Banka Trip (1) : Teaser

Indonesia, negeri amat luas di Nusantara saat ini memiliki 34 provinsi. Dari jumlah itu, Sumatera merupakan pulau dengan jumlah provinsi terbanyak dengan jumlah 10 provinsi. 8 provinsi di pulau Sumatera dan 2 provinsi di lautan : Kepulauan Riau (Kepri) dan Kepulauan Bangka-Belitung (Babel).

Hampir 10 tahun tinggal di Sumatera nyatanya saya baru menjejakkan kaki di 8 provinsi selain Lampung dan Bangka-Belitung. Lampung tidak saya hitung karena hanya pernah singgah untuk beberapa saat tanpa menikmati wisata yang ada.

Nia dan Mamanya pulang ke Ambarawa saat libur panjang tahun baru Sincia menghadiri pernikahan saudara. Sementara saya memutuskan pergi solo traveling ke Bangka-Belitung, pulau timah di antara Sumatera dan Kalimantan.

Bangka dan Belitung, dua pulau penyusun provinsi kepulauan ini. Pulau Bangka terkenal dengan sejarah kolonial dan tempat pengasingan Bung Karno. Sementara Belitung populer dengan wisata pantai dan tempat lahir novel Laskar Pelangi. Bismillah, saya akan mengunjungi Bangka terlebih dulu, baru Belitung di kemudian hari.

Saya ingin mencoba berbagai moda transportasi menuju pulau Bangka.

Untitled1Peta Banka Trip
1-5 : pergi, 5-8 : pulang

Garis warna merah : transportasi darat (bus / travel)
Garis ganda warna hitam : kereta api
Garis warna biru : kapal laut
Garis warna biru putus-putus : pesawat udara 

Dari Bangko saya naik bus ke Lubuk Linggau. Setelah menginap semalaman di rumah Tommy, saya menjajal kereta api ekonomi menuju Palembang. Tidak seperti pemberitaan orang-orang, kereta api tiba pada waktunya. Hanya terlambat tiba dua puluh menit.

1-DSC05716Kereta ekonomi Serelo tujuan Stasiun Lubuk Linggau – Stasiun Kertapati Palembang

Di Palembang saya singgah di rumah Yayan. Keesokan paginya, kapal cepat Sumber Bangka mengantar saya menginjakkan kaki di provinsi ke-9 yang saya datangi di pulau Sumatera : Kepulauan Bangka-Belitung.

1-DSC05810

Mercusuar Tanjung Kalian, Muntok, Bangka Barat

Negeri Serumpun Sebalai, begitu provinsi baru ini menyebut dirinya. Hembusan angin pantai Tanjung Kalian menjadi penawar rindu saya yang sudah lama tak melihat laut dan pantai.

Muntok atau Mentok awalnya adalah ibukota Banka-Billiton Residentie pada masa kolonial. Deposit timah yang melimpah membuat Belanda tertarik menguasai Bangka. Menurut salah satu versi, kata Bangka berasal dari aksara Sansekerta vanka yang berarti timah. Di kota ini pula duo proklamator Soekarno-Hatta diasingkan. 

Sejak pusat pemerintahan dipindahkan ke Pangkal Pinang, kota ini menjadi senyap. Namun, di kota ini, saya merasakan aroma kemegahan gedung-gedung tua nan terawat cantik. Saya terperangkap nostalgia, enggan beranjak pulang rasanya. Di Muntok pula saya bertemu “malaikat-malaikat” tanpa sayap yang menemani perjalanan saya hingga saya merasa memiliki saudara dan sahabat, meski belum terlalu lama kenal.

1-DSC06028

Wisma Ranggam, tempat pengasingan Bung Karno di pulau Bangka pada tahun 1949.

1-DSC05976Museum Timah Muntok, bekas Kantor Pusat Banka Tin Winning

Dari Muntok yang mengesankan, perjalanan saya lanjutkan ke Pangkal Pinang, pusat pemerintahan provinsi kepulauan ini. Hujan deras menyambut ketika saya baru tiba di Taman Sari / Wilhelmina Park, ikon kota Pangkal Pinang. 1-DSC06102
Taman Sari / Wilhelmina Park

Pun hingga malam tahun baru Sincia, hujan tak kunjung reda. Tak banyak tempat di kota ini yang bisa saya jelajahi. “Imlek harus hujan, kalau tak hujan orang Tionghoa menangis semalaman,” begitu pameo yang pernah saya dengar. Namun, saya “beruntung” dengan hujan ini. Ibarat sebuah pertanda agar saya datang lagi ke kota ini.

Keesokan harinya saya harus menyampaikan salam perpisahan kepada pulau Bangka. Saya naik pesawat dari Pangkal Pinang tujuan Jambi lewat Palembang. Ini baru secuil cerita saya tentang Bangka ….

Iklan

6 comments

  1. Wow, great! Saya baru tahu lho ada pemeo yang mengatakan “Imlek harus hujan, kalau tak hujan orang Tionghoa menangis semalaman.” Pantas saja setiap kali Imlek tiba, hujan pasti turun. Hujan memang pertanda rizki. Wajar kalau orang Tionghoa nangis seumpama Imlek hujan gak turun.
    Kang asyik ya punya banyak teman di mana-mana, bisa singgah. Oh ya ‘malaikat-malaikat tanpa sayap’-nya belum diceritakan. Siapakah mereka?
    Semoga peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada di sana senantiasa terawat dan terpelihara dengan sangat baik. Ceritanya masih lanjut kan? Gak sabar baca cerita selengkapnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s