Antara Jam Gadang dan Scam

Buat saya tak lengkap rasanya berkunjung ke suatu kota tanpa menengok ikon kota tersebut. Meski saya telah berkunjung ke Jam Gadang di Bukittinggi, selalu ada rasa penasaran menengok ikon kota Bukittinggi tersebut. Disebut jam Gadang yang artinya jam besar bukan karena di atap menara dibangun atap rumah gadang. Melainkan karena dalam bahasa Minangkabau, gadang artinya besar. 

1-2014-10-18 11.48.58 - Copy

jam Gadang dan boneka karakter

Jam Gadang berlokasi di pusat kota Bukittinggi. Di samping jam Gadang terdapat Ramayana yang merupakan satu-satunya pusat perbelanjaan modern di kota ini. Oleh-oleh souvenir dan makanan kecil tersedia di Pasar Atas. Yang biasa dicari wisatawan biasanya miniatur rumah gadang dan keripik sanjai (balado). Di bawah Pasar Atas terdapat anak tangga ikonik yang bernama Janjang Ampek Puluah (40)

1-2014-10-18 11.30.341-2014-10-18 11.30.04

janjang 40 dihitung dari anak tangga puncak hingga anak tangga curam paling bawah

1-2014-10-18 11.30.56 salon dengan boneka spooky

1-2014-10-18 11.28.54masjid beratap runcing khas Minang

Jam Serba 6
Dibangun tahun 1926, jam gadang merupakan sebuah menara putih yang memiliki tinggi 26 meter. Terdiri dari 6 tingkat. Tingkat satu dan dua berupa pondasi dan anak tangga, tingkat selanjutnya merupakan badan menara. Uniknya, peletakan batu pertama pembangunan jam Gadang dilakukan oleh anak Rook Maker yang merupakan putra walikota Bukittinggi saat itu yang berumur 6 tahun. Selain itu, keunikan jam ini ada pada angka 4 Romawi pada jam yang ditulis dengan “IIII” bukan “IV”.

Jam gadang memiliki 4 buah jam dinding yang dibuat tahun 1892 oleh Benhard Vortmann dari Jerman. Mesin Jam Gadang hanya dibuat 2 unit di dunia : jam Gadang itu sendiri dan jam Big Ben di London, Inggris. Arsitek jam Gadang adalah pribumi bernama Yazid Rajo Mangkuto dan Sutan Gigi Ameh. Konon jam Gadang dibangun tanpa menggunakan rangka besi dan semen. Hanya menggunakan campuran kapur, putih telur, dan pasir putih.

Scam di Jam Gadang

Scam alias aksi tipu-tipu sejatinya awam terjadi di kawasan wisata, tidak terkecuali di Bukittinggi. Ini beberapa modus yang pernah saya alami dan sering saya dengar :

1. Badut di kawasan jam Gadang
Biasanya mereka akan nyelonong ikut berfoto saat kamu lagi asyik foto di jam Gadang, baik selfie, wefie atau foto sendiri. Mereka yang saya maksud adalah sekawanan orang berkostum karakter seperti Marsha and the Bear, Winnie the Pooh dan lain-lain. Mereka memaksa pengunjung untuk membayar karena menganggap mereka ada di foto. Saya pernah menjumpai para badut ini di jam Gadang. Cukup abaikan dengan mengatakan bahwa kamu tidak ingin berfoto dengan mereka. 

2. Parkir
Sebagai kota wisata, lahan parkir di Bukittinggi tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang masuk ke kota ini. Tarif parkir di Bukittinggi akan gila-gilaan, terutama pada akhir pekan dan hari libur. Sebuah mobil kata teman saya bisa “dipalak” 20rb sekali parkir!

3. Bendi
Bendi adalah kereta kuda berpenumpang di sana. Kalau mau naik bendi, tanyakan dulu ongkosnya sebelum naik. Kalau tidak, bisa digetok puluhan ribu hanya untuk berkeliling jam Gadang.

Referensi : https://id.wikipedia.org/wiki/Jam_Gadang 

Iklan

4 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s