Banka Trip (4) : Selat Bangka

Malam itu Yayan membawa saya mencicipi pempek Sudi Mampir atau pempek Sentosa. Tidak jauh dari rumahnya di kawasan Plaju, Seberang Ulu. Secara keseluruhan saya suka tekstur pempeknya, renyah dan terasa ikannya. Namun, pempek kulitnya kurang nendang.

Pagi hari, saya mandi. Lepas sholat Subuh saya mengisi tenaga di ruang makan Yayan. Selalu ada rindu pada kehangatan keluarga ini. Salah satunya pada menu masakan ibunda Yayan. Sebagai anak rantau, jarang sekali menikmati masakan yang dimasak ibu.

Udara dingin Palembang menusuk badan. Matahari malu-malu dibalik awan yang gelap. Saya dibonceng Yayan dengan motornya menuju pelabuhan Boom Baru. Sampai pelabuhan, kami langsung berpamitan.

Pelabuhan ini tidak terlalu besar. Lebih kecil daripada pelabuhan Tanjung Balai Karimun sekalipun. Sebelum ada bandara di Pangkal Pinang, kapal merupakan satu-satunya kendaraan yang menghubungkan pulau Bangka dengan Palembang. Sejak pesawat udara melayani rute Pangkal Pinang – Palembang dengan harga murah, penumpang kapal mengalami penurunan. Demi efisiensi, saya memilih kapal ketimbang pesawat karena saya hendak mengunjungi Muntok terlebih dahulu baru kota Pangkal Pinang.

Di Boom Baru tidak ada teriakan calo-calo tiket yang menawarkan tiket kepada penumpang. Lebih tenang. Bahkan tidak saya temukan rombongan pengantar atau calon penumpang di ruang tunggu. Calon penumpang lebih memilih langsung masuk ke kapal.

Saya telah membeli tiket lewat Yayan sebelum hari H keberangkatan. Tinggal membayar pass pelabuhan sebesar Rp 5.000,- lantas saya diberi kertas dilaminasi bertulis “Eksekutif Boarding Pass”. Kertas ini nanti akan diminta kembali oleh awak kapal.

1-DSC05793

Kapal yang kami naiki cukup besar. Terdiri dari dua lantai. Di lantai dua terdapat pemisahan kelas untuk VIP dan eksekutif. Penumpang kelas VIP duduk di buritan kapal sehingga bisa melihat pemandangan lebih jelas. Kekurangannya, tanpa dinding dan pendingin udara bisa membuat badan kepanasan. Saya duduk di tepi jendela dalam kabin kapal. Pemandangan bisa dilihat dari jendela di samping saya, meski agak kabur. Sebagian besar bangku dipenuhi penumpang. Dilihat dari paras mukanya, banyak diantara penumpang merupakan etnis Bangka.

1-DSC05804

buritan kapal Sumber Bangka 7

Tepat jam 7 pagi petugas jangkar melepas sauh. Sirine dibunyikan pertanda kapal akan segera diberangkatkan. Kapal dari Palembang ke Bangka menurut rencana akan berlayar selama 3 jam. Bismillah, pulau Bangka saya datang.

Kapal berjalan perlahan, lalu makin lama makin cepat. Setelah petugas mengambil potongan tiket, saya berjalan ke belakang ke arah buritan. Saya lebih leluasa untuk mengamati rumah-rumah kayu di tepian sungai Musi, aktivitas nelayan tradisional di sepanjang sungai Musi, juga kapal-kapal besar milik Pertamina dan Pusri.

Saya beruntung bisa menyaksikan pulau Kemaro meski dari jarak cukup jauh. Pulau ini merupakan daratan berpenghuni di tengah-tengah sungai Musi. Di tepi pulau terdapat pagoda dan rumah ibadah bernama Hok Tjing Rio. Di pulau ini terjadi kisah tragis Romeo dan Juliet ala Palembang bernama Tan Bun An dari Tiongkok dan Siti Fatimah gadis asli Palembang. Cerita lengkap pulau Kemaro bisa dibaca di sini.

1-DSC05800
pulau Kemaro 

Sarana hiburan di dalam kapal disediakan tv plasma yang menampilkan film Barat. Saya sedang tidak ingin menonton film. Dalam buaian ombak, saya tertidur.

Saya terbangun saat kapal berayun lebih cepat. Sepertinya saya tiba di Sungsang, daerah perairan terakhir di pulau Sumatera sebelum masuk ke selat Bangka. Rumah-rumah penduduk sudah tidak tampak lagi. Gantinya adalah pepohonan bakau berwarna hijau. Burung-burung terbang di antara pepohonan.

1-DSC05808

Memasuki perairan selat Bangka, air tak lagi berwarna cokelat melainkan biru. Kapal saya meninggalkan pulau Sumatera menuju pulau Bangka.

Jam 9 pagi, sejauh mata memandang, hanya tampak langit yang sedang kelabu dan air laut berwarna biru keabu-abuan. Kapal berlari cepat meninggalkan debur gelombang berwarna keputihan. Pulau Sumatra sudah tidak tampak di belakang saya.

Para penumpang bersiap-siap untuk turun begitu sebuah pulau dengan mercusuar berwarna merah-putih tampak di kejauhan. Inilah salah satu penanda pelabuhan Tanjung Kalian, kabupaten Bangka Barat, titik paling barat di provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Saya sudah tidak sabar untuk menginjakkan kaki di pasir putihnya dan menceburkan diri di air yang biru kehijauan.

Kapal sebentar lagi bersandar, para penumpang sepertinya tidak sabar untuk turun. Saya telah bersiap untuk menjelajahi pulau Bangka.

1-DSC05810

Iklan

30 comments

  1. Wih keren ya ke Bangka naik kapal, rasa-rasanya pengin coba. Tapi, ya, kapan nyampainya kalau dari Surabaya ke Bangka naik kapal. Salam kenal, mas. Saya blogger dari Malang 🙂

    Rencana waktu dekat saya mau ke Palembang nih, mas Avant di Palembang kah?

  2. saya penasaran kebapa perairan yg tampak di palembang kecoklatan.
    dan juga tiket penyebrangan ke unthok itu tarifnya berapa..belum disebutkan kayaknya hehe
    eh iya..koreksi url blog saya yg ini (teamtouring.net) yg satunya lagi diistirahatkan (ga diupdate) hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s