jatim, tapi karena pengalaman traveling yang memberi tahu begitu 😄

    • wah..udah ke semarang mas? saya juga belum pernah ke museum mandala, soalnya bukanya pas jam kerja.. saya baru ke museum satwa di batu aja hehehe… pengen ke museum santet, museum sampoerna sama museum mpu tantular di surabaya 🙂

  3. Mengunjungi museum sebenarnya menyenangkan, kita bisa bernostalgia dengan masa lalu negeri ini.
    Kondisi yang kurang terawat itu, apakah karena dananya kurang atau memang tidak dirawat ya?
    Terima kasih dan salam kenal

  4. Sayang sekali ya Mas kalau museumnya harus jadi seperti ini. Mungkin pemerintah provinsi di sana punya agenda lebih penting yang sedang dilaksanakan (meskipun tentu saja hal ini sangat tidak bisa jadi alasan). Oh ya, Pak Gubernur Jateng tadi pagi gowes di Senggigi tuh, hehe. Kalau menurut saya, kerja museum memang tidak gampang. Untuk membuat suatu museum yang baik dan benar memang sulit. Jadi kalau seandainya belum becus membuat museum, mending nggak usah bikin sekalian, ya. Menghabiskan anggaran negara.
    Jika yang dimaksud dengan “koleksi emas yang ditemukan di Klaten” itu Khasanah Wonoboyo, maka aslinya disimpan di Museum Nasional. Jos memang itu koleksi emas, mangkuk Ramayana itu lho.
    Eh, Prambanan itu di Jawa Tengah, ya? Setahu saya tetap di Yogyakarta, jadi batas wilayahnya somehow menyerong supaya Prambanan masuk DIY tapi Kompleks Lumbung, Candi Bubrah, dan Kompleks Sewu tetap di Jawa Tengah, haha.
    Duh itu kala makaranya sudah punya rahang bawah, haha.

    • bener gara, khasanah Wonoboyo… ada replika mangkok emas dan satu set perhiasan emas 🙂 prambanan secara administrasi merupakan nama kecamatan di sleman dan klaten, candinya sendiri masuk klaten 😉

  5. Weladalah, mari berbenah bersama dimulai dengan dinas terkait. Kunjungan museum adalah pintu gerbang kebudayaan bangsa. Berkali lewat, sayang belum mampir. semoga setelah ini ada perbaikan yang berarti ya. Salam

  6. Padahal sejatinya museum bisa dibuat sangat menarik seperti Museum Satwa di Malang. Kalau musiumnya kayag di atas jadinya spooky abis ya 😅

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s