Review : Film My Stupid Boss

Ibarat buah, film Indonesia ada musimnya. Saat Ada Apa dengan Cinta meledak di pasaran, banyak produser membaut film bertema remaja. Pun ketika Jelangkung sukses membuat bulu kuduk penonton berdiri, puluhan bahkan ratusan film horor dibuat. Semua nama hantu lokal diabsen satu-satu mulai dari pocong ngesot, kuntilanak kesurupan, suster keramas dan lain-lain.

Di tahun 2016 ini tren film Indonesia adalah film yang berlokasi di luar negeri. Kebetulan semua film yang saya tonton tahun ini adalah film Indonesia.

Surat dari Praha adalah film yang pertama saya tonton. Ceritanya tentang Laras (Julie Estelle) yang mendapat misi mengantarkan surat penuh teka teki dari Sulastri, almarhum ibunya (Widyawati) untuk seseorang bernama Jaya yang bermukim nun jauh di Praha, kota cantik ibukota Ceko. Tak seperti film-film kebanyakan yang hanya menyorot sisi indah suatu kota, Surat dari Praha justru merekam sudut-sudut kehidupan jalanan khas Eropa Timur yang muram. 

Wa’alaikumussalam Paris menjadi film kedua. Saya tonton bareng mamanya Nia karena tidak ada film lain yang bagus saat itu. Bergenre komedi romantis, dibintangi oleh Velove Vexia (Itje) dan Nino Fernandez (Clement). Berkisah tentang kehidupan kocak pernikahan Itje, gadis asal Sunda yang menikah dengan Clement, bule mualaf yang tinggal di pinggiran kota Bordeaux, Prancis. Dari segi artistik dan penyutradaraan, saya jatuh cinta dengan film ini. Akting Velove Vexia dan Nino Fernandez juga “kawin” di film ini.

Seperti ikut arus, sekuel film bernuansa lokal semacam Ada Apa dengan Cinta? pun selain mengambil lokasi di Yogyakarta juga merekam sudut-sudut keindahan kota New York.

Film keempat yang saya tonton yakni My Stupid Boss. Awalnya mama Nia yang pengen nonton, sementara saya mah ogah. Sepertinya jelek gitu ceritanya. Namun, karena saya bapak dan suami yang baik hati ya saya temani juga akhirnya #kibasponi.

aidakikeyblogspotcoidPoster My Stupid Boss versi bioskop di Malaysia

Sukses bermain sebagai pasangan romantis di film Habibie & Ainun, Bunga Citra Lestari kembali bermain dengan Reza Rahadian. Kali ini mereka beradu peran bukan sebagai suami istri, tetapi sebagai atasan dan bawahan.

Diana (Bunga Citra Lestari) tinggal di Malaysia mengikuti suaminya (Alex Abbad) yang bekerja di sebuah perusahaan. Petaka dimulai ketika Diana (selanjutnya dipanggil Kerani) diterima bekerja di sebuah perusahaan yang dimiliki oleh Bossman (Reza Rahadian). Bekerja di negeri orang dengan boss yang sama-sama orang Indonesia, justru membuat Diana terjebak dalam konflik yang pelik, tetapi kocak dengan sang boss. Terlebih lagi, Bossman tidak memiliki sistem kerja yang jelas dalam perusahaannya. Membuat Diana sempat stres menghadapi atasannya. Kerap kali Diana senewen menghadapi Bossman yang gaptek, pelupa, arogan dan tidak mau disalahkan. Puncak kekesalan Diana ketika ia dituduh menggelapkan sejumlah uang perusahaan oleh Bossman. 

8

Diana dan rekan-rekan kerjanya

Tak diragukan lagi akting Reza Rahadian di film ini seperti pengulangan film-film sebelumnya : bagus! Pun dengan Bunga Citra Lestari. Sayang, akting Alex Abbad di film terasa kurang maksimal. Penampilan bagus datang dari artis-artis Malaysia yang berperan sebagai rekan kerja Diana. Sayang, ending film ini terasa agak aneh untuk saya. Agak mengingatkan pada ending film Ketika Cinta Bertasbih yang pakai sambungan. Agak terlalu dipaksakan juga hehe. Penulisan subtitle pun terasa ribet karena mencantumkan nama bahasa yang diucapkan.

Film ini diceritakan mengambil lokasi di Kuala Lumpur, Malaysia. Meski syuting dalam ruangan sebenarnya mengambil lokasi di Jakarta dalam sebuah studio. Sudut-sudut jalanan kota Kuala Lumpur direkam dengan apik oleh Upi, sang sutradara. Saya ikut merasakan bagaimana kehidupan masyarakat Indonesia di luar negeri, khususnya Kuala Lumpur. Artistik film yang menggunakan warna-warna cerah nan berani semakin membuat film ini asyik untuk dinikmati. Secara keseluruhan, film ini sangat pantas untuk ditonton dan cukup menghibur.

Iklan

35 comments

  1. ahh sayang banget ya saya belum sempat nonton film my stupid boss padahal terlihat seru apalagi setelah melihat akting reza rahardian yang selalu maksimal dan bagus, begitu pun dengan bunga citra lestari, rasanya mereka berdua itu cocok banget jadi pasangan di setiap film.. hhe

  2. Duh, telat comment-nya. Ini film yang saya & mama pengen banget nonton. Tapi ya gitu, nasib di daerah saya gak ada bioskop. Haha… 😀

    • haha.. sama aja sih, disini 6 jam perjalanan ke bioskop terdekat 🙂 tunggu taun baru, lebaran atau musim liburan 🙂 biasanya nanti di tv suka ada film2 baru kang

  3. senada dengan Gara.. saya akhirnya belum nonton film ini mas, takut kurang lucu buat saya. kalau baca bukunya sih bos-nya bikin gemes banget ya. liat trailer film-nya sendiri menurut saya kok masih kurang menggoda untuk nonton. hehehehe…

  4. aku baru tau loh ada film yang judulnya waalaikum salam Paris…heheh

    tapi film my studpid boss emang kocak… apalagi bukunya, aku baca semua bukunya, pas baca di trans jakarta udah kaya orang gila ketawa sendiri pas baca, hahaha…

  5. Aku punya bukunya tiga seri muahahaha kocak abis pokoknya. Makanya sampek skrg aku belum nonton filmnya, takut ga sekocak bukunya *alesan ini mah bilang aja bokek :p. Anyhoo Diana itu dipanggil Kerani karena dia sekretaris. Kalau ga salah Kerani dalam bahasa malay artinya sekretaris, gitu ya? 😊

  6. Kemarin sempat nonton sih,
    cuma saya kurang fokus pengaruh ngantuk di bioskop abis ambil yang midnight.

    Duh, film indonesia yang saya mau nonton itu malah Surat dari Praha, tapi pas mau nonton filmnya udah gak tayang lagi.

  7. Saya baca versi bukunya film ini sewaktu zaman kuliah dan konyol ndableg-nya si Bossman memang bikin pengen lempar stapler! Cuma saya agak underestimate sih dengan filmnya, dan kurang berani nonton karena takut kecewa beda jauh dengan bukunya. Makanya sampai sekarang belum nonton :haha. Biarlah apa yang ada dalam novel tetap menjadi novel, usah divisualkan dalam bentuk film karena imajinasi orang beda-beda. Peace…

    • saya malah baru tau ada novel ini #kuper haha
      setuju gara, film terbaik adalah film dalam imajinasi masing2 pembaca, harry potter aja pas difilmin gitu kok, ada beberapa bagian yg kurang 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s