Banka Trip (9) : Hujan dan Hujan di Pangkal Pinang

1-dsc06145
Sesuai petunjuk bang Acied, calon host saya di Pangkal Pinang, saya turun di pom bensin dekat terminal Kampung Keramat. Tak lama, sosok tinggi kekar menjemput saya naik motor. Bang Acied, pria tersebut hobi berolahraga setiap hari. Dia berdarah Palembang, tetapi sudah lama tinggal di pulau Bangka. Wajahnya kemerahan. Katanya sedang alergi makanan.

Pangkal Pinang adalah pusat perekonomian pulau Bangka. Secara umum cukup ramai, meski tidak terlalu seramai Palembang. Hotel berbintang, mall tersedia. Meski bioskop jaringan 21 belum masuk di Bangka. Bahasanya agak beda dengan Muntok. Bahasa di Pangkal Pinang agak mirip bahasa Sekayu yang berakhiran e (dibaca enak).

Dari kosan kami bergerak ke Taman Sari, sebuah taman kota persis di samping rumah walikota dan di depan lapangan merdeka Pangkal Pinang. Taman Sari dulu dikenal dengan nama Wilhelmina Park. Di Taman Sari terdapat sebuah monumen bernama Tugu Pergerakan Kemerdekaan yang diresmikan oleh Bung Hatta pada tangal 17 Agustus 1949. Monumen sekaligus ikon kota Pangkal Pinang ini berbentuk anak tangga berjumlah 17 anak tangga berbentuk segi 8, keliling anak tangga terluar 49 meter. Di anak tangga paling atas terdapat lingga dan yoni.

1-DSC06102

Habis berfoto di depan monumen, saya ingin berkeliling taman ini, tapi byurrr…hujan membasahi bumi Pangkal Pinang dengan deras. Kami segera mencari tempat berteduh terdekat. Hari ini Imlek, wajar jika hujan turun, begitu kata bang Acied. Ada sekitar 45 menit waktu kami habiskan untuk menunggu hujan reda.

Kami beranjak ke museum timah Pangkal Pinang. Sebuah lokomotif tua dan deretan sendok kapal keruk ditempatkan di halaman museum. Hujan yang baru turun membuat museum sepi. Kami beranjak ke dalam.

1-dsc06136

Sekilas isi museum tidak jauh beda dengan museum timah Muntok. Hanya saja museum ini lebih kecil dan lebih sedikit koleksinya. Museum di Muntok terutama menampilkan sejarah peleburan timah, museum ini lebih ke penjelasan tentang penambangan timah. Sayang tidak terdapat pemandu yang bisa menjelaskan detail isi museum ini.

1-dsc06124
diorama penambangan timah di laut
1-dsc06128

diorama penambangan timah di darat

Dalam perjalanan mengisi perut untuk makan siang, kami melewati Masjid Jamik Pangkal Pinang. Salah satu masjid tertua di kota ini yang dibangun tahun 1936. Saatnya mencicipi kuliner khas Bangka yaitu lempah kuning. Olahan ikan dipadu santan dan rempah pedas terasa spesial di lidah. Aroma terasinya amat menggugah selera. Beruntunglah warga Bangka khususnya Pangkal Pinang, kulinernya amat variatif dan amat menggoda.

1-dsc06146

 

1-dsc06147-ab-halillintar

Lempah Kuning di rumah makan Ayam Halilintar

Lepas makan siang, saya diantar ke hotel di kawasan Kampung Bintang, salah satu pusat kuliner lezat di Bangka. Kami janjian untuk ketemuan dengan teman-teman CouchSurfing Bangka nanti malam. Tidak lama begitu tiba di hotel, hujan turun lagi dengan amat deras. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali berdiam di hotel. Saya sedang malas pergi kemana-mana. Hari pertama di Bangka bisa dibilang Tuhan amat baik mengirim hujan. 

1-dsc06155

 

 

 

menu di Yellover yang kami pesan : mie Bangka, mix pudding, mie tarik, mango series

Malamnya kami ketemuan dengan bang Acied di cafe Olivier Yellover yang berlokasi tepat di depan hotel. Bergabung dengan kami Sasya, teman bang Acied. Saya memesan mie Bangka dan mix puding siram matcha. Endess!! Lagi-lagi hujan deras menemani obrolan kami. Octa, teman yang saya tunggu kehadirannya belum datang. Kehujanan dan sedang berteduh katanya. Sampai sekitar dua jam kami menunggu Octa tak datang juga. Octa baru datang ketika kami bubar dan saya hendak pulang ke kamar. Saya dan Octa ngobrol di kafe sebelah Yellover hingga kafe tutup.  

Octa sehari-hari bekerja di kantor gubernur. Selain traveling, passionnya yang lain adalah menulis novel. Sayang novelnya yang bergenre fantasi belum selesai ditulis. Semoga cepat selesai ya Bang!

Paginya setelah sarapan saya dijemput bang Acied di hotel menuju bandara. Mendekati bandara, lagi-lagi gerimis menemani kami. Depati Amir, nama bandara satu-satunya di pulau Bangka secara geografis terletak di kabupaten Bangka Tengah, meski secara administrasi berkode PGK atau Pangkal Pinang. Selamat tinggal pulau Bangka!

-selesai-

1-dsc06179

*) Sehari setelah tiba di Jambi, kota Pangkal Pinang dilanda musibah banjir bandang! #PrayForBangka

Iklan

31 comments

  1. Wah wah wah, beberapa minggu yang lalu saya alhamdulillah bisa berkesempatan berkunjung ke pulau serumpun sebalai juga nih mas. Saya yang paling suka itu pantai-pantainya, di sana kebanyakan pantai dengan dataran lumayan tinggi ya (dari beberapa pantai yang saya kunjungi). 😀 Kalau kata orang sana, pulau bangka belitung itu seperti The second bali island. hehehe

  2. Pangkal Pinang sepertinya sedang nge-hits di sosial media. Sejak Seminggu ini saya sudah membaca 4 posting blog dan yang kelima dari blog ini. Semoga Pangkalpinang semakin ramai oleh kunjungan wisatawan dan ekonominya juga ikut maju

  3. Tidak apa-apa kalau hujan Mas, menurut saya malah memberi nuansa tersendiri, karena pas membaca tulisan ini, saya seolah-olah bisa menghirup petrikor tanah Bangka yang kaya dan hidup dengan deposit timah, hadiah dari Tuhan untuk masyarakat Indonesia :)). Suatu hari nanti saya jadi kepengin jelajah juga di sana, kok ya penasaran dengan petrikor Bangka.
    Btw, header blognya bagus, Mas :)).

    • #brb gugling petrikor 😀
      headernya bikin sendiri gara, pake insert shape di power point
      amin, semoga bisa datang sendiri menapaktilas jejak sejarah di bangka gara
      apa kabar nih?long time no see…

  4. Teringat novel “Ayah” karya Andrea Hirata yang saya baca hingga capek hati dan pikiran karena dibuat jungkir balik dengan alur ceritanya apalagi setting ceritanya di Pulau Bangka/Belitung/Pangkal Pinang *lupa-lupa ingat*.
    Btw itu header blognya siapa yang buat?

  5. Aku belom pernah ke Bangka 😦 tapi pernah icip lempah kuningnya, another taste from pindang Palembang, but I like it! Hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s