Cerita Agustus

Tulisan kali ini bakalan jadi postingan narsis, alias banyakan foto-foto saya :p

Bulan Agustus bagi banyak orang bermakna kemerdekaan dan karnaval. Kalau tidak ikut upacara kemerdekaan, ya minimal ikut lomba tujuh belasan atau karnaval.

Lulus SMA, saya tidak lagi mengikuti upacara 17 Agustus. Pernah ikut upacara sekali waktu saya main ke negara sebelah. Habis itu saya selalu menjadi penonton setia upacara detik-detik proklamasi di istana lewat tv di rumah. Kantor saya yang notabene instansi pemerintah pun hanya mengadakan upacara bendera saat ulang tahun kementerian pada akhir Oktober. Pun dengan lomba tujuh belasan. Seingat saya, terakhir ikut lomba tujuh belasan ya di sekolah.

Seumur hidup saya belum pernah ikut karnaval kemerdekaan. Bukan karena kurang nasionalis. Sejak SD hingga SMA saya kurang betah kalau berdiri lama-lama apalagi konvoi. Saat SMP, saya dua kali pingsan saat bertugas menjadi petugas paduan suara.

Delapan tahun kantor saya berdiri, baru kali ini mendapat undangan menjadi peserta karnaval pembangunan dari pemerintah kabupaten. Karnaval diadakan tanggal 18 Agustus 2016. Kami sekantor terutama saya sangat antusias menyambut acara ini. Kantor kami sekaligus ingin mengkampanyekan #AmnestiPajak yang memang dimandatkan langsung oleh presiden.

Saya dan Adit teman sekantor saya -yang baru saya ketahui merupakan adik tingkat di teater kampus- sepakat menjadi maskot karnaval. Kami akan mengenakan kostum karnaval berbentuk burung bersayap ala Jember Fashion Carnival, ala-ala tentu saja hahaha.

Kami hunting bareng berbagai properti yang dibutuhkan seperti kain, payet, manik-manik dan lain-lain ke pasar. Khusus properti saya, saya menyiapkannya selama dua hari dua malam. Selama dua malam, saya terpaksa tidur hampir jam 4 subuh demi mengerjakan properti karnaval yang dibuat secara manual. Termasuk menjahit kostum yang saya kerjakan dengan tangan, bukan dengan mesin jahit biasa. Untuk sayapnya, saya mendapat bantuan desain dari mbak Moniq dan Adit. Setelah dipakai, sayap yang terbuat dari kayu, bambu dan kain tidak terlalu berat sebagaimana saya pikir.

Hari H, setelah sarapan bersama di kantor, saya mengenakan kostum lantas berangkat ke titik start yaitu di jalan Sudirman KM 3,5 Bangko. Kami turun di nomor karnaval umum. Meski panas mendera, hati harus selalu adem dan mulut tersenyum. Termasuk melayani penonton yang ingin berfoto selfie. Semakin siang, peluh mengalir seperti air yang diperas dari dalam tubuh tiada henti.

Kami finish di panggung kehormatan di KM 2 tepatnya di depan swalayan Rina. Setelah melewati panggung kehormatan yang ditempati Bupati Merangin, kami berjalan kaki ke kantor yang tidak jauh dari panggung.

Sabtu, 20 Agustus saya mendapat sms bahwa kantor kami mendapat juara favorit ke-3. Alhamdulillah. Merdeka!!!

foto dari beberapa kawan kantor :

1-b4fb7dc8-d705-47ad-888e-f90aac317aa3
bareng Adit di depan kantor
DSC_0504
jadi artis sehari 😀 perhatikan muka saya yang kucel dan menghitam
1-DSC_0485
kepanasan
1-DSC_0481
bagi-bagi brosur
1-a3827370-79ea-462a-9a40-51766b96aca9
foto rame-rame
1-P10501651-P1050172
alhamdulillah

Iklan

17 comments

  1. Kereeeeennn… kreatif abesh 😄 pasti jalan bangko sangat ramai sama pengunjung yak, secara disana kan jarang pertunjukan macam tu. SELAMAT MENANG YA KAKAAA! MERDEKA! ✊😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s