Banka Trip (7) : Jejak Bung Karno

Baru tadi pagi saya meninggalkan Palembang ke pulau Bangka. Artinya baru beberapa jam saya menginjakkan kaki di nusa timah ini. Namun, saya kan baperan orangnya, sensitif, suka main perasaan, tak butuh lama saya langsung jatuh cinta dengan pulau ini. Pantainya, kota tuanya, kulinernya dan orang-orangnya.

Menaiki sepeda pinjaman dari penginapan, saya bergegas menuju Wisma Ranggam, sebuah gedung tempat pengasingan duo proklamator di pulau Bangka. Saya memilih rute melewati rumah dinas Bupati Bangka Barat. Rumah dinas ini dulunya bekas kantor residen Banka dan pernah dipakai sebagai kantor camat Muntok. Di depan rumah dinas bupati terdapat taman kota dengan sebuah lokomotif kereta sebagai ikonnya. Sebelum mencapai Wisma Ranggam, saya menjumpai bekas gedung TK zaman kolonial yang sudah diubah fungsi menjadi kafe Teras Kite.

1-DSC06040

Wisma Ranggam, sekarang namanya dikembalikan menjadi Pesanggrahan Muntok. Dibangun tahun 1827 sebagai mess pegawai BTW yang berdinas ke Muntok. Beberapa tokoh pergerakan nasional tercatat pernah diasingkan ke gedung ini. Seperti Pangeran Pakuningprang dari Mataram Islam dan Soekarno-Hatta. Sejak kelesuan produksi timah di Muntok, gedung ini sempat terlantar bertahun-tahun. Selanjutnya dikelola oleh pemprov Sumatera Selatan lantas diserahkan ke pemkab Bangka Barat hingga saat ini.

1-DSC06028

Bangunan utama Wisma Ranggam berupa gedung berbentuk U. Terdiri dari jumlah enam belas kamar, dari antaranya pernah ditinggali oleh Bung Karno, KH Agus Salim, Moh Roem, Ali Sastro Amidjojo. Bangunan tambahan terdapat di belakang bangunan utama dulu berfungsi sebagai kamar tidur, gudang, dapur dan kamar mandi. Di depan gedung berdiri gagah monumen serupa obelisk yang diresmikan oleh bung Hatta sewaktu kunjungan ke Muntok pada tanggal 17 Agustus 1951. Monumen ini punya kembaran, terletak di jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, sayang sudah dihancurkan.

1-DSC06025Halaman Wisma Ranggam cukup luas. Gedung ini seperti menutup diri. Saya tidak menemukan siapapun di dalam wisma. Oh, rupanya akses masuk terdapat di belakang. Saya bertemu pak Edi, pria setengah baya yang bertugas sebagai juru pelihara Wisma Ranggam. Ia tinggal di bangunan di belakang wisma.

1-DSC05988Pak Edi

Begitu pintu wisma, saya tidak bisa menghindari aroma lembap yang cukup menusuk hidung. Di ruang tamu, saya ditunjukkkan foto-foto lama saat Bung Karno dan tokoh lain berada di Bangka.  Disusun apa adanya tanpa kaidah estetika, menyerupai kolom majalah dinding dan kurang menarik. Tak hanya itu, sebuah lemari tua menyimpan barang-barang yang dulu pernah dipakai rombongan Soekarno-Hatta ketika diasingkan di Bangka. Kotor, berdebu dan kurang terawat. Dimanakah pemerintah?

1-DSC06008ruang tamu

Pak Edi lantas membuka kamar nomor 12 yang ditempati Bung Karno. Di dalamnya terdapat replika lemari baju, ranjang kayu dan meja belajar. Barang-barang asli peninggalan bung Karno telah lenyap selama Wisma Ranggam terlantar. Termasuk kursi dan meja di ruang tamu semua merupakan replika.

Satu-satunya peninggalan yang tersisa adalah badan mobil sedan Ford Deluxe bernomor polisi BN-10 buatan tahun 1946. Mobil bersejarah itu kini disimpan di Pesanggrahan Menumbing. Pak Edi menanyakan apakah saya hendak berdoa atau beribadah di kamar Bung Karno. Tentu saja saya jawab tidak. Meminta sesuatu haruslah kepada Tuhan, bukan kepada seseorang. Dung, dung, pak Edi menginjak-injak lantai kamar Bung Karno. Terdengar bunyi gema. Diperkirakan di bawah kamar Bung Karno terdapat sebuah terowongan rahasia yang dipakai sebagai tempat pelarian.

Sebagaimana gedung tua pada umumnya, gedung ini berhantu. Pak Edi menceritakan kisah-kisah beraroma mistis Wisma Ranggam. Saya yang ogah mendengar cerita hantu mengiyakan saja cerita beliau.

***

Sore hari, saya kembali menjelajahi sudut-sudut kota Muntok. Untuk ukuran ibukota kabupaten, kota Muntok relatif sepi. Namun, siapa sangka, kota kecil ini menyimpan setidaknya 46 situs cagar budaya perpaduan zaman kolonial dan zaman kesultanan Palembang. Sayang saya hanya punya waktu sehari di Muntok. Esok saya harus melanjutkan perjalanan ke Pangkal Pinang.

Pilihan untuk mengisi perut saya jatuhkan pada sebuah warung rawon dekat kantor KPU. Sambil menunggu pesanan datang, saya perhatikan lukisan di dinding. Tampak foto Bung Karno berukuran besar. Rawon yang saya pesan tidak terlalu enak, kuahnya tidak terlalu gelap, rasanya hambar.

Capek naik sepeda, saya putar kanan ke penginapan. Sebelumnya, saya foto-foto sebentar di taman lokomotif yang berada di pusat kota Muntok. Tepat di samping penginapan. Muntok, saye cinte ikak….

1-DSC06041

 

Iklan

10 comments

  1. Sejarah panjang wisma Ranggam ya Mas Isna. suka dengan pola ubin kuna kuning coklatnya.
    Aha lihat di peta, Muntok setara dengan ‘Mentok’ nan di ujung ya. Salam

  2. udah lama pink ke Bangka sekitar tahun 2006 tapi gak ke muntok kak langsung ke pangkal pinang, agak susah transportasi umum di dalam bangka ini waktu itu gak tau sekarang gimana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s