Banka Trip (8) : Malaikat dari Bangka

DSC05987
Sudirman 12, penginapan saya selama di Muntok, Bangka Barat

Jam lima pagi. Terdengar bunyi alarm di hp. Mata saya masih berat rasanya untuk terbuka. Namun, saya harus bangun demi mengejar bus ke Pangkal Pinang jam enam pagi.

Setelah mandi, saya rapikan barang-barang dalam tas lantas keluar kamar. Saya menuju ruang makan yang dijadikan lobi homestay. Hening. Nyai, sang pemilik homestay rupanya sudah bangun. Lampu dapur telah menyala dan pintu sedikit terbuka. Bunyi orang memasak terdengar dari luar. Tidak berapa lama Nyai, perempuan tua pemilik penginapan keluar dari dapur.

“Nak, mau sarapan dulu?”, tanya nenek berbadan gemuk pendek berhijab lebar yang saya panggil Nyai. Senyumnya lebar terkembang.
“Oh, nggak Buk. Nanti di Pangkal aja.” jawab saya.
“Sarapannya dibungkus ya.” Tanpa menunggu jawaban saya, Nyai langsung mengambil sebuah kantong plastik lantas diisinya dengan kue-kue, biskuit dan dua gelas air mineral. “Nanti dimakan di bus.” ujarnya, masih tersenyum sambil menyerahkan bungkusan makanan ke saya.  

Dalam sekejap, saya makin jatuh hati dengan nenek ini. Sebungkus sarapan sederhana yang membuat hati saya meleleh. Saya bukanlah keluarganya, tetapi dia mungkin telah menganggap saya cucunya yang tertukar yang telah lama hilang. Hidup berdua dengan seorang anak mungkin membuat Nyai kesepian, tebak saya dalam hati. Anak-anak Nyai yang lain telah menikah dan tinggal di luar pulau Bangka. Hanya seorang putrinya yang tinggal di homestay bersama Nyai.

Sambil menunggu bus yang akan membawa saya ke Pangkal Pinang datang, saya diajak Nyai masuk ke rumah utama yang dihuni Nyai dan putrinya. Rumahnya besar, atapnya tinggi ala art deco tempoh doeloe. Lantainya bercorak warna-warni. Klasik sekali. Menurut Nyai, sejak mulai dibangun oleh Banka Tin Winning Bedrift hingga saat ini, tidak banyak renovasi yang dilakukan. Hanya penggantian sebagian material yang rusak.

Rumah ini dulunya rumah dinas mandor timah. Selepas masa kolonialisme, rumah ini masih difungsikan sebagai rumah dinas pegawai PN Timah. Rumah ini lantas dibeli oleh mendiang suami Nyai -yang bekerja sebagai pegawai PN Timah- sebelum akhirnya dijadikan penginapan. Saya tidak menanyakan apakah setiap tamu penginapan diajak melihat-lihat ruang utama rumah Nyai. Meskipun demikian, saya amat bahagia menjadi turis kilat di rumah Nyai.

Sambil menunggu bus datang, saya dan Nyai duduk di tangga dekat pintu rumahnya. Saya tanyakan dimana tempat membeli tudung, souvenir khas Bangka berupa tutup nasi dari anyaman pandan. Saya juga bertanya beberapa hal mengenai suasana perjalanan dari Muntok ke Pangkal Pinang, serta bagaimana wujud kota Pangkal Pinang itu sendiri. Seperti seorang ibu bahkan nenek pada umumnya, setiap kata-kata yang meluncur dari bibirnya adalah petuah dalam bentuk nasihat. Nyai mungkin dulunya adalah pemandu wisata nomor wahid. Entahlah, saya tidak bertanya lebih lanjut. Yang saya rasakan, keramahan dan kebaikannya tulus dari hati.

Rasanya baru kemarin saya tiba di pulau Bangka untuk pertama kalinya, berkeliling Muntok naik sepeda. Baru kemarin saya tiba di penginapan nyaman ini. Baru kemarin saya dijamu Nyai dengan es sirup merah di saat saya merasakan sengatan panas kota Muntok. Baru tadi malam saya menghabiskan waktu dengan bercengkrama bersama Nyai dan putrinya. Sementara saya pagi ini saya harus melanjutkan perjalanan ke ibukota Bangka-Belitung. Saya tidak bisa membayangkan bahwa sebentar lagi saya akan berpisah dengan perempuan keibuan ini. Hati saya bergemuruh. Ah…saya belum rela berpisah.

DSC06078
sang malaikat

Bus yang kami tunggu datang. Saya ucapkan salam perpisahan kepada Nyai dan putrinya. Bus yang saya tumpangi perlahan meninggalkan Muntok. Ohya, cantik sekali nama bus ini : Bidadari. Penumpang tidak terlalu banyak. Hanya terisi setengah saja.

Saya sempat melihat kompleks perkantoran kabupaten Bangka Barat. Agak jauh dari pusat kota Muntok rupanya. Sepanjang perjalanan dari Muntok ke Pangkal Pinang ibarat perjalanan di pulau mati, teramat sepi. Wajah pulau Bangka yang sunyi, perkebunan kelapa sawit, bekas danau tambang timah dan rumah penduduk yang teramat jarang. Saya hampir tidak menemukan pusat keramaian seperti pasar ataupun pusat pertokoan.

Kami berhenti di sebuah rumah makan di daerah Maras Senang, kabupaten Bangka. Menyediakan masakan khas Bangka dan makanan “nasional”seperti bakso urat. Sebagian penumpang turun menuntaskan hasrat makan pagi. Saya buka bungkusan yang diberikan Nyai tadi pagi. Ada cinta dan kasih dalam bungkusan itu. Saya makan dengan lahap. Tempat ini dijadikan transit berbagai bus dari dan ke kota Pangkal Pinang.

Tiga jam perjalanan dan akhirnya saya tiba di Pangkal Pinang, ibukota provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Iklan

8 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s