Banka Trip (3) : Serelo

 ….

 

Saya dijemput Lambang, kawan saya di simpang KFC. Sebelum kami menuju rumah Lambang, saya mengisi perut karena sepanjang perjalanan dari Bangko menuju Lubuk Linggau saya belum sempat makan berat. Di sebuah warung kaki lima, saya bertemu dengan teman-teman kantor Lambang. Sambil menunggu pesanan datang, saya mengobrol. Tak perlu waktu lama, sepiring nasi goreng panas tandas ke perut.
Pagi hari, Lambang bangun pagi lantas bersiap-siap untuk menghadiri pernikahan kawannya. Saya pergi sarapan di sebuah kedai sederhana di dekat rumah Lambang. Saya pesan lontong sayur. Berbeda dengan lontong di Bangko, lontong di Lubuk Linggau menggunakan kuah kuning seperti opor. Ketika menikmati sarapan, datang seorang perempuan muda menggendong bakul dari bambu menawarkan durian. Uniknya, tali gendongan ia sematkan di kepala. Mirip noken di Papua. Saya sedang tidak berminat membeli durian. Ia berlalu. 
Habis sarapan saya diantar Lambang menuju stasiun Lubuk Linggau. Ini akan menjadi pengalaman pertama saya naik kereta api di kawasan Sumatera bagian selatan.
Kami melewati masjid agung dan Museum Subkoss Garuda. Museum sederhana ini saya lewatkan begitu saja. Semoga bisa berkunjung kesana suatu saat nanti. Terimakasih Lambang sudah mengantar saya!
Tiba di pelataran stasiun, puluhan calon penumpang antri masuk ke dalam peron. Sementara para pengantar tertahan di dekat loket. Suara pria-pria menawarkan travel jurusan Palembang terdengar riuh bersahutan. Berharap masih ada rezeki dari calon penumpang yang tidak mendapat tiket. Kereta Serelo saya sudah menunggu untuk diberangkatkan. Setelah melaporkan tiket ke petugas, saya naik ke rangkaian kereta. 
1-DSC05716
Stasiun Lubuk Linggau dibangun pada tahun 1933. Memiliki ketinggian 130 mdpl. Menghubungkan Lubuk Linggau di ujung barat Sumatera Selatan dan Palembang. Di kota Prabumulih, jalur ini bercabang dua. Satu jalur menuju Palembang, jalur lainnya menuju Bandar Lampung. Jalur kereta api ini adalah jalur termuda di Sumatera yang dibangun pada tahun 1911 setelah Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), dan Sumatera Barat (1891).
1-DSC05712
Serelo, kereta ekonomi yang saya naiki mulai berjalan meninggalkan stasiun. Di depan saya duduk seorang ibu paruh baya. Ia akan turun di Tebing Tinggi, ibukota Empat Lawang, kabupaten baru pemecahan dari Lahat. Tidak ada perbedaan antara kereta ekonomi di Sumatera dengan Jawa. Baik pelayanan di kereta, interior kereta dan menu makanan yang ditawarkan. Bedanya, hampir semua orang berbicara dengan bahasa Melayu dialek Palembang. Sekilas mirip bahasa Minang, tetapi berbeda intonasi.
Ketika petugas pemeriksa tiket datang menghampiri penumpang, dua orang petugas keamanan meminta penumpang untuk menutup jendela dengan tirai. Supaya mencegah tindakan pelemparan kaca kabarnya.
Setelah melewati perkebunan karet dan sawit, kami tiba di stasiun Kotapadang. Merupakan satu-satunya stasiun kereta api di kabupaten Rejang Lebong. Bahkan di provinsi Bengkulu. Stasiun selanjutnya yaitu Muara Saling masuk ke wilayah kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan.
1-DSC05725
stasiun Kotapadang
Antara stasiun Muara Saling dengan Tebing Tinggi terdapat sebuah terowongan sepanjang 424 meter. Terowongan berikutnya terdapat di ruas sebelum stasiun Lahat bernama terowongan Gunung Gajah atau Willem Synja Tunnel.
1-DSC05745
terowongan Gunung Gajah
Tiba juga di kota Lahat. Sebuah kota kecil dengan sebuah gunung berbentuk jempol yang diberi nama gunung Salero Serelo. Dari gunung ini nama kereta Serelo berasal. Gunung ini merupakan ikon kabupaten Lahat. Saya pernah berkunjung ke kota ini beberapa tahun lalu. 1-DSC057511-DSC07999gunung Serelo dan sungai Lematang
Jangan berharap menemukan pemandangan sawah, rumah penduduk, danau, atau rumah-rumah di sepanjang perjalanan ini. Nyatanya pemandangan dominan adalah perkebunan baik karet maupun sawit. Selebihnya adalah ladang-ladang warga dan rawa. Di stasiun Prabumulih, kereta kami berhenti sebentar menunggu kereta batubara yang akan melintas.

Dari Prabumulih ke Palembang, kiri dan kanan adalah rawa. Sekitar pukul lima sore, saya tiba di stasiun Kertapati. Artinya, kereta hanya terlambat dua puluh menit dari jadwal kedatangan semula 16.40. Sambil bersiap-siap turun, hati saya sudah tidak sabar datang dan melihat kembali kota ini. Palembang buat saya adalah kota yang bikin baper. Kenangan saat menempuh studi dan kota sejuta kenangan bersama mantan. Palembang, saya datang!

Sebagai stasiun besar, Kertapati memiliki 11 jalur dengan ruang tunggu cukup mewah. Stasiun ini merupakan stasiun satu-satunya di kota Palembang. Terletak di tepi sungai Musi dan Ogan.
1-DSC05762

Sambil menunggu kawan saya, Yayan, saya berkeliling seputar stasiun. Saya menemukan sebuah masjid tua yang bernama masjid Kiai Muara Ogan. Sesuai namanya, masjid ini memang berlokasi di muara Sungai Ogan yang merupakan anak sungai Musi. Masjid ini dibangun pada tahun 1871. Sayang, saya belum sempat masuk karena Yayan sudah datang menjemput saya.


1-DSC05774
 


 

Referensi : http://www.dardela.com/index.php?option=com_content&task=view&id=93&Itemid=9
https://id.wikipedia.org/wiki/Divisi_Regional_III_Palembang

Iklan

7 comments

  1. Saya belum perbah naik kereta api di Sumatera dan kayaknya asik juga ya, kalo di Jawa kanan kiri sawah. Saya punya keinginan pulang ke Jawa pake cara anti mainstream, naik kereta api. Lubuk Linggau – Palembang – Lampung trus sambung Damri ke Gambir hehehe… Tapi sendirian, kalo sama anak ya kasian dia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s