Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta

Saya sedikit kecewa tatkala berkunjung ke kota dingin Bukittinggi enam tahun yang lalu. Saya belum sempat menengok rumah kelahiran Bung Hatta, pahlawan kebanggaan Indonesia kelahiran kota ini. Keinginan berkunjung ke Bukittinggi semakin menggebu saat saya tinggal di Jakarta. Dari Bintaro ke Blok M saya selalu melewati makam beliau di Tanah Kusir. Dari balik jendela Metromini, saya hanya bisa memperhatikan makamnya yang berbentuk rumah gadang khas Minang.  Tak jua saya sempat berziarah ke makamnya. Tahun 2014 saya sempatkan melongok rumah sang proklamator.

Dari Jam Gadang, rumah Bung Hatta bisa disambangi dengan berjalan kaki melewati janjang Ampek Puluah yang menghubungkan Pasar Atas dengan Pasar Bawah. Tepatnya di jalan Soekarno-Hatta No. 37 Bukittinggi. Di ruas jalan yang menghubungkan kota Bukittinggi dengan Payakumbuh.

1-2014-10-18 11.16.43

Tak nampak atap bagonjong runcing ala Minang di rumah beliau. Modelnya sendiri minimalis sederhana tanpa banyak ukiran.

Nia tertidur dalam gendongan. Saya dan istri berjalan perlahan memasuki pekarangan rumah yang dihiasi berbagai macam tanaman hias. Selepas melepas alas kaki dan menulis buku tamu, kami mulai berkeliling rumah istimewa ini. Rumah ini dibangun pada abad ke-19. Awalnya merupakan kepunyaan Aminah, nenek bung Hatta dari pihak ibu. Bung Hatta lahir sebagai bungsu dari dua bersaudara. Tinggal di rumah ini dari tahun 1902 hingga 1913. Sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan menengah pertama di Padang. Rumah Bung Hatta ini sempat telantar hingga akhirnya dipugar oleh Pemko Bukittinggi dan Yayasan Universitas Bung Hatta dan dijadikan sebuah museum tahun 1995. Demi pembangunan jalan di depan, rumah ini terpaksa digeser beberapa meter ke belakang. Akibatnya, sebuah sumur tua yang awalnya berada di halaman, sekarang masuk ke dalam rumah.

Bung Hatta tinggal bersama keluarga besar neneknya di rumah itu. Berbagai perabot rumah tangga di rumah ini konon masih asli. Selain keluarga bung Hatta, tinggal mamak Saleh dan mamak Idris, paman bang Hatta. Sebuah ruangan di ujung depan rumah merupakan perpustakaan pribadi bung Hatta. Sejak kecil ia gemar mengaji dan membaca. Menjadikannya salah satu tokok terbesar negeri ini. Digelari Bapak Koperasi Indonesia, menjadi proklamator kemerdekaan dan wakil presiden pertama.

Di ruang tamu dipajang foto-foto Bung Hatta dan keluarganya, sejak ia kecil, dewasa hingga meninggal. Sebuah foto menunjukkan saat Bung Hatta dianugerahi gelar adat Datuk Suri Dirajo.

Berasal dari keluarga berada tidak menjadikan Bung Hatta jumawa. Ia tetap hidup dalam kesederhanaan. Saya ingat sebuah kisah pernikahan beliau. Memilih membujang dan akhirnya menikahi Rachmi Rahim setelah Indonesia merdeka. Dari pernikahannya dikaruniai tiga putri :  Meutia Farida, Gemala Rabi’ah dan Halida Nuriyah. Ia penganut monogami.

Sebuah cerita lain adalah tentang sepatu. Dimana ia lebih memilih untuk mementingkan kebutuhan keluarga daripada kepentingan pribadi. Terlalu sibuk dengan rakyat, sampai akhir hayat ia belum sempat membeli sepatu kesayangannya. Ia simpan potongan iklan sepatu di buku hariannya. Tak mau berpisah dengan rakyat, ia memilih dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum, bukan di makam pahlawan.

1-2014-10-18 10.44.12

kiri-kanan searah jarum jam : sepeda dan kamar bung Hatta, kereta kuda, dapur kuno

Kamar Bung Hatta sendiri terletak di belakang rumah. Tepatnya di samping dapur dan kamar mandi. Sebuah sepeda tua kepunyaan Hatta kecil turut dipamerkan. Sebuah foto hitam putih di atas ranjang menampilkan sosok Hatta kecil sedang pergi ke sekolah naik kereta kuda. Kuda-kuda tersebut kini tentu saja telah tiada. Namun, kereta kuda saksi sejarah itu masih bisa dijumpai di samping dapur. Masih di halaman belakang, terdapat dua buah lumbung padi kepunyaan paman bung Hatta. Tungku dapur dengan berbagai peralatan masak tempo doeloe dipajang sesuai keadaan aslinya.

1-2014-10-18 10.53.30

Dari lantai satu, kami beranjak ke lantai dua lewat ruang makan. Saya sempatkan berfoto di jendela kayu bersanding kontras dengan dinding berbalut anyaman bambu. Sebagaimana lantai satu, di lantai dua masih bisa dijumpai ruang tamu keluarga.

2014-10-18 10.44.145

Kamar tidur utama dimana bung Hatta dilahirkan terletak di samping ruang keluarga. Di dalamnya terdapat sebuah ranjang besi dengan kain seprei putih, lemari tua dan kaca antik.

Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta
Jalan Soekarno-Hatta No. 37 Bukittinggi, Sumatera Barat
Buka setiap hari jam 8.00-16.00
HTM : Gratis, tetapi donasi sekedarnya diharapkan

 

Iklan

18 comments

  1. Tak bosan membaca kunjungan RKBH di blog para sahabat. Hai Nia dan bunda, kita punya foto senada di jendela dan kaca antik, nampaknya spot foto kesukaan pengunjung. Salam

  2. rumah ini asri banget ya, aku sukaaa..
    meski tak bagonjong tapi pakem rumah gadang tetap dipakai ya, dinding bagian depan dari papan, dinding belakang dari anyaman bambu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s