Banka Trip (5) : Toleransi Muntok

Saya langkahkan kaki ke arah mercusuar yang terletak tepat di samping pelabuhan. Tak seperti dugaan saya, tak terlalu banyak kerumunan ojek yang menunggu di pintu keluar pelabuhan. Mereka tak tampak agresif dan banyak sebagaimana sering saya lihat di pelabuhan Tanjung Balai maupun Batam. Tukang ojek di Muntok lebih santai dan ramah.

Keluar dari pelabuhan, saya masuk ke area pantai Tanjung Kalian. Beberapa kedai penjual kelapa muda tutup, hanya satu dua yang buka. Beberapa muda mudi tampak menikmati debur ombak dan pasir putih. Kesan pertama saya tentang Bangka adalah … sepi.

Menara ini dibuat oleh kolonial Inggris di Bangka pada tahun 1862. Mesin menara didatangkan langsung dari Birmingham, Inggris dan masih berfungsi hingga sekarang.

1-DSC05817

Untuk dapat naik ke menara, saya harus masuk ke kompleks perkantoran, menitipkan barang sekaligus membayar tiket masuk ke puncak menara. Seperti bangunan tua pada umumnya, saya mencium hawa dingin nan lembap saat masuk ke dalam mercusuar. Ada puluhan mungkin ratusan anak tangga dengan lebar hanya sekitar satu meter menuju puncak.

Dari lubang jendela dapat dilihat berbagai pemandangan : pelabuhan Tanjung Kalian, pantai Tanjung Kalian, dan kota Muntok di kejauhan. Dilindung gunung Menumbing. Meski angin berhembus sepi, matahari bersinar amat terik. Tak lama-lama, dari puncak menara saya bergegas turun.
1-DSC05824

pelabuhan Tanjung Kalian di tepi selat Bangka

1-DSC05832

pantai pasir putih Tanjung Kalian dan birunya selat Bangka

Masih di pantai Tanjung Kalian, terdapat beberapa bangkai kapal dan sebuah monumen untuk mengenang tragedi Vivian Bullwinkel, seorang perawat yang bertugas di Singapura saat perang dunia kedua. Tragedi bermula ketika kapal Australia bernama Vyner Brooke yang berlayar dari Singapura hendak kembali ke Australia dibom dan ditenggelamkan oleh Jepang pada 14 Februari 1942 di perairan dekat Bangka. Para perawat yang tersisa diangkut oleh Jepang dan dieksekusi di pantai Raji, Bangka pada 16 Februari 1942. Vivian berhasil selamat karena pura-pura meninggal waktu dieksekusi. Ia yang luka berat akhirnya berhasil kembali ke Australia. (kisah selengkapnya akan saya tulis terpisah).
1-DSC05841
Monumen Vivian Bullwinkel

Dari pelabuhan ke pusat kota Muntok saya naik ojek. Jalanan menuju Muntok lebar dan mulus. Saya turun di kelenteng Kong Fuk Miau kota Muntok. Bangunan besar berwarna merah dengan halaman luas ini merupakan rumah ibadah tertua di kabupaten Bangka Barat yang dibangun tahun 1820. Kelenteng ini berdiri di samping masjid Jamik yang juga masjid tertua di kota ini. Bukti toleransi beragama yang amat kuat antara etnis Tionghoa dan Melayu. Orang-orang Tionghoa telah datang di Bangka sejak abad ke-18 untuk menambang timah. Sejak itu hubungan orang Tionghoa dan Melayu Bangka ibarat saudara. 

1-DSC05863

 

dua menara

1-DSC05862

Saya disambut dengan ramah oleh pengurus kelenteng meski mereka sedang sibuk menghias kelenteng untuk persiapan tahun baru Sincia (Imlek). Tidak seperti perlakuan di kelenteng Ambarawa, saya bahkan diperbolehkan masuk ke altar utama.

1-DSC058581-DSC05861

Satu yang unik, pada bagian teras dipajang lukisan tentang Laksamana Cheng Ho yang berasal dari Tiongkok. Lengkap dengan penjelasan bahwa ia seorang muslim.

1-DSC05860

Hanya dipisahkan oleh lorong kecil, berdiri di sebelahnya masjid Jamik Muntok yang beratap limas khas Palembang dan bertiang Eropa. Dibangun tahun 1883 pada masa kepemimpinan H. Abang Muhammad Ali bergelar Tumenggung Karta Negara II selaku wakil kesultanan Palembang Darusalam di Bangka. Uniknya, sebagian bahan bangunan masjid disumbangkan oleh kaum Tionghoa di Muntok. Keunikan lain adalah menara masjid awalnya dibangun di dalam masjid, sebelum akhirnya dibuat menara baru di luar kompleks masjid.1-DSC05868 1-DSC05869

 

 

 

 

 

Iklan

22 comments

  1. Kapan aku bisa ke Batam ini ya… ini mirip banget kayak mercesuar di Bangka Belitung itu ya. Dan yang utama tolarsi antar umat beragama itu lah menarik banget… keren

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s