Banka Trip (6) : Museum Timah Muntok

Pernah tinggal di pulau Karimun dan Kundur selama beberapa tahun membuat saya akhrab dengan kata timah. Rumah saya di Kundur di dekat kompleks perumahan pegawai timah. Kantor saya di Karimun berada tidak jauh dari bekas tambang timah. Beberapa kawan saya bekerja di tambang timah. Saya pun sering bermain di danau bekas tambang timah.

Masih di kota Muntok, saya berkunjung ke Museum Timah Indonesia yang terletak persis di depan Sudirman 12, homestay tempat saya menginap. Museum masih tutup karena masih jam istirahat. Saya putuskan berkeliling sekitar museum terlebih dulu.

1-DSC05985

Di belakang gedung museum terdapat galeri seni dan kafe. Saya menjumpai etalase berisi souvenir khas Bangka seperti kain cual. Harganya di luar jangkauan dompet saya. Kafe di dekatnya tidak terlalu ramai. Dari belasan kursi kayu, hanya satu bangku yang terisi. Di ujung terdapat sebuah panggung pertunjukan yang letaknya agak tinggi dari lantai sekitarnya.

Sebagaimana kebiasaan di Bangka pada umumnya, tempat ini menyediakan aneka jenis kopi bagi para pengunjungnya. Sebuah papan tulis dipasang di dinding. Menunya ditulis besar-besar. Saya agak terkejut bangga menjumpai kopi Kayu Aro Kerinci bersanding dengan kopi unggulan daerah lain di Indonesia. Beberapa saat kemudian, datang sekelompok pemuda menenteng gitar dan bass. Di panggung, mereka melakukan persiapan dan gladi untuk tampil di kafe malam nanti.

1-DSC05986

Saya kembali ke depan museum. Di samping gedung museum dibangun panggung kecil menyerupai rumah adat. Inilah rumah panggung limas khas Bangka. Atapnya limas, sekilas mirip rumah adat Palembang.

Museum rupanya sudah dibuka kembali. Dari prasasti di dinding, diketahui jika museum ini dibuka tahun 2013. Sebelumnya gedung ini adalah bekas kantor pusat Banka Tin Winning Bedrijf, korporasi pengeruk timah bentukan kolonial di kawasan pulau Bangka yang dibangun tahun 1915. Muntok sendiri pernah menjadi ibukota karesidenan Bangka Belitung dari tahun 1812 sebelum dipindahkan ke Pangkal Pinang pada tahun 1913.

Saya berkenalan dengan Agung, salah satu pemandu yang bertugas sebagai pemandu di museum siang itu. Tidak terdapat biaya masuk ke museum alias gratis! Museum ini terdiri dari dua lantai. Lantai pertama terdiri dari beberapa ruangan yang disebut galeri. Galeri pertama adalah Sejarah dan Sosial Budaya Muntok. Saya diajak berkenalan dengan sejarah Bangka zaman Hindu Buddha dan Islam.

Muntok, Mentok, Minto

Catatan sejarah paling awal tentang Bangka adalah prasasti Kota Kapur yang berasal dari tahun 686 Masehi pada zaman Sriwijaya. Bangka selanjutnya masuk ke wilayah kesultanan Palembang Darussalam. Kota Muntok menurut legenda pertama kali disebut oleh Masayu Zamnah, permaisuri Sultan Mahmud Badaruddin I dari pulau Siantan, Anambas. Ketika ia berkunjung ke kawasan di ujung pulau Bangka berkata “entoklah” yang bermakan “inilah”. Muntok selanjutnya menjadi hunian keluarga sultan dari Siantan. Melahirkan budaya baru yaitu bahasa Melayu dialek Muntok yang berakhiran e (eu). Gelar bangsawan di Muntok pun unik, yaitu Abang untuk pria dan Yang untuk perempuan. Karena lidah Melayu orang Bangka, kata Muntok dilafalkan menjadi Mentok.

Penjelasan isi museum tidak hanya dipasang di dinding. Sret!! Agung membuka laci di bawah meja display. Bagi pengunjung yang memerlukan informasi tambahan bisa membuka setiap laci. Keren!

Pada masa kolonial, kata Muntok diubah menjadi Minto untuk menghormati Lord Minto, gubernur jenderal Inggris di Singapura. Begitu pentingnya Muntok, pemerintah membangun lapangan terbang di Muntok untuk memperlancar distribusi timah. Lapangan terbang Muntok yang dibangun tahun 1924 merupakan lapangan terbang tertua di Indonesia setelah lapangan terbang Tjililitan di Batavia. Nama Muntok kembali muncul dalam catatan sejarah sebagai tempat pengasingan beberapa tokoh kemerdekaan. Termasuk duo proklamator, yaitu Bung Hatta pada tahun 1948 dan Bung Karno pada tahun 1949.

1-DSC05901

kain cual khas Bangka-Belitung, dari kata celupan awal, awalnya merupakan kain bangsawan Muntok, pertama kali dibuad abad ke-18 oleh dengan teknik songket dan ikat

Ruangan selanjutnya adalah Galeri Geologi dan Eksplorasi serta Galeri Tambang Darat dan Tambang Laut. Memamerkan peta pertambangan timah di dunia dan Indonesia, alat untuk mengukur kandungan timah, alat pemetaan wilayah, jenis-jenis timah mentah dan alat eksploitasi timah. Hanya ada dua tempat di Indonesia yang memiliki kandungan timah besar. Mereka adalah Karimun dan Kundur di Kepri serta Bangka-Belitung. 1-DSC05914

ruang galeri Geologi – Eksplorasi
1-DSC05911
kapal pengeruk timah di laut, salah satunya adalah Kundur 1981 yang beroperasi di pulau Kundur, Kepulauan Riau

1-DSC05909
lukisan penambangan timah tradisional pada abad ke-18

Sejarah timah di Bangka tidak terlepas dari toponimi kata Bangka. Menurut salah satu versi, kata Bangka berasal dari vanka dalam bahasa Sansekerta yang berarti timah. Sedangkan dalam bahasa Inggris disebut tin yang berasal dari kosakata Anglo Sakson zinn. Pulau Bangka sendiri pada zaman penjajahan disebut banka. Salah satu ahli pertambangan di Banka Tin Winning menciptakan alat bor timah yang kelak disebut Banka Drill.

Ruangan selanjutnya adalah Galeri Peleburan Timah yang menjelaskan sejarah peleburan logam dari masa ke masa. Peleburan timah pertama di dunia terjadi di Turki pada tahun 1500 SM ketika seseorang mencampurkan tembaga dan timah menjadi perunggu. Di Bangka sendiri, peleburan timah telah berlangsung mulai abad ke-10. Ruangan ini menjabarkan dengan detail proses peleburan bijih timah di PT Timah dan beberapa sampel timah olahan siap jual.
1-DSC05930
karyawan PT Timah

Saya diajak memasuki ruangan selanjutnya yaitu Galeri Sarana Prasarana yang memamerkan foto-foto lama kota Muntok tempo doeloe, termasuk peta kota tua Muntok. Galeri Bung Karno menampilkan foto ketika Bung Karno dan kawan-kawan diasingkan ke Muntok. Termasuk miniatur Wisma Ranggam dan Wisma Menumbing, gedung tempat tokoh-tokoh diasingkan di Muntok.
1-DSC05938


Tragedi Vyner Brooke

Bagian paling menarik di museum ini berada di galeri terakhir : Galeri Vivian Bullwinkel. Galeri yang seluruh display ditampilkan dalam bahasa Inggris ini khusus dipersembahkan oleh Angkatan Darat Australia untuk mengenang seorang perawat tentara perang yang pernah bekerja di RS Angkatan Darat Australia di Singapura pada perang dunia ke-2 : Letnan Perawat Vivian Bullwinkel.

Pada tahun 1942, Singapura dikuasai Jepang. Vivian beserta dua ribu lebih warga sipil, 65 perawat dan tentara Inggris naik kapal Vyner Brooke menuju Australia. Di selat Bangka, kapalnya dibom Jepang hingga tenggelam. Vivian dan 21 perawat lainnya lolos dari maut. Setelah terombang-ambing selama 18 jam, mereka berhasil berenang ke pantai dekat mercusuar Tanjung Kalian.

Keesokan harinya, tentara Jepang mengetahui keberadaan mereka. Vivian dan kawan-kawan diberondong peluru Jepang. Vivian kembali lolos dari maut karena pura-pura tewas. Ia akhirnya kembali pulang ke Australia, meski sempat ditahan oleh Jepang di Bangka. Tahun 1993, Vivian kembali ke Bangka meresmikan prasasti peringatan Vyner Brooke di tepi pantai Tanjung Kalian.
1-DSC05950

Vivian Bullwinkel 
1-DSC05952
display tenggelamnya Vyner Brooke, barang peninggalan tentara Jepang, memoar para perawat selama di Bangka

Selesai mendengarkan penjelasan yang runtut dan apik dari Agung, saya mengucapkan terima kasih, meminta brosur dan menulis nama.

Lantas saya beranjak ke lantai dua. Lantai dua merupakan perpustakaan dan kantor museum. Sebuah ruangan sunyi dengan bangku panjang dari kayu menarik perhatian saya untuk masuk. Dari beberapa rak buku, tidak terlalu banyak buku yang dipajang. Sekilas, buku-buku yang dipajang tentang timah dan potensi wisata Bangka Belitung. Perhatian saya terpusat pada sebuah buku di deretan rak paling atas. Buku tersebut menceritakan asal-usul pulau Bangka. Saya baca. Hm…cukup menarik. Sayang bukunya tidak bisa saya bawa pulang hehe.

1-DSC05888

 

 

 

Jujur, PT Timah amat menghargai sejarah dengan baik. Museum ini tak hanya bercerita tentang timah, tetapi juga sejarah dan budaya Indonesia khususnya di Bangka. Tak hanya tampilan yang bagus dan detail, kilasan sejarah diceritakan amat detail dan runtut. Plus pemandu yang ramah dan mumpuni.
1-DSC05976foto di depan museum, diambil oleh Agung

Museum Timah Indonesia
Jl. Jend. Sudirman, Muntok, Kab. Bangka Barat
Buka :
Senin-Kamis, Sabtu-Minggu 09.00-12.00 13.00-16.00, Jumat, libur nasional tutup

Iklan

7 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s